MENYEBARLUASKAN KEBAIKAN

Web ini Kumpulan tulisan kajian keagamaan yang menarik berdasarkan Al Qur’an dan Hadits Nabi Saw. Selain tulisan, Web juga berisi berita menarik seputar Madrasah, Video Tiktok dan Youtube yang baik untuk ditonton. Ikuti terus kajiannya, jangan sampai terlewatkan. Baca semua tulisannya. Semoga mendapatkan kebaikan. Amin

Sabtu, 21 Februari 2026

Bulan Ramadhan Masih ada Kejahatan?

إِذَا دَخَلَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ وَسُلْسِلَتْ الشَّيَاطِينُ. (صحيح البخاري ٣٠٣٥, صحيح مسلم ١٧٩٣, سنن النسائي ٢٠٧٢, مسند أحمد ٧٤٥٠, سنن الدارمي ١٧١٠, موطأ مالك ٦٠٤)

“Apabila datang bulan Ramadlan pintu-pintu surga dibuka sedang pintu-pintu neraka ditutup dan syaitan-syaitan dibelenggu.” (Shahih Bukhari 3035, Shahih Muslim 1793, Sunan Nasa'i 2072, Musnad Ahmad 7450, Sunan Addarimi  1710, Muwatha Malik 604).

 

Dalam hadits di atas disebutkan bahwa pintu-pintu surga di buka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan dibelenggu. Ini menandakan bahwa pada bulan Ramadhan diberikan keberkahan yang luar biasa. Sebab, pintu surga dibuka dan pintu neraka ditutup. Hal ini tidak berlaku pada bulan-bulan lainnya selama se tahun. Bulan Ramadhan merupakan bulan yang istemewa yang harus dimanfaatkan sebaik mungkin agar bisa menggapai keberkahan bulan itu.

 

Bulan Ramadhan dimanfaatkan umat islam untuk memperbanyak ibadah sunnah. Seperti tadarus al-qur’an, shalat tarawih dan tahajud, shalat dhuha, sedekah, dzikir, i’tikaf, dan lain-lain. Sehingga masjid dan mushalla tidak sepi setiap hari dan malamnya. Umat islam berlomba-lomba berbuat kebaikan, sehingga jarang sekali kita mendengar ada kejahatan di bulan Ramadhan. Hal ini sesuai dengan hadits Nabi di atas, yang menyatakan pintu surga di buka dan pintu neraka di tutup serta setan-setan dibelenggu. Banyaknya kebaikan yang dilakukan sehingga hampir menghilangkan kejahatan yang dilakukan saat berpuasa. Apalagi setan-setan selama Ramadhan dibelenggu, sehingga godaan-godaan setan mungkin saja berkurang atau bahkan tidak ada sama sekali. Dengan dibelenggunya setan, seharusnya kejahatan tidak ada lagi atau paling tidak berkurang. Karena, pada bulan Ramadhan mereka dibelenggu atau dikurung. Artnya, selama Ramadhan setan tidak bisa lagi menggoda manusia untuk berbuat jahat. Seharusnya seperti itu. Akan tetapi, kalau kita lihat faktanya, masih banyak kejahatan dan kemaksiatan yang terjadi pada bulan Ramadhan. Seperti mabuk-mabukan, zina, penipuan, pencurian, perampokan, perkelahian, pembunuhan dan lain-lain. Ada yang pesta minuman keras, mengonsumsi narkoba, selingkuh yang berujung kepada zina. Klub malam masih banyak yang buka, prostitusi juga masih marak, dan sebagainya. Apakah ada yang salah dengan hadis itu???.

 

Sebenarnya tidak ada yang salah dari hadits itu. Haditsnya shahih dan tidak diragukan lagi. Yang salah bukan haditsnya, akan tetapi pemahaman kita terhadap hadis itu yang kurang pas. Kebanyakan orang memahami hadis itu secara tekstual. Menganggap pintu surga benar-benar terbuka, pintu neraka benar-benar ditutup dan setan di pasung. Sehingga tidak bisa lagi menggoda manusia. Dari pemahaman secara teks ini maka berkembang pemahaman bahwa kejahatan dan maksiat tidak ada lagi. Kemudian ada yang menambahkan, walaupun setan telah dipasung akan tetapi manusia memiliki hawa nafsu sehingga kejahatan dan maksiat tetap ada pada bulan Ramadhan.

 

Semua manusia memiliki hawa nafsu. Inilah yang membuat manusia bisa berbuat jahat dan maksiat. Hawa nafsu mendorong manusia untuk berbuat yang berlebih-lebihan. Manusia memiliki kesenangan dan kenikmatan dalam hidupnya. Semua manusia menginginkannya dalam kehidupan ini. Kenikmatan dan kesenangan itu akan menimbulkan rasa nyaman dan Bahagia. Hawa nafsu selalu mendorong agar selalu mendapatkan kenikmatan dan kesenangan itu. Hal inilah yang membuat seseorang tidak puas ketika mendapatkan sesuatu. Dan mendorongnya berbuat apapun untuk mendapatkan kesenangan dan kenikmatan itu. Walaupun dengan jalan yang dilarang oleh agama. Ia tidak peduli walaupun melanggar atau menabrak aturan agama, yang penting ia senang dan nyaman. Orang seperti inilah yang menuruti dorongan hawa nafsunya. Orang yang mengikuti Hawa nafsunya akan menyebabkan dia tersesat dari jalan Allah Swt. Yakni jalan kebaikan. Allah Swt berfirman :

يَٰدَاوُۥدُ إِنَّا جَعَلۡنَٰكَ خَلِيفَةٗ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَٱحۡكُم بَيۡنَ ٱلنَّاسِ بِٱلۡحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ ٱلۡهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَضِلُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ لَهُمۡ عَذَابٞ شَدِيدُۢ بِمَا نَسُواْ يَوۡمَ ٱلۡحِسَابِ ٢٦

“Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.” (Qs. Shaad/38 : 26). 

Untuk itulah, berpuasa itu untuk mengendalikan diri dari dorongan-dorongan perilaku yang tidak baik (Hawa Nafsu). Berpuasa itu bukan hanya menahan lapar dan dahaga. Tapi, dibalik menahan lapar dan dahaga itu ada kendali untuk menahan dorongan godaan hawa nafsu. Ketika lapar dan dahaga, orang cenderung bisa bersikap sabar dari keinginan yang berlebih-lebihan. Jiwanya tercerahkan oleh puasanya. Sehingga dia bisa mengendalikan keinginan-keinginan yang mendorongnya melakukan perbuatan yang tidak baik. Dorongan untuk mencuri, berzina, menipu, berdusta, mabuk-mabukan, berkelahi, apalagi mau melakukan kejahatan yang lebih besar seperti merampok dan membunuh. Kesenangan dan kenikmatan sesaat yang diterimanya tidak menyebabkan dia lalai dari mengingat Allah Swt. Karena dia sadar, bahwa orang yang takut akan kebesaran Allah dan mampu menahan diri dari dorongan hawa nafsunya, maka surgalah sebagai balasannya kelak. Wallahu a’lam…

وَأَمَّا مَنۡ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ وَنَهَى ٱلنَّفۡسَ عَنِ ٱلۡهَوَىٰ ٤٠  فَإِنَّ ٱلۡجَنَّةَ هِيَ ٱلۡمَأۡوَىٰ ٤١

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (Qs. An Naazi´at/79: 40-41). 


#Menyebarluaskan Kebaikan#
Paringin, 21 Februari 2026 M / 3 Ramadhan 1447 H

Tidak ada komentar:

Popular