MENYEBARLUASKAN KEBAIKAN

Web ini Kumpulan tulisan kajian keagamaan yang menarik berdasarkan Al Qur’an dan Hadits Nabi Saw. Selain tulisan, Web juga berisi berita menarik seputar Madrasah, Video Tiktok dan Youtube yang baik untuk ditonton. Ikuti terus kajiannya, jangan sampai terlewatkan. Baca semua tulisannya. Semoga mendapatkan kebaikan. Amin

Senin, 30 Maret 2026

Awali Kehadiran Pasca Lebaran, MAN 3 Balangan Gelar Upacara Bendera

Rabu, 18 Maret 2026

4 Cara Menjaga Ibadah Ramadhan Tetap Istiqamah

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Shalat Idul Fitri Yang Dirahmati Allah

Alhamdulillahi, di hari yang penuh kemuliaan ini. Setelah satu bulan penuh menjalani ibadah Ramadan, kini tibalah pada hari di mana kita tidak hanya kembali kepada kesucian diri, tetapi juga memperbaiki hubungan dengan sesama. Idul Fitri adalah momen untuk meraih kesempurnaan iman dan ketakwaan, dengan menjaga hati tetap bersih, memperbanyak amal saleh, dan menanamkan keikhlasan dalam setiap beramal serta terus istiqamah dalam kebaikan dan semakin mendekatkan diri kepada Allah Swt. 

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Shalat Idul Fitri Yang Dirahmati Allah

Bulan Ramadhan adalah bulan yang telah mendidik kita untuk lebih dekat kepada Allah dengan berbagai ibadah seperti puasa, shalat, sedekah, tilawah, dan amal kebajikan lainnya. Di bulan Ramadhan, berbagai ibadah terasa sangat ringan dilaksanakan karena dilakukan dengan keikhlasan dan berjamaah dengan penuh kebersamaan. Kita merasakan sendiri bagaimana kita mengalami lonjakan spiritual saat Ramadhan. Masjid penuh, Al-Qur'an lebih sering dibaca, doa-doa lebih khusyuk, semangat berbagi kepada sesama juga tinggi. Hal ini harus kita jaga dengan terus melakukan ikhtiar melalui peningkatan kekuatan untuk istiqamah dalam kebaikan setelah Ramadhan. 

Untuk menjaga ibadah Ramadhan tetap istiqamah dikerjakan ada empat hal yang bisa kita lakukan. Pertama, senantiasa menyadari keberadaan Allah swt yang mengetahui apa saja yang kita dilakukan sehari-hari. Kita harus sadar bahwa Allah yang menakdirkan semua kejadian yang terjadi di muka bumi ini. Tidak ada satupun kejadian di dunia ini yang luput dari pandangan dan kehendak-Nya, baik terlihat dalam bentuk tindakan ataupun terbersit dalam hati. Rasulullah bersabda: 

أَنْ تَعْبــُدَ اللَّهَ كَأَنَّــكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ  

“Engkau menyembah Allah seakan engkau melihat-Nya, bila engkau tak melihat-Nya maka sesungguhnya Allah melihatmu.” (Riwayat Imam Muslim). 

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Shalat Idul Fitri Yang Dirahmati Allah

Kedua kita menyadari bahwa Allah memiliki malaikat yang bertugas mencatat amal perbuatan kita. Ada dua malaikat yang membersamai kita dalam hidup ini, yaitu Malaikat Raqib dan Atid. Mereka akan mencatat amal baik dan buruk kita. Ketika kita melakukan ibadah dan kebaikan maka kita akan mendapatkan balasan pahala. Sebaliknya, jika kita berbuat jahat dan buruk maka kita akan mendapatkan balasan dan dosa di dunia maupun di akhirat. Allah berfirman:  

فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَه. وَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَّرَه.

“Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya. Siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya.” (Qs. Az-Zalzalah ayat 7). 

Ketiga, menyadari bahwa kehidupan di dunia ini memiliki batas yakni kematian. Ketika kematian sudah datang, maka tidak ada satupun makhluk di dunia ini yang sanggup untuk menolaknya. Canggihnya teknologi kedokteran pun tak akan sanggup untuk menghentikan takdir Allah berupa kematian. Ketika Allah berkehendak mencabut nyawa makhluknya, maka itu adalah kepastian yang tak bisa ditolak. Allah berfirman :

وَلِكُلِّ اُمَّةٍ اَجَلٌۚ فَاِذَا جَاۤءَ اَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً وَّلَا يَسْتَقْدِمُوْنَ  

“Setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Jika ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan sesaat pun dan tidak dapat (pula) meminta percepatan.” (Qs. Al-A'raf ayat 34). 

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Shalat Idul Fitri Yang Dirahmati Allah

Terakhir yang keempat, kita harus mengingat janji dan ancaman Allah swt berupa surga dan neraka. Dengan mengingat janji Allah berupa surganya, kita akan termotivasi untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah. Kemudian saat mengingat ancaman Allah berupa neraka, maka kita akan termotivasi untuk menjauhi segala yang dilarang oleh Allah swt.

Demikianlah empat upaya yang bisa kita lakukan untuk mempertahankan semangat ibadah yang telah tumbuh baik selama Ramadhan. Semoga kita diberikan umur panjang dan kesehatan untuk bisa menjaga ibadah kita terus meningkat setelah Ramadhan ini. Agar kita semua termasuk kedalam golongan orang-orang yang bertakwa. Amin ya rabbal alamin

Hari Kemenangan, Momentum Saling Memaafkan

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Shalat Idul Fitri Yang Dirahmati Allah

Alhamdulillahi, di hari yang penuh kemuliaan ini. Setelah satu bulan penuh menjalani ibadah Ramadan, kini tibalah pada hari di mana kita tidak hanya kembali kepada kesucian diri, tetapi juga memperbaiki hubungan dengan sesama. Idul Fitri adalah momen untuk meraih kesempurnaan iman dan ketakwaan. Idul Fitri merupakan momen untuk memperkokoh keimanan dengan menjaga hati tetap bersih, memperbanyak amal saleh, dan menanamkan keikhlasan dalam setiap beramal. Mari jadikan hari yang penuh berkah ini sebagai titik awal untuk terus istiqamah dalam kebaikan dan semakin mendekatkan diri kepada Allah Swt. 

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Shalat Idul Fitri Yang Dirahmati Allah

Ketakwaan yang telah kita bangun selama Ramadhan perlu dijaga, amal saleh yang telah kita lakukan perlu terus dilanjutkan, dan hati yang telah dibersihkan perlu tetap kita jaga. Inilah saatnya untuk semakin menguatkan hubungan dengan Allah dan menjalani hidup dengan keimanan yang lebih kokoh. Salah satunya adalah dengan memperbanyak membaca takbir dan menyucikan Allah di hari yang mulia ini. Allah Swt berfirman:

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ  

“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur,” (Qs Al-Baqarah: 185).   

Dalam ayat ini mengandung tiga pesan utama. Pertama, perintah untuk menjalankan puasa selama bulan Ramadan. Kedua, membaca takbir sebagai bentuk pengagungan kepada Allah setelah menuntaskan puasa sebulan penuh. Ketiga, menumbuhkan rasa syukur atas segala nikmat yang Allah anugerahkan.   

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Shalat Idul Fitri Yang Dirahmati Allah

Selain memperbanyak membaca takbir, salah satu ciri khas dari orang-orang yang bertakwa adalah saling memaafkan kesalahan. Kita sebagai orang yang beriman bisa memaafkan dengan ikhlas tanpa menyimpan dendam ketika orang lain berbuat salah. Allah berfirman:

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ  

“Yaitu, orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan,” (QS. Ali ‘Imran, [3]: 134).   

Ayat ini menggambarkan salah satu sifat mulia yang dimiliki oleh orang-orang bertakwa. Mereka tidak hanya menahan diri dari membalas keburukan dengan keburukan, tetapi juga memilih untuk memaafkan orang yang telah berbuat zalim kepadanya. Tidak ada lagi dendam atau kebencian yang tersisa di hati mereka terhadap siapa pun. 

Karenanya, mari kita sama-sama jadikan hari kemenangan ini sebagai momen untuk menghapus segala kesalahan dengan saling bermaaf-maafan. Bermaaf-maafan tidak hanya sekadar tradisi, namun juga wujud nyata dari kembalinya kita kepada fitrah sebagai manusia yang suci dari dendam dan prasangka buruk.  

Demikian khutbah hari raya Idul Fitri ini. Semoga bermanfaat dan membawa keberkahan kepada kita semua, serta menjadi penyebab diterimanya semua amal ibadah yang telah kita lakukan selama bulan Ramadhan.

Kamis, 12 Maret 2026

MAN 3 Balangan Gelar Rapat Bulanan : Poin Utama Penyusunan SKP 2026 dan Persiapan Libur Lebaran

Jumat, 06 Maret 2026

Pantang Kendur! Hari Kelima Ujian Madrasah Siswa MAN 3 Balangan Tetap Semangat

Kamis, 05 Maret 2026

Amalan Pertengahan Ramadhan


Hadirin Jamaah Jumat Rahimakumullah

Dalam kesempatan yang mulia ini marilah kita senantiasa saling mengingatkan untuk selalu meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Swt, dengan senantiasa melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi segala apa yang dilarang-Nya. 

Hadirin Jamaah Jumat Rahimakumullah

Saat ini kita telah memasuki 10 hari kedua di bulan Ramadhan. Tepatnya hari ke-16 Ramadhan. Artinya kita telah memasuki pertengahan puasa. Pada Masa pertengahan ini sering biasanya semangat beribadah mulai menurun, masjid dan mushalla jamaahnya mulai berkurang dibanding awal ramadhan. Padahal, pada saat ini pintu ampunan Allah SWT dibuka selebar-lebarnya bagi hamba-Nya 

Hadirin Jamaah Jumat Rahimakumullah

Untuk mendapatkan ampunan Allah Swt, ada beberapa amalan yang sangat dianjurkan untuk diperkuat dan diperbanyak pada pertengahan Ramadhan ini, 

1. Memperbanyak Istighfar dan Taubat

Amalan utama di 10 hari kedua adalah memperbanyak istighfar. Memohon ampunan tidak hanya dilakukan setelah shalat, tetapi di dilakukan setiap waktu senggang. Taubat yang sungguh-sungguh (taubatan nasuha) harus disertai janji untuk tidak melakukan perbuatan yang sama dan berusaha melakukan perbuatan baik. Agar taubat diterima Allah Swt.

2. Menjaga Shalat Berjamaah dan Shalat Sunnah

Jangan biarkan shaf di masjid mulai maju atau berkurang. Menjaga shalat fardu berjamaah dan menambahnya dengan shalat-shalat sunnah seperti Sunat Rawatib, Dhuha, serta Tahajud akan mempererat hubungan kita dengan Allah Swt.

3. Memperbanyak Sedekah

Ramadan adalah bulan kedermawanan. Sedekah tidak hanya membantu sesama yang membutuhkan, tetapi juga berfungsi sebagai penghapus dosa sebagaimana air memadamkan api.

4. Tadarus Al-Qur'an

Al-Qur'an diturunkan di bulan Ramadan. Perbanyak Membacanya, merenungi makna, dan mengamalkan isi Al-Qur'an adalah cahaya bagi hati.

5. Berdoa dengan Doa Maghfirah/Ampunan

Salah satu doa yang sangat dianjurkan untuk dipanjatkan pada 10 hari kedua Ramadan adalah: “Allahummaghfirli dzunubi ya robbal 'alamin.” (Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku, wahai Tuhan semesta alam). 

Hadirin Jamaah Jumat Rahimakumullah

Sepuluh hari kedua Ramadan adalah jembatan menuju sepuluh hari terakhir yang penuh kemuliaan (Lailatul Qadar). Tanpa ampunan di fase kedua, akan sulit bagi kita untuk meraih kemuliaan di fase penutup (akhir). Mari kita berlomba-lomba untuk meraih ampunan dari Allah Swt. Jangan sampai kesibukan-kesibukan pekerjaan dan lainnya melalaikan kita dari taubat kepada Allah Swt. Allah berfirman:

وَسَارِعُوٓاْ إِلَىٰ مَغۡفِرَةٖ مِّن رَّبِّكُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ أُعِدَّتۡ لِلۡمُتَّقِينَ ١٣٣

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (Qs. ‘Ali Imran : 133). 

Mari kita jadikan setiap detik di bulan ramadhan ini untuk bersimpuh dan bersujud di hadapan Allah, mengakui segala khilaf, dan memohon agar nama kita tercatat sebagai golongan orang-orang yang beruntung yang mendapatkan ampunan-Nya. Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita dan mempertemukan kita dengan hari kemenangan dalam keadaan suci dari dosa. Amin ya Rabbal Alamin.

Rabu, 04 Maret 2026

Guru Masrul: Berdakwah Lewat Tulisan, Terbitkan Buku Menuai Buah Kebaikan


PARINGIN - Aktivitas dakwah sudah lama menjadi bagian dari keseharian Masroliyan Nor. Selain mengajar dan memimpin madrasah, ia kerap menyampaikan pesan-pesan keislaman di tengah masyarakat. Baik melalui forum pengajian maupun mimbar khotbah.

Seiring bertambahnya tanggung jawab, ia memilih jalan lain agar dakwah tetap berjalan, yakni melalui tulisan. Masroliyan Nor saat ini menjabat Kepala MAN 3 Balangan. Di tengah aktivitasnya sebagai pendidik, peran sebagai penceramah dan pendakwah tetap ia jalani.

Di kalangan jemaah, ia dikenal dengan sapaan 'Guru Masrul'. Namun, keterbatasan waktu membuatnya tidak selalu bisa hadir di banyak undangan dakwah. “Setiap orang punya cara dakwah masing-masing. Ada yang lisan, ada yang tulisan. Karena kesibukan, saya memilih menulis, kecuali khotbah Jumat,” ujarnya.

Pilihan tersebut ia jalani secara konsisten. Menulis menjadi caranya menjaga dakwah tetap berjalan. Dari kebiasaan itu, sebagian tulisannya kemudian dihimpun dalam buku Menuai Buah Kebaikan, yang ia niatkan sebagai amal jariah.

Kebiasaan menulis itu telah ia jalani sejak 2010. Pada masa itu, Guru Masrul rutin mengirimkan tulisan ke salah satu harian di Kalsel yang membuka rubrik kritik dan masukan terhadap kebijakan pemerintah. Momen itu menjadi awal keterampilannya menyampaikan gagasan secara tertulis. Hampir setiap bulan, tulisannya dimuat di koran.

Kesadaran menulis sebagai medium dakwah semakin kuat sejak 2018, ketika ia dimutasi dari MTs Darul Istiqomah ke MAN 2 Balangan. Sejak saat itu, menulis tidak lagi sekadar kebiasaan, tetapi diniatkan sebagai bagian dari aktivitas dakwah yang terus ia jaga. “Saya niatkan menulis setiap hari, meski sekarang intensitasnya sudah berkurang,” katanya.

Tulisan-tulisan Guru Masrul tersebar di berbagai platform digital dan dapat dibaca oleh masyarakat luas. Ia mengaku tidak mempermasalahkan jika tulisannya dikutip, disadur, atau digunakan ulang oleh pihak lain. “Selama niatnya untuk kebaikan umat, saya ikhlaskan. Bagi saya itu tetap ibadah,” ucapnya.

Dorongan berdakwah melalui tulisan tidak terlepas dari pengalaman pendidikannya. Saat menempuh studi di UIN Antasari, Guru Masrul mengikuti pendidikan kader dakwah praktis yang dipimpin KH Ilham Masykuri Hamdi, akademisi yang juga pernah berkiprah sebagai wartawan. Dari lingkungan tersebut, ia mendapatkan dorongan untuk berdakwah secara kontekstual dan menuangkan gagasan melalui tulisan.

Tulisan-tulisan yang kemudian dihimpun dalam Menuai Buah Kebaikan lahir dari aktivitas dakwah yang ia jalani sehari-hari. Sebagian besar sebelumnya dipublikasikan di media sosial dan platform digital, sebelum akhirnya dikumpulkan dan diseleksi agar tidak berserakan.

Selain dorongan pembaca, penerbitan buku tersebut juga berkaitan dengan kebutuhan akademis sebagai guru, khususnya dalam pengembangan karier kepangkatan. Meski demikian, ia menegaskan bahwa tujuan utama penulisan tetap pada kebermanfaatan dakwah.

Menurutnya, tulisan memiliki daya jangkau yang berbeda dibandingkan ceramah lisan. Ceramah hanya didengar jemaah di satu tempat, sementara tulisan dapat dibaca berulang kali. “Kalau tulisan dibaca dan memberi manfaat, pahalanya terus mengalir,” tuturnya.

Guru Masrul memandang tulisannya sebagai bagian dari upaya menghadirkan bacaan keislaman yang dekat dengan keseharian masyarakat Banua. Tradisi keilmuan Islam di Kalimantan Selatan juga dikenal melalui karya-karya ulama seperti Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dan Syekh Muhammad Nafis Al-Banjari dan ulama lain yang meninggalkan kitab-kitab keagamaan.

Dalam konteks itulah, tulisan-tulisan Guru Masrul dihadirkan sebagai penerus bacaan keislaman yang diharapkan bisa memberi warna baru literasi Banua.

Nilai-nilai lokal Banua dan pengalaman berdakwah di tengah masyarakat turut mewarnai isi tulisannya. Sebagai pendidik dan penceramah, ia banyak menulis dari realitas yang ia temui sehari-hari. “Sebagus apa pun tulisan, kalau tidak dibaca, dakwahnya tidak sampai,” ujarnya.

Melalui tulisan, Guru Masrul berupaya menjaga pesan-pesan keislaman tetap hadir dan dibaca, sebagai bagian dari ikhtiar pribadi dalam menyemai kebaikan. 

 

Berita asli bisa dilihat di👇
https://radarbanjarmasin.jawapos.com/religi/1977267879/guru-masrul-berdakwah-lewat-tulisan-terbitkan-buku-menuai-buah-kebaikan


Simak Videonya di link👇
https://www.youtube.com/watch?v=x9M-cY8nSGU 



Senin, 02 Maret 2026

Siswa Kelas XII MAN 3 Balangan Tempuh Ujian Madrasah Berbasis Digital

Popular