Web ini Kumpulan tulisan kajian keagamaan yang menarik berdasarkan Al Qur’an dan Hadits Nabi Saw. Selain tulisan, Web juga berisi berita menarik seputar Madrasah, Video Tiktok dan Youtube yang baik untuk ditonton. Ikuti terus kajiannya, jangan sampai terlewatkan. Baca semua tulisannya. Semoga mendapatkan kebaikan. Amin
Hadirin Jamaah Jumat Rahimakumullah
Dalam kesempatan yang mulia ini marilah kita senantiasa saling mengingatkan untuk selalu meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Swt, dengan senantiasa melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi segala apa yang dilarang-Nya.
Hadirin Jamaah Jumat Rahimakumullah
Saat ini kita telah memasuki 10 hari kedua di bulan Ramadhan. Tepatnya hari ke-16 Ramadhan. Artinya kita telah memasuki pertengahan puasa. Pada Masa pertengahan ini sering biasanya semangat beribadah mulai menurun, masjid dan mushalla jamaahnya mulai berkurang dibanding awal ramadhan. Padahal, pada saat ini pintu ampunan Allah SWT dibuka selebar-lebarnya bagi hamba-Nya
Hadirin Jamaah Jumat Rahimakumullah
Untuk mendapatkan ampunan Allah Swt, ada beberapa amalan yang sangat dianjurkan untuk diperkuat dan diperbanyak pada pertengahan Ramadhan ini,
1. Memperbanyak Istighfar dan Taubat
Amalan utama di 10 hari kedua adalah
memperbanyak istighfar. Memohon ampunan tidak hanya dilakukan setelah shalat,
tetapi di dilakukan setiap waktu senggang. Taubat yang sungguh-sungguh (taubatan
nasuha) harus disertai janji untuk tidak melakukan perbuatan yang sama dan
berusaha melakukan perbuatan baik. Agar taubat diterima Allah Swt.
2. Menjaga Shalat Berjamaah dan Shalat
Sunnah
Jangan biarkan shaf di masjid mulai
maju atau berkurang. Menjaga shalat fardu berjamaah dan menambahnya dengan shalat-shalat
sunnah seperti Sunat Rawatib, Dhuha, serta
Tahajud akan mempererat hubungan kita dengan Allah Swt.
3. Memperbanyak Sedekah
Ramadan adalah bulan kedermawanan.
Sedekah tidak hanya membantu sesama yang membutuhkan, tetapi juga berfungsi
sebagai penghapus dosa sebagaimana air memadamkan api.
4. Tadarus Al-Qur'an
Al-Qur'an diturunkan di bulan
Ramadan. Perbanyak Membacanya, merenungi makna, dan mengamalkan isi Al-Qur'an
adalah cahaya bagi hati.
5. Berdoa dengan Doa Maghfirah/Ampunan
Salah satu doa yang sangat dianjurkan untuk dipanjatkan pada 10 hari kedua Ramadan adalah: “Allahummaghfirli dzunubi ya robbal 'alamin.” (Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku, wahai Tuhan semesta alam).
Hadirin Jamaah Jumat Rahimakumullah
Sepuluh hari kedua Ramadan adalah
jembatan menuju sepuluh hari terakhir yang penuh kemuliaan (Lailatul Qadar).
Tanpa ampunan di fase kedua, akan sulit bagi kita untuk meraih kemuliaan di
fase penutup (akhir). Mari kita berlomba-lomba untuk meraih ampunan dari Allah
Swt. Jangan sampai kesibukan-kesibukan pekerjaan dan lainnya melalaikan kita
dari taubat kepada Allah Swt. Allah berfirman:
وَسَارِعُوٓاْ
إِلَىٰ مَغۡفِرَةٖ مِّن رَّبِّكُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ
أُعِدَّتۡ لِلۡمُتَّقِينَ ١٣٣
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (Qs. ‘Ali Imran : 133).
Mari kita jadikan setiap detik di
bulan ramadhan ini untuk bersimpuh dan bersujud di hadapan Allah, mengakui
segala khilaf, dan memohon agar nama kita tercatat sebagai golongan orang-orang
yang beruntung yang mendapatkan ampunan-Nya. Semoga Allah SWT menerima amal
ibadah kita dan mempertemukan kita dengan hari kemenangan dalam keadaan suci
dari dosa. Amin ya Rabbal Alamin.
Seiring bertambahnya
tanggung jawab, ia memilih jalan lain agar dakwah tetap berjalan, yakni melalui
tulisan. Masroliyan Nor saat ini menjabat Kepala MAN 3 Balangan. Di
tengah aktivitasnya sebagai pendidik, peran sebagai penceramah dan pendakwah
tetap ia jalani.
Di kalangan jemaah,
ia dikenal dengan sapaan 'Guru Masrul'. Namun, keterbatasan waktu
membuatnya tidak selalu bisa hadir di banyak undangan dakwah. “Setiap orang
punya cara dakwah masing-masing. Ada yang lisan, ada yang tulisan. Karena
kesibukan, saya memilih menulis, kecuali khotbah Jumat,” ujarnya.
Pilihan tersebut ia
jalani secara konsisten. Menulis menjadi caranya menjaga dakwah tetap berjalan.
Dari kebiasaan itu, sebagian tulisannya kemudian dihimpun dalam buku Menuai
Buah Kebaikan, yang ia niatkan sebagai amal jariah.
Kebiasaan menulis itu
telah ia jalani sejak 2010. Pada masa itu, Guru Masrul rutin mengirimkan
tulisan ke salah satu harian di Kalsel yang membuka rubrik kritik dan masukan
terhadap kebijakan pemerintah. Momen itu menjadi awal keterampilannya
menyampaikan gagasan secara tertulis. Hampir setiap bulan, tulisannya dimuat di
koran.
Kesadaran menulis
sebagai medium dakwah semakin kuat sejak 2018, ketika ia dimutasi dari MTs
Darul Istiqomah ke MAN 2 Balangan. Sejak saat itu, menulis tidak lagi sekadar
kebiasaan, tetapi diniatkan sebagai bagian dari aktivitas dakwah yang terus ia
jaga. “Saya niatkan menulis setiap hari, meski sekarang intensitasnya sudah
berkurang,” katanya.
Tulisan-tulisan Guru
Masrul tersebar di berbagai platform digital dan dapat dibaca oleh masyarakat
luas. Ia mengaku tidak mempermasalahkan jika tulisannya dikutip, disadur, atau
digunakan ulang oleh pihak lain. “Selama niatnya untuk kebaikan umat, saya ikhlaskan.
Bagi saya itu tetap ibadah,” ucapnya.
Dorongan berdakwah
melalui tulisan tidak terlepas dari pengalaman pendidikannya. Saat menempuh
studi di UIN Antasari, Guru Masrul mengikuti pendidikan kader dakwah praktis
yang dipimpin KH Ilham Masykuri Hamdi, akademisi yang juga pernah berkiprah
sebagai wartawan. Dari lingkungan tersebut, ia mendapatkan dorongan untuk
berdakwah secara kontekstual dan menuangkan gagasan melalui tulisan.
Tulisan-tulisan yang
kemudian dihimpun dalam Menuai Buah Kebaikan lahir dari aktivitas dakwah yang
ia jalani sehari-hari. Sebagian besar sebelumnya dipublikasikan di media sosial
dan platform digital, sebelum akhirnya dikumpulkan dan diseleksi agar tidak
berserakan.
Selain dorongan
pembaca, penerbitan buku tersebut juga berkaitan dengan kebutuhan akademis
sebagai guru, khususnya dalam pengembangan karier kepangkatan. Meski demikian,
ia menegaskan bahwa tujuan utama penulisan tetap pada kebermanfaatan dakwah.
Menurutnya, tulisan
memiliki daya jangkau yang berbeda dibandingkan ceramah lisan. Ceramah hanya
didengar jemaah di satu tempat, sementara tulisan dapat dibaca berulang kali.
“Kalau tulisan dibaca dan memberi manfaat, pahalanya terus mengalir,” tuturnya.
Guru Masrul memandang
tulisannya sebagai bagian dari upaya menghadirkan bacaan keislaman yang dekat
dengan keseharian masyarakat Banua. Tradisi keilmuan Islam di Kalimantan
Selatan juga dikenal melalui karya-karya ulama seperti Syekh Muhammad
Arsyad Al-Banjari dan Syekh Muhammad Nafis Al-Banjari dan ulama lain yang
meninggalkan kitab-kitab keagamaan.
Dalam konteks itulah,
tulisan-tulisan Guru Masrul dihadirkan sebagai penerus bacaan keislaman yang
diharapkan bisa memberi warna baru literasi Banua.
Nilai-nilai lokal Banua
dan pengalaman berdakwah di tengah masyarakat turut mewarnai isi tulisannya.
Sebagai pendidik dan penceramah, ia banyak menulis dari realitas yang ia temui
sehari-hari. “Sebagus apa pun tulisan, kalau tidak dibaca, dakwahnya tidak
sampai,” ujarnya.
Melalui tulisan, Guru
Masrul berupaya menjaga pesan-pesan keislaman tetap hadir dan dibaca, sebagai
bagian dari ikhtiar pribadi dalam menyemai kebaikan.
Berita asli bisa
dilihat di👇
Simak Videonya
di link👇
https://www.youtube.com/watch?v=x9M-cY8nSGU