MENYEBARLUASKAN KEBAIKAN

Web ini Kumpulan tulisan kajian keagamaan yang menarik berdasarkan Al Qur’an dan Hadits Nabi Saw. Selain tulisan, Web juga berisi berita menarik seputar Madrasah, Video Tiktok dan Youtube yang baik untuk ditonton. Ikuti terus kajiannya, jangan sampai terlewatkan. Baca semua tulisannya. Semoga mendapatkan kebaikan. Amin

Jumat, 27 Februari 2026

Hadirin Jamaah Jumat Rahimakumullah

Dalam kesempatan yang mulia ini marilah kita senantiasa saling mengingatkan untuk selalu meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Swt, dengan senantiasa melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi segala apa yang dilarang-Nya. 

Hadirin Jamaah Jumat Rahimakumullah

Bulan Ramadan adalah bulan yang penuh dengan keistimewaan, Rasulullah SAW membagi Ramadhan menjadi tiga fase. Fase pertama adalah sepuluh hari awal yang penuh rahmat, fase kedua adalah sepuluh hari pertengahan yang berisi ampunan, dan fase ketiga adalah sepuluh hari terakhir sebagai pembebasan dari api neraka. Pada hari ini kita telah memasuki hari ke-9 Ramadhan. Artinya tidak berapa lagi 10 hari pertama akan kita tinggalkan dan kita akan memasuki 10 hari kedua bulan Ramadhan. 

Pada Masa pertengahan ini sering biasanya semangat beribadah mulai menurun dibandingkan pekan pertama. Padahal, pada fase inilah pintu ampunan Allah SWT dibuka selebar-lebarnya bagi hamba-Nya yang bersungguh-sungguh bertaubat. 

Hadirin Jamaah Jumat Rahimakumullah

Untuk meraih predikat hamba yang diampuni, ada beberapa amalan yang sangat dianjurkan untuk diperkuat dan diperbanyak :

1. Memperbanyak Istighfar dan Taubat

Amalan utama di fase ini perbanyak beristighfar. Memohon ampunan tidak hanya dilakukan setelah shalat, tetapi di setiap waktu senggang. Taubat yang sungguh-sungguh (taubatan nasuha) disertai janji untuk tidak mengulangi kemaksiatan akan mengantarkan kita pada kesucian hati.

2. Menjaga Shalat Berjamaah dan Shalat Sunnah

Jangan biarkan shaf di masjid mulai maju atau berkurang. Menjaga shalat fardu berjamaah dan menambahnya dengan shalat sunnah Rawatib, Dhuha, serta Tahajud akan mempererat hubungan kita dengan Allah Swt.

3. Memperbanyak Sedekah

Ramadan adalah bulan kedermawanan. Sedekah tidak hanya membantu sesama yang membutuhkan, tetapi juga berfungsi sebagai penghapus dosa sebagaimana air memadamkan api.

4. Tadarus Al-Qur'an

Al-Qur'an diturunkan di bulan Ramadan. Membaca, merenungi makna, dan mengamalkan isi Al-Qur'an adalah cahaya bagi hati.

5. Berdoa dengan Doa Maghfirah

Salah satu doa yang sangat dianjurkan untuk dipanjatkan pada 10 hari kedua Ramadan adalah: “Allahummaghfirli dzunubi ya robbal 'alamin.” (Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku, wahai Tuhan semesta alam). 

Hadirin Jamaah Jumat Rahimakumullah

Sepuluh hari kedua Ramadan adalah jembatan menuju sepuluh hari terakhir yang penuh kemuliaan (Lailatul Qadar). Tanpa ampunan di fase kedua, akan sulit bagi kita untuk meraih kemuliaan di fase penutup (akhir). Mari kita berlomba-lomba untuk meraih ampunan dari Allah Swt. Jangan sampai kesibukan-kesibukan pekerjaan dan lainnya melalaikan kita dari taubat kepada Allah Swt. Allah berfirman:

وَسَارِعُوٓاْ إِلَىٰ مَغۡفِرَةٖ مِّن رَّبِّكُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ أُعِدَّتۡ لِلۡمُتَّقِينَ ١٣٣

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (Qs. ‘Ali Imran : 133).

Mari kita jadikan setiap detik di bulan ramdhan ini dan 10 hari kedua sebagai sarana untuk bersimpuh di hadapan Allah, mengakui segala khilaf, dan memohon agar nama kita tercatat sebagai golongan orang-orang yang beruntung yang mendapatkan ampunan-Nya. Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita dan mempertemukan kita dengan hari kemenangan dalam keadaan suci dari dosa. Amin ya Rabbal Alamin.

Rabu, 25 Februari 2026

Berpuasa, Mengharap Pahala?

Dalam melaksanakan ibadah, tentu yang diharapkan adalah pahala dari Allah Swt. Pahala itu merupakan balasan kebaikan yang diberikan Allah kepada orang yang melakukan kebaikan. Kebalikan dari pahala adalah dosa, yakni balasan kejahatan atau keburukan atas perbuatan yang dilakukannya. Dalam bahasa manajemen modern, pahala bisa disebut sebagai Reward artinya penghargaan. Sedangkan dosa disebut sebagai Punishment artinya hukuman. 

Pahala adalah bentuk ‘penghargaan’ yang diberikan Allah kepada kita karena melakukan suatu perbuatan yang memberi ‘manfaat’. Manfaat kepada siapa? Manfaat kepada diri kita sendiri, keluarga, orang banyak, Binatang, tumbuhan dan makhluk lainnya di muka bumi ini. Sedangkan dosa adalah bentuk ‘hukuman’ yang diberikan kepada kita karena kita melakukan sesuatu perbuatan yang membawa ‘mudharat’ (tidak baik/merugikan) pada diri sendiri maupun kepada makhluk ciptaan-Nya secara kolektif. 

Pahala dan dosa ini sepenuhnya terkait manfaat dan mudharat bagi seseorang yang melakukan perbuatan sesuatu. Manfaat dan mudaharat itu bukan untuk Allah, akan tetapi untuk makhluk-Nya. Oleh karena itu, setiap perintah Allah dan Rasul-Nya kemudian dikerjakan dengan sungguh-sungguh dan ikhlas, maka ujung-ujungnya pasti dia akan mendapatkan manfaat yang luar biasa dari perbuatannya itu. Begitu juga sebaliknya, setiap larangan dari Allah dan Rasul-Nya kemudian dikerjakan, tentunya akan mendapatkan mudharat (kerugian) yang besar bagi dirinya, orang lain dan makhluk lainnya. Contohnya perbuatan judi. Apabila kita berjudi, maka kita akan berdosa. Judi itu membawa mudharat bagi dirinya sendiri, keluarga, masyarakat dan sistem perekonomian sebuah negara. Tidak ada orang yang kaya karena menang judi. Justru sebaliknya, yang kaya bisa menjadi miskin, dan yang miskin bisa menjadi lebih miskin lagi (melarat). Begitu juga dengan perbuatan zina. Kalau kita berzina, akan mendapat mudharat dari perbuatan itu. Zina itu dapat merusak tatanan moral di masyarakat, menebarkan penyakit fisik dan kejiwaan yang sulit diobati serta mewariskan keturunan dan generasi yang berantakan. Begitu juga dengan minuman keras, perampokan dan pencurian, pembunuhan, korupsi, penipuan, dan lain sebagainya yang dilarang Allah itu, ujung-ujungnya pasti akan membawa mudharat (kerugian/kerusakan) bagi diri kita dan tatanan kehidupan bermasyarakat dan bernegara. 

Puasa merupakan salah satu aktivitas ibadah yang sangat dianjurkan. Di dalam puasa terdapat manfaat yang luar biasa bagi yang mengerjakannya. Tidak saja bermanfaat bagi tubuh, tapi juga bagi kejiwaannya. Orang yang berpuasa tubuhnya akan menjadi sehat (secara jasmani, Rohani dan spiritual). Jiwanya menjadi damai, tenteram dan bahagia. Emosinya stabil dan akan terkontrol dengan baik. Dia akan menjadi orang yang sabar dan ikhlas. Tidak pemarah. Tidak berbohong. Jujur dan suka menolong orang lain. Sering sedekah. Inilah dampat positif dari orang yang berpuasa. Disinilah nilai pahala yang diterima oleh orang berpuasa itu. Manfaat yang didapatkannya itu tentunya akan dia terima sendiri. Selain itu, manfaat itu juga diterima oleh orang lain. Selain tubuhnya sehat, jiwanya tenang, orang lain pun akan suka dan senang dengan keberadaannya. Inilah makna dari berpuasa itu mengharapkan pahala dari Allah Swt. Yakni, mendapatkan manfaat yang banyak bagi dirinya sendiri dan orang lain. Untuk itu, Nabi Saw menyatakan bahwa orang yang berpuasa dengan iman, mengharap pahala (manfaat) nya, maka akan diampuni oleh Allah Swt dosa-dosa (mudharat) nya baik yang dulu maupun yang sekarang. Semoga! Wallahu a’lam…

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ. (صحيح البخاري ٣٧, صحيح مسلم ١٢٦٨, سنن أبي داوود ١١٦٥, سنن الترمذي ٧٣٦, سنن النسائي ١٥٨٤)

Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah Saw bersabda: “Barangsiapa yang berpuasa karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Shahih Bukhari 37, Shahih Muslim 1268, Sunan Abu Daud 1165, Sunan Tirmidzi 736,  Sunan Nasa'i 1584). 

 

#Menyebarluaskan Kebaikan#

Paringin, 25 Februari 2026 M / 7 Ramadhan 1447 H

Senin, 23 Februari 2026

Berpuasa, Tapi Tidak Shalat?

Sering kita mendengar pertanyaan, bagaimana orang yang berpuasa tapi tidak mengerjakan shalat, apakah puasanya sah atau tidak?.  

Tulisan ini bukan untuk menjelaskan secara fiqih, apakah sah atau tidaknya seseorang berpuasa ketika dia tidak mengerjakan shalat. Sebab, puasa dan shalat itu merupakan bagian dari rukun Islam. Mungkin kalau kita teruskan bisa saja orang berpuasa tapi tidak berzakat. Atau sebaliknya, dia berzakat tapi tidak berpuasa. Bisa juga, tidak shalat, tidak puasa, tidak berzakat tapi statusnya sudah berhaji. Atau, tidak semuanya, tidak shalat, puasa, zakat, haji padahal dia seorang muslim. Sebab, syarat seseorang dikatakan muslim ketika dia sudah mengucapkan syahadat. Atau secara turun-temurun. Datuk kakeknya muslim, maka dia juga berstatus sebagai orang islam. Walaupun secara ibadah, tidak pernah ikut melaksanakan ibadah, seperti shalat fardhu, puasa, zakat, shalat jumat dan lainnya bahkan cenderung melaksanakan keburukan seperti mabuk-mabukan, zina, mencuri, merampok, penipu, dan lain sebagainya. Hal ini bisa dilihat disekitar kita. Biasanya ada saja di suatu daerah orang-orang seperti itu, padahal sebagiannya adalah orang yang memiliki pengetahuan. Tetapi mereka tidak mau mengerjakan syari’at agama. 

Dalam Islam, setiap perintah dari Allah Swt itu wajib dilaksanakan sesuai dengan kemampuan masing-masing. Semua yang ada di dalam rukun Islam itu merupakan perintah Allah dan Rasul-Nya (Nabi Muhammad Saw). Mulai dari syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji itu jelas dalilnya, baik dalam al qur’an maupun hadits Nabi Saw. Banyak ayat al qur’an yang memerintahkan untuk mendirikan shalat, melaksanakan puasa, menunaikan zakat dan melaksanakan haji dan umrah bagi orang islam yang mampu. Artinya, pelaksanaan ibadah yang diperintahkan Allah Swt tidak boleh dikerjakan secara parsial. Misalnya, shalat saja dikerjakan, puasa, zakat, haji tidak usah. Atau haji saja yang dilaksanakan karena dia punya harta yang banyak, tapi tidak pernah shalat, puasa dan berzakat. Mengerjakan ibadah itu tidak boleh pilih-pilih. Semuanya harus bisa dikerjakan secara berbarengan atau paralel. Orang berpuasa, maka dia juga mengerjakan shalat dan berzakat. Dan aktivitas ibadah lainnya. 

Tidak hanya terkait dengan rukun islam yang 5 itu saja. Semua perintah Allah dan Rasulnya harus dilaksanakan. Baik itu ibadah Mahdhah ataupun Ghairu Mahdhah. Ibadah Mahdhah adalah ibadah murni yang ditentukan tata cara, waktu dan tempatnya. Ibadah ini merupakan hubungan vertikal (langsung) antara Allah dan hamba-Nya. Contohnya, shalat puasa, zakat, haji dan sebagainya. sedangkan ibadah Ghairu Mahdhah merupakan pekerjaan sehari-hari yang bernilai ibadah apabila diniatkan betul-betul karena Allah, tidak terikat oleh aturan tata cara yang baku dan lebih bersifat horizontal (sosial). Seperti belajar, guru, dosen, pedagang, petani, ASN, TNI-Polri, dan lain sebagainya. 

Sebagai seorang muslim, kita dituntut untuk melaksanakan Amal Shaleh (Kebaikan). Keshalehan itu bukan hanya bersifat pribadi akan tetapi juga keshalehan secara sosial. Orang yang rajin shalat dan puasa juga harus banyak bersedekah untuk fakir miskin. Menolong orang yang kesusahan, kerja bakti di kampung atau tempat tinggal, menengok dan membatu tetangga atau teman yang sakit, ikut shalat jenazah, gotong royong, membantu pernikahan, aqiqahan, kenduri dan lain sebagainya. Setiap keshalehan individu yang dilakukan harus berimbas kepada keshalehan sosial. Jangan hanya mementingkan keshalehan pribadi (shalat, puasa, zakat, haji, baca al qur’an dll) sementara keshalehahn sosial diabaikan. Allah Swt menyatakan bahwa keshalehan individu dan keshalehan sosial itu merupakan kabajikan yang harus dilaksanakan. Sebab, ketika keduanya dilaksanakan secara beriringan, maka dia akan memperoleh kebaikan dan mendapat derajat takwa disisi Allah Swt.

۞لَّيۡسَ ٱلۡبِرَّ أَن تُوَلُّواْ وُجُوهَكُمۡ قِبَلَ ٱلۡمَشۡرِقِ وَٱلۡمَغۡرِبِ وَلَٰكِنَّ ٱلۡبِرَّ مَنۡ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ وَٱلۡكِتَٰبِ وَٱلنَّبِيِّۧنَ وَءَاتَى ٱلۡمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ ذَوِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينَ وَٱبۡنَ ٱلسَّبِيلِ وَٱلسَّآئِلِينَ وَفِي ٱلرِّقَابِ وَأَقَامَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَى ٱلزَّكَوٰةَ وَٱلۡمُوفُونَ بِعَهۡدِهِمۡ إِذَا عَٰهَدُواْۖ وَٱلصَّٰبِرِينَ فِي ٱلۡبَأۡسَآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَحِينَ ٱلۡبَأۡسِۗ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُتَّقُونَ ١٧٧

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (Qs. Al Baqarah, 2:177). 

Disinilah letak takwa itu. Sebab, arti takwa itu kan menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Perintah dan larangan Allah itu banyak sekali. Mungkin diantara kita ada yang tidak mengetahui perintah dan larangannya itu, sehingga terkadang tidak menyadarinya bahwa yang dilakukannya itu merupakan perintah Allah, atau dia tidak menyadari bahwa yang dikerjakannya itu sebenarnya dilarang oleh Allah. Untuk itu hendaklah kita senantiasa menjalankan ketaatan kepada Allah Swt. Tetap sabar dalam menjalankan setiap perintah Allah Swt. Khusyuk dalam menjalankan setiap ibadah. Perbanyak sedekah. Laksanakan perintah puasa, baik yang wajib maupun sunnah. Jaga kehormatan diri. Senantiasa berzikir (mengingat) Allah Swt dalam setiap kesempatan. Maka, Allah Swt akan memeberikan ampunan dan pahala yang besar. Semoga! Wallahu a’lam…

إِنَّ ٱلۡمُسۡلِمِينَ وَٱلۡمُسۡلِمَٰتِ وَٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ وَٱلۡقَٰنِتِينَ وَٱلۡقَٰنِتَٰتِ وَٱلصَّٰدِقِينَ وَٱلصَّٰدِقَٰتِ وَٱلصَّٰبِرِينَ وَٱلصَّٰبِرَٰتِ وَٱلۡخَٰشِعِينَ وَٱلۡخَٰشِعَٰتِ وَٱلۡمُتَصَدِّقِينَ وَٱلۡمُتَصَدِّقَٰتِ وَٱلصَّٰٓئِمِينَ وَٱلصَّٰٓئِمَٰتِ وَٱلۡحَٰفِظِينَ فُرُوجَهُمۡ وَٱلۡحَٰفِظَٰتِ وَٱلذَّٰكِرِينَ ٱللَّهَ كَثِيرٗا وَٱلذَّٰكِرَٰتِ أَعَدَّ ٱللَّهُ لَهُم مَّغۡفِرَةٗ وَأَجۡرًا عَظِيمٗا ٣٥

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu', laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Qs. Al Ahzab, 33:35). 

 

#Menyebarluaskan Kebaikan#

Paringin, 23 Februari 2026 M / 5 Ramadhan 1447 H

Awali Ramadhan Tahun 2026, MAN 3 Balangan Isi Kegiatan Shlat Dhuha Berjamaah dan Tadarus

Popular