Dalam kesempatan yang mulia ini, marilah kita selalu berusaha meningkatkan ketakwaan kepada Allah swt, dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Sebab, takwa merupakan sebaik-baiknya bekal dalam menjalani hidup di dunia dan bekal keselamatan menuju akhirat kelak.
Ma’asyiral
Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Pelaksanaan takwa itu tidak hanya ibadah saja, seperti shalat, puasa, zakat dan lainnya. Tetapi harus terwujud dalam keseharian kita, mulai dari cara kita berbicara, bersikap, dan memperlakukan orang lain. Orang Muslim yang bertakwa bukanlah mereka yang hanya rajin beribadah saja, tetapi juga yang kehadirannya membawa ketenangan dan kenyamanan bagi orang lain disekitarnya. Lantas, bagaimana cara kita menjadi muslim yang menenangkan dan tidak meresahkan? Ada beberapa cara yang dapat kita praktikkan dalam kehidupan kita sehari-hari.
Pertama, dengan
senantiasa menjaga lisan agar ucapan-ucapan yang keluar tidak menyakiti orang
lain. Sebab lisan adalah bagian kecil dari anggota tubuh yang memiliki dampak
sangat besar. Dengan lisan, kita bisa menyejukkan dan menenangkan hati orang
lain, tetapi dengan lisan pula kita bisa melukai perasaan mereka, bisa memecah
belah persaudaraan, bahkan menghancurkan rumah tangga. Rasulullah saw bersabda:
اَلْمُسْلِمُ
مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
“Seorang muslim sejati adalah orang yang muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Kedua, senantiasa
berusaha menjadi muslim yang penyayang. Caranya adalah dengan menjadi pribadi
yang mudah memaafkan, ringan tangan untuk menolong, serta peduli terhadap
keadaan orang lain. Sehingga dengan senantiasa melakukan perbuatan mulia
tersebut, kita tidak akan senang melihat orang lain menderita, apalagi menjadi
penyebab penderitaan orang lain. Rasulullah saw. Bersabda :
الرَّاحِمُونَ
يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ! اِرْحَمُوْا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي
السَّمَاءِ
“Orang-orang yang penyayang akan disayang oleh Allah Yang Maha Pengasih! Sayangilah siapa saja yang ada di bumi, niscaya penduduk langit akan menyayangi kalian.” (HR. At-Tirmidzi).
Ketiga, senantiasa
berusaha menahan amarah dan memperbanyak bersabar. Ini sangat penting untuk
kita perhatikan bersama, karena marah dapat menjadi penyebab munculnya
tindakan-tindakan meresahkan. Misalnya, seseorang ketika marah akan mudah
kehilangan kendali, mengucapkan kata-kata kotor, hingga melakukan tindakan yang
akan disesali di kemudian hari. Maka menjadi manusia yang menenangkan berarti
kita harus mampu mengendalikan emosi, menahan amarah, serta menyikapi setiap
persoalan dengan kepala dingin dan penuh kesabaran. Rasulullah saw bersabda:
لَيْسَ
الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ
الْغَضَبِ
“Orang kuat bukanlah mereka yang pandai bergulat, tetapi ia yang mampu menahan dirinya saat marah.” (HR. Bukhari & Muslim).
Ma’asyiral
Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah




