Pahala adalah bentuk ‘penghargaan’ yang diberikan Allah kepada kita karena melakukan suatu perbuatan yang memberi ‘manfaat’. Manfaat kepada siapa? Manfaat kepada diri kita sendiri, keluarga, orang banyak, Binatang, tumbuhan dan makhluk lainnya di muka bumi ini. Sedangkan dosa adalah bentuk ‘hukuman’ yang diberikan kepada kita karena kita melakukan sesuatu perbuatan yang membawa ‘mudharat’ (tidak baik/merugikan) pada diri sendiri maupun kepada makhluk ciptaan-Nya secara kolektif.
Pahala dan dosa ini sepenuhnya terkait manfaat dan mudharat bagi seseorang yang melakukan perbuatan sesuatu. Manfaat dan mudaharat itu bukan untuk Allah, akan tetapi untuk makhluk-Nya. Oleh karena itu, setiap perintah Allah dan Rasul-Nya kemudian dikerjakan dengan sungguh-sungguh dan ikhlas, maka ujung-ujungnya pasti dia akan mendapatkan manfaat yang luar biasa dari perbuatannya itu. Begitu juga sebaliknya, setiap larangan dari Allah dan Rasul-Nya kemudian dikerjakan, tentunya akan mendapatkan mudharat (kerugian) yang besar bagi dirinya, orang lain dan makhluk lainnya. Contohnya perbuatan judi. Apabila kita berjudi, maka kita akan berdosa. Judi itu membawa mudharat bagi dirinya sendiri, keluarga, masyarakat dan sistem perekonomian sebuah negara. Tidak ada orang yang kaya karena menang judi. Justru sebaliknya, yang kaya bisa menjadi miskin, dan yang miskin bisa menjadi lebih miskin lagi (melarat). Begitu juga dengan perbuatan zina. Kalau kita berzina, akan mendapat mudharat dari perbuatan itu. Zina itu dapat merusak tatanan moral di masyarakat, menebarkan penyakit fisik dan kejiwaan yang sulit diobati serta mewariskan keturunan dan generasi yang berantakan. Begitu juga dengan minuman keras, perampokan dan pencurian, pembunuhan, korupsi, penipuan, dan lain sebagainya yang dilarang Allah itu, ujung-ujungnya pasti akan membawa mudharat (kerugian/kerusakan) bagi diri kita dan tatanan kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Puasa merupakan salah satu aktivitas ibadah yang
sangat dianjurkan. Di dalam puasa terdapat manfaat yang luar biasa bagi yang
mengerjakannya. Tidak saja bermanfaat bagi tubuh, tapi juga bagi kejiwaannya. Orang
yang berpuasa tubuhnya akan menjadi sehat (secara jasmani, Rohani dan
spiritual). Jiwanya menjadi damai, tenteram dan bahagia. Emosinya stabil dan akan
terkontrol dengan baik. Dia akan menjadi orang yang sabar dan ikhlas. Tidak pemarah.
Tidak berbohong. Jujur dan suka menolong orang lain. Sering sedekah. Inilah dampat
positif dari orang yang berpuasa. Disinilah nilai pahala yang diterima oleh
orang berpuasa itu. Manfaat yang didapatkannya itu tentunya akan dia terima
sendiri. Selain itu, manfaat itu juga diterima oleh orang lain. Selain tubuhnya
sehat, jiwanya tenang, orang lain pun akan suka dan senang dengan
keberadaannya. Inilah makna dari berpuasa itu mengharapkan pahala dari Allah
Swt. Yakni, mendapatkan manfaat yang banyak bagi dirinya sendiri dan orang
lain. Untuk itu, Nabi Saw menyatakan bahwa orang yang berpuasa dengan iman,
mengharap pahala (manfaat) nya, maka akan diampuni oleh Allah Swt dosa-dosa
(mudharat) nya baik yang dulu maupun yang sekarang. Semoga! Wallahu a’lam…
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا
تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ. (صحيح البخاري ٣٧, صحيح مسلم ١٢٦٨, سنن أبي داوود ١١٦٥,
سنن الترمذي ٧٣٦, سنن النسائي ١٥٨٤)
Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah Saw bersabda: “Barangsiapa yang berpuasa karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Shahih Bukhari 37, Shahih Muslim 1268, Sunan Abu Daud 1165, Sunan Tirmidzi 736, Sunan Nasa'i 1584).
#Menyebarluaskan Kebaikan#


Tidak ada komentar:
Posting Komentar