إِذَا دَخَلَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ وَسُلْسِلَتْ الشَّيَاطِينُ. (صحيح البخاري ٣٠٣٥, صحيح مسلم ١٧٩٣, سنن النسائي ٢٠٧٢, مسند أحمد ٧٤٥٠, سنن الدارمي ١٧١٠, موطأ مالك ٦٠٤)
“Apabila datang bulan
Ramadlan pintu-pintu surga dibuka sedang pintu-pintu neraka ditutup dan
syaitan-syaitan dibelenggu.” (Shahih Bukhari 3035, Shahih Muslim 1793, Sunan
Nasa'i 2072, Musnad Ahmad 7450, Sunan Addarimi
1710, Muwatha Malik 604).
Dalam hadits di atas
disebutkan bahwa pintu-pintu surga di buka, pintu-pintu neraka ditutup dan
setan dibelenggu. Ini menandakan bahwa pada bulan Ramadhan diberikan keberkahan
yang luar biasa. Sebab, pintu surga dibuka dan pintu neraka ditutup. Hal ini
tidak berlaku pada bulan-bulan lainnya selama se tahun. Bulan Ramadhan
merupakan bulan yang istemewa yang harus dimanfaatkan sebaik mungkin agar bisa
menggapai keberkahan bulan itu.
Bulan Ramadhan dimanfaatkan
umat islam untuk memperbanyak ibadah sunnah. Seperti tadarus al-qur’an, shalat
tarawih dan tahajud, shalat dhuha, sedekah, dzikir, i’tikaf, dan lain-lain. Sehingga
masjid dan mushalla tidak sepi setiap hari dan malamnya. Umat islam
berlomba-lomba berbuat kebaikan, sehingga jarang sekali kita mendengar ada
kejahatan di bulan Ramadhan. Hal ini sesuai dengan hadits Nabi di atas, yang
menyatakan pintu surga di buka dan pintu neraka di tutup serta setan-setan
dibelenggu. Banyaknya kebaikan yang dilakukan sehingga hampir menghilangkan
kejahatan yang dilakukan saat berpuasa. Apalagi setan-setan selama Ramadhan
dibelenggu, sehingga godaan-godaan setan mungkin saja berkurang atau bahkan
tidak ada sama sekali. Dengan dibelenggunya setan, seharusnya kejahatan tidak
ada lagi atau paling tidak berkurang. Karena, pada bulan Ramadhan mereka
dibelenggu atau dikurung. Artnya, selama Ramadhan setan tidak bisa lagi
menggoda manusia untuk berbuat jahat. Seharusnya seperti itu. Akan tetapi,
kalau kita lihat faktanya, masih banyak kejahatan dan kemaksiatan yang terjadi
pada bulan Ramadhan. Seperti mabuk-mabukan, zina, penipuan, pencurian,
perampokan, perkelahian, pembunuhan dan lain-lain. Ada yang pesta minuman
keras, mengonsumsi narkoba, selingkuh yang berujung kepada zina. Klub malam
masih banyak yang buka, prostitusi juga masih marak, dan sebagainya. Apakah ada
yang salah dengan hadis itu???.
Sebenarnya tidak ada yang
salah dari hadits itu. Haditsnya shahih dan tidak diragukan lagi. Yang salah
bukan haditsnya, akan tetapi pemahaman kita terhadap hadis itu yang kurang pas.
Kebanyakan orang memahami hadis itu secara tekstual. Menganggap pintu surga
benar-benar terbuka, pintu neraka benar-benar ditutup dan setan di pasung.
Sehingga tidak bisa lagi menggoda manusia. Dari pemahaman secara teks ini maka
berkembang pemahaman bahwa kejahatan dan maksiat tidak ada lagi. Kemudian ada
yang menambahkan, walaupun setan telah dipasung akan tetapi manusia memiliki
hawa nafsu sehingga kejahatan dan maksiat tetap ada pada bulan Ramadhan.
Semua manusia memiliki hawa
nafsu. Inilah yang membuat manusia bisa berbuat jahat dan maksiat. Hawa nafsu
mendorong manusia untuk berbuat yang berlebih-lebihan. Manusia memiliki
kesenangan dan kenikmatan dalam hidupnya. Semua manusia menginginkannya dalam
kehidupan ini. Kenikmatan dan kesenangan itu akan menimbulkan rasa nyaman dan
Bahagia. Hawa nafsu selalu mendorong agar selalu mendapatkan kenikmatan dan
kesenangan itu. Hal inilah yang membuat seseorang tidak puas ketika mendapatkan
sesuatu. Dan mendorongnya berbuat apapun untuk mendapatkan kesenangan dan kenikmatan
itu. Walaupun dengan jalan yang dilarang oleh agama. Ia tidak peduli walaupun
melanggar atau menabrak aturan agama, yang penting ia senang dan nyaman. Orang seperti
inilah yang menuruti dorongan hawa nafsunya. Orang yang mengikuti Hawa nafsunya
akan menyebabkan dia tersesat dari jalan Allah Swt. Yakni jalan kebaikan. Allah
Swt berfirman :
يَٰدَاوُۥدُ
إِنَّا جَعَلۡنَٰكَ خَلِيفَةٗ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَٱحۡكُم بَيۡنَ ٱلنَّاسِ بِٱلۡحَقِّ
وَلَا تَتَّبِعِ ٱلۡهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ
يَضِلُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ لَهُمۡ عَذَابٞ شَدِيدُۢ بِمَا نَسُواْ يَوۡمَ
ٱلۡحِسَابِ ٢٦
“Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.” (Qs. Shaad/38 : 26).
Untuk itulah, berpuasa
itu untuk mengendalikan diri dari dorongan-dorongan perilaku yang tidak baik
(Hawa Nafsu). Berpuasa itu bukan hanya menahan lapar dan dahaga. Tapi, dibalik menahan
lapar dan dahaga itu ada kendali untuk menahan dorongan godaan hawa nafsu. Ketika
lapar dan dahaga, orang cenderung bisa bersikap sabar dari keinginan yang
berlebih-lebihan. Jiwanya tercerahkan oleh puasanya. Sehingga dia bisa
mengendalikan keinginan-keinginan yang mendorongnya melakukan perbuatan yang
tidak baik. Dorongan untuk mencuri, berzina, menipu, berdusta, mabuk-mabukan, berkelahi,
apalagi mau melakukan kejahatan yang lebih besar seperti merampok dan membunuh.
Kesenangan dan kenikmatan sesaat yang diterimanya tidak menyebabkan dia lalai dari
mengingat Allah Swt. Karena dia sadar, bahwa orang yang takut akan kebesaran
Allah dan mampu menahan diri dari dorongan hawa nafsunya, maka surgalah sebagai
balasannya kelak. Wallahu a’lam…
وَأَمَّا
مَنۡ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ وَنَهَى ٱلنَّفۡسَ عَنِ ٱلۡهَوَىٰ ٤٠ فَإِنَّ
ٱلۡجَنَّةَ هِيَ ٱلۡمَأۡوَىٰ ٤١
“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (Qs. An Naazi´at/79: 40-41).
Paringin, 21 Februari 2026 M / 3 Ramadhan 1447 H


Tidak ada komentar:
Posting Komentar