Tulisan ini bukan untuk menjelaskan secara fiqih, apakah sah atau tidaknya seseorang berpuasa ketika dia tidak mengerjakan shalat. Sebab, puasa dan shalat itu merupakan bagian dari rukun Islam. Mungkin kalau kita teruskan bisa saja orang berpuasa tapi tidak berzakat. Atau sebaliknya, dia berzakat tapi tidak berpuasa. Bisa juga, tidak shalat, tidak puasa, tidak berzakat tapi statusnya sudah berhaji. Atau, tidak semuanya, tidak shalat, puasa, zakat, haji padahal dia seorang muslim. Sebab, syarat seseorang dikatakan muslim ketika dia sudah mengucapkan syahadat. Atau secara turun-temurun. Datuk kakeknya muslim, maka dia juga berstatus sebagai orang islam. Walaupun secara ibadah, tidak pernah ikut melaksanakan ibadah, seperti shalat fardhu, puasa, zakat, shalat jumat dan lainnya bahkan cenderung melaksanakan keburukan seperti mabuk-mabukan, zina, mencuri, merampok, penipu, dan lain sebagainya. Hal ini bisa dilihat disekitar kita. Biasanya ada saja di suatu daerah orang-orang seperti itu, padahal sebagiannya adalah orang yang memiliki pengetahuan. Tetapi mereka tidak mau mengerjakan syari’at agama.
Dalam Islam, setiap perintah dari Allah Swt itu wajib dilaksanakan sesuai dengan kemampuan masing-masing. Semua yang ada di dalam rukun Islam itu merupakan perintah Allah dan Rasul-Nya (Nabi Muhammad Saw). Mulai dari syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji itu jelas dalilnya, baik dalam al qur’an maupun hadits Nabi Saw. Banyak ayat al qur’an yang memerintahkan untuk mendirikan shalat, melaksanakan puasa, menunaikan zakat dan melaksanakan haji dan umrah bagi orang islam yang mampu. Artinya, pelaksanaan ibadah yang diperintahkan Allah Swt tidak boleh dikerjakan secara parsial. Misalnya, shalat saja dikerjakan, puasa, zakat, haji tidak usah. Atau haji saja yang dilaksanakan karena dia punya harta yang banyak, tapi tidak pernah shalat, puasa dan berzakat. Mengerjakan ibadah itu tidak boleh pilih-pilih. Semuanya harus bisa dikerjakan secara berbarengan atau paralel. Orang berpuasa, maka dia juga mengerjakan shalat dan berzakat. Dan aktivitas ibadah lainnya.
Tidak hanya terkait dengan rukun islam yang 5 itu saja. Semua perintah Allah dan Rasulnya harus dilaksanakan. Baik itu ibadah Mahdhah ataupun Ghairu Mahdhah. Ibadah Mahdhah adalah ibadah murni yang ditentukan tata cara, waktu dan tempatnya. Ibadah ini merupakan hubungan vertikal (langsung) antara Allah dan hamba-Nya. Contohnya, shalat puasa, zakat, haji dan sebagainya. sedangkan ibadah Ghairu Mahdhah merupakan pekerjaan sehari-hari yang bernilai ibadah apabila diniatkan betul-betul karena Allah, tidak terikat oleh aturan tata cara yang baku dan lebih bersifat horizontal (sosial). Seperti belajar, guru, dosen, pedagang, petani, ASN, TNI-Polri, dan lain sebagainya.
Sebagai seorang muslim, kita dituntut untuk
melaksanakan Amal Shaleh (Kebaikan). Keshalehan itu bukan hanya bersifat
pribadi akan tetapi juga keshalehan secara sosial. Orang yang rajin shalat dan
puasa juga harus banyak bersedekah untuk fakir miskin. Menolong orang yang
kesusahan, kerja bakti di kampung atau tempat tinggal, menengok dan membatu
tetangga atau teman yang sakit, ikut shalat jenazah, gotong royong, membantu
pernikahan, aqiqahan, kenduri dan lain sebagainya. Setiap keshalehan individu
yang dilakukan harus berimbas kepada keshalehan sosial. Jangan hanya
mementingkan keshalehan pribadi (shalat, puasa, zakat, haji, baca al qur’an
dll) sementara keshalehahn sosial diabaikan. Allah Swt menyatakan bahwa
keshalehan individu dan keshalehan sosial itu merupakan kabajikan yang harus
dilaksanakan. Sebab, ketika keduanya dilaksanakan secara beriringan, maka dia
akan memperoleh kebaikan dan mendapat derajat takwa disisi Allah Swt.
۞لَّيۡسَ ٱلۡبِرَّ أَن تُوَلُّواْ
وُجُوهَكُمۡ قِبَلَ ٱلۡمَشۡرِقِ وَٱلۡمَغۡرِبِ وَلَٰكِنَّ ٱلۡبِرَّ مَنۡ ءَامَنَ
بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ وَٱلۡكِتَٰبِ وَٱلنَّبِيِّۧنَ
وَءَاتَى ٱلۡمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ ذَوِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ
وَٱلۡمَسَٰكِينَ وَٱبۡنَ ٱلسَّبِيلِ وَٱلسَّآئِلِينَ وَفِي ٱلرِّقَابِ وَأَقَامَ
ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَى ٱلزَّكَوٰةَ وَٱلۡمُوفُونَ بِعَهۡدِهِمۡ إِذَا عَٰهَدُواْۖ
وَٱلصَّٰبِرِينَ فِي ٱلۡبَأۡسَآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَحِينَ ٱلۡبَأۡسِۗ
أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُتَّقُونَ ١٧٧
“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (Qs. Al Baqarah, 2:177).
Disinilah letak takwa itu. Sebab, arti takwa itu kan
menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Perintah dan
larangan Allah itu banyak sekali. Mungkin diantara kita ada yang tidak
mengetahui perintah dan larangannya itu, sehingga terkadang tidak menyadarinya
bahwa yang dilakukannya itu merupakan perintah Allah, atau dia tidak menyadari
bahwa yang dikerjakannya itu sebenarnya dilarang oleh Allah. Untuk itu
hendaklah kita senantiasa menjalankan ketaatan kepada Allah Swt. Tetap sabar
dalam menjalankan setiap perintah Allah Swt. Khusyuk dalam menjalankan setiap
ibadah. Perbanyak sedekah. Laksanakan perintah puasa, baik yang wajib maupun
sunnah. Jaga kehormatan diri. Senantiasa berzikir (mengingat) Allah Swt dalam
setiap kesempatan. Maka, Allah Swt akan memeberikan ampunan dan pahala yang
besar. Semoga! Wallahu a’lam…
إِنَّ
ٱلۡمُسۡلِمِينَ وَٱلۡمُسۡلِمَٰتِ وَٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ
وَٱلۡقَٰنِتِينَ وَٱلۡقَٰنِتَٰتِ وَٱلصَّٰدِقِينَ وَٱلصَّٰدِقَٰتِ وَٱلصَّٰبِرِينَ
وَٱلصَّٰبِرَٰتِ وَٱلۡخَٰشِعِينَ وَٱلۡخَٰشِعَٰتِ وَٱلۡمُتَصَدِّقِينَ
وَٱلۡمُتَصَدِّقَٰتِ وَٱلصَّٰٓئِمِينَ وَٱلصَّٰٓئِمَٰتِ وَٱلۡحَٰفِظِينَ
فُرُوجَهُمۡ وَٱلۡحَٰفِظَٰتِ وَٱلذَّٰكِرِينَ ٱللَّهَ كَثِيرٗا وَٱلذَّٰكِرَٰتِ
أَعَدَّ ٱللَّهُ لَهُم مَّغۡفِرَةٗ وَأَجۡرًا عَظِيمٗا ٣٥
“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu', laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Qs. Al Ahzab, 33:35).
#Menyebarluaskan Kebaikan#


Tidak ada komentar:
Posting Komentar