MENYEBARLUASKAN KEBAIKAN

Web ini Kumpulan tulisan kajian keagamaan yang menarik berdasarkan Al Qur’an dan Hadits Nabi Saw. Selain tulisan, Web juga berisi berita menarik seputar Madrasah, Video Tiktok dan Youtube yang baik untuk ditonton. Ikuti terus kajiannya, jangan sampai terlewatkan. Baca semua tulisannya. Semoga mendapatkan kebaikan. Amin

Senin, 23 Februari 2026

Berpuasa, Tapi Tidak Shalat?

Sering kita mendengar pertanyaan, bagaimana orang yang berpuasa tapi tidak mengerjakan shalat, apakah puasanya sah atau tidak?.  

Tulisan ini bukan untuk menjelaskan secara fiqih, apakah sah atau tidaknya seseorang berpuasa ketika dia tidak mengerjakan shalat. Sebab, puasa dan shalat itu merupakan bagian dari rukun Islam. Mungkin kalau kita teruskan bisa saja orang berpuasa tapi tidak berzakat. Atau sebaliknya, dia berzakat tapi tidak berpuasa. Bisa juga, tidak shalat, tidak puasa, tidak berzakat tapi statusnya sudah berhaji. Atau, tidak semuanya, tidak shalat, puasa, zakat, haji padahal dia seorang muslim. Sebab, syarat seseorang dikatakan muslim ketika dia sudah mengucapkan syahadat. Atau secara turun-temurun. Datuk kakeknya muslim, maka dia juga berstatus sebagai orang islam. Walaupun secara ibadah, tidak pernah ikut melaksanakan ibadah, seperti shalat fardhu, puasa, zakat, shalat jumat dan lainnya bahkan cenderung melaksanakan keburukan seperti mabuk-mabukan, zina, mencuri, merampok, penipu, dan lain sebagainya. Hal ini bisa dilihat disekitar kita. Biasanya ada saja di suatu daerah orang-orang seperti itu, padahal sebagiannya adalah orang yang memiliki pengetahuan. Tetapi mereka tidak mau mengerjakan syari’at agama. 

Dalam Islam, setiap perintah dari Allah Swt itu wajib dilaksanakan sesuai dengan kemampuan masing-masing. Semua yang ada di dalam rukun Islam itu merupakan perintah Allah dan Rasul-Nya (Nabi Muhammad Saw). Mulai dari syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji itu jelas dalilnya, baik dalam al qur’an maupun hadits Nabi Saw. Banyak ayat al qur’an yang memerintahkan untuk mendirikan shalat, melaksanakan puasa, menunaikan zakat dan melaksanakan haji dan umrah bagi orang islam yang mampu. Artinya, pelaksanaan ibadah yang diperintahkan Allah Swt tidak boleh dikerjakan secara parsial. Misalnya, shalat saja dikerjakan, puasa, zakat, haji tidak usah. Atau haji saja yang dilaksanakan karena dia punya harta yang banyak, tapi tidak pernah shalat, puasa dan berzakat. Mengerjakan ibadah itu tidak boleh pilih-pilih. Semuanya harus bisa dikerjakan secara berbarengan atau paralel. Orang berpuasa, maka dia juga mengerjakan shalat dan berzakat. Dan aktivitas ibadah lainnya. 

Tidak hanya terkait dengan rukun islam yang 5 itu saja. Semua perintah Allah dan Rasulnya harus dilaksanakan. Baik itu ibadah Mahdhah ataupun Ghairu Mahdhah. Ibadah Mahdhah adalah ibadah murni yang ditentukan tata cara, waktu dan tempatnya. Ibadah ini merupakan hubungan vertikal (langsung) antara Allah dan hamba-Nya. Contohnya, shalat puasa, zakat, haji dan sebagainya. sedangkan ibadah Ghairu Mahdhah merupakan pekerjaan sehari-hari yang bernilai ibadah apabila diniatkan betul-betul karena Allah, tidak terikat oleh aturan tata cara yang baku dan lebih bersifat horizontal (sosial). Seperti belajar, guru, dosen, pedagang, petani, ASN, TNI-Polri, dan lain sebagainya. 

Sebagai seorang muslim, kita dituntut untuk melaksanakan Amal Shaleh (Kebaikan). Keshalehan itu bukan hanya bersifat pribadi akan tetapi juga keshalehan secara sosial. Orang yang rajin shalat dan puasa juga harus banyak bersedekah untuk fakir miskin. Menolong orang yang kesusahan, kerja bakti di kampung atau tempat tinggal, menengok dan membatu tetangga atau teman yang sakit, ikut shalat jenazah, gotong royong, membantu pernikahan, aqiqahan, kenduri dan lain sebagainya. Setiap keshalehan individu yang dilakukan harus berimbas kepada keshalehan sosial. Jangan hanya mementingkan keshalehan pribadi (shalat, puasa, zakat, haji, baca al qur’an dll) sementara keshalehahn sosial diabaikan. Allah Swt menyatakan bahwa keshalehan individu dan keshalehan sosial itu merupakan kabajikan yang harus dilaksanakan. Sebab, ketika keduanya dilaksanakan secara beriringan, maka dia akan memperoleh kebaikan dan mendapat derajat takwa disisi Allah Swt.

۞لَّيۡسَ ٱلۡبِرَّ أَن تُوَلُّواْ وُجُوهَكُمۡ قِبَلَ ٱلۡمَشۡرِقِ وَٱلۡمَغۡرِبِ وَلَٰكِنَّ ٱلۡبِرَّ مَنۡ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ وَٱلۡكِتَٰبِ وَٱلنَّبِيِّۧنَ وَءَاتَى ٱلۡمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ ذَوِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينَ وَٱبۡنَ ٱلسَّبِيلِ وَٱلسَّآئِلِينَ وَفِي ٱلرِّقَابِ وَأَقَامَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَى ٱلزَّكَوٰةَ وَٱلۡمُوفُونَ بِعَهۡدِهِمۡ إِذَا عَٰهَدُواْۖ وَٱلصَّٰبِرِينَ فِي ٱلۡبَأۡسَآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَحِينَ ٱلۡبَأۡسِۗ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُتَّقُونَ ١٧٧

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (Qs. Al Baqarah, 2:177). 

Disinilah letak takwa itu. Sebab, arti takwa itu kan menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Perintah dan larangan Allah itu banyak sekali. Mungkin diantara kita ada yang tidak mengetahui perintah dan larangannya itu, sehingga terkadang tidak menyadarinya bahwa yang dilakukannya itu merupakan perintah Allah, atau dia tidak menyadari bahwa yang dikerjakannya itu sebenarnya dilarang oleh Allah. Untuk itu hendaklah kita senantiasa menjalankan ketaatan kepada Allah Swt. Tetap sabar dalam menjalankan setiap perintah Allah Swt. Khusyuk dalam menjalankan setiap ibadah. Perbanyak sedekah. Laksanakan perintah puasa, baik yang wajib maupun sunnah. Jaga kehormatan diri. Senantiasa berzikir (mengingat) Allah Swt dalam setiap kesempatan. Maka, Allah Swt akan memeberikan ampunan dan pahala yang besar. Semoga! Wallahu a’lam…

إِنَّ ٱلۡمُسۡلِمِينَ وَٱلۡمُسۡلِمَٰتِ وَٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ وَٱلۡقَٰنِتِينَ وَٱلۡقَٰنِتَٰتِ وَٱلصَّٰدِقِينَ وَٱلصَّٰدِقَٰتِ وَٱلصَّٰبِرِينَ وَٱلصَّٰبِرَٰتِ وَٱلۡخَٰشِعِينَ وَٱلۡخَٰشِعَٰتِ وَٱلۡمُتَصَدِّقِينَ وَٱلۡمُتَصَدِّقَٰتِ وَٱلصَّٰٓئِمِينَ وَٱلصَّٰٓئِمَٰتِ وَٱلۡحَٰفِظِينَ فُرُوجَهُمۡ وَٱلۡحَٰفِظَٰتِ وَٱلذَّٰكِرِينَ ٱللَّهَ كَثِيرٗا وَٱلذَّٰكِرَٰتِ أَعَدَّ ٱللَّهُ لَهُم مَّغۡفِرَةٗ وَأَجۡرًا عَظِيمٗا ٣٥

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu', laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Qs. Al Ahzab, 33:35). 

 

#Menyebarluaskan Kebaikan#

Paringin, 23 Februari 2026 M / 5 Ramadhan 1447 H

Awali Ramadhan Tahun 2026, MAN 3 Balangan Isi Kegiatan Shlat Dhuha Berjamaah dan Tadarus

Minggu, 22 Februari 2026

Berpuasa Itu Semangat!

Berpuasa adalah menahan lapar dan minum serta hubungan seksual antara suami istri dari terbit fajar sampai tenggelamnya matahari. Aktitas puasa pada bulan Ramadhan dilaksanakan setiap hari selama 1 bulan penuh di bulan Ramadhan. 

Akibat perut menahan lapar dan haus selama kurang lebih 12 jam, bagi yang tidak terbiasa berpuasa akan merasa lelah, malas, loyo dan mengantuk. Hal itu lumrah terjadi pada siapa saja. Sebab, perut yang lapar dan haus bawaannya itu mau istirahat dan tidur saja. Terkadang semangat kerja pun jadi menurun. Tubuh yang asalnya kuat mengangkat beban yang berat menjadi lemah. Jam kerja di pemerintah juga dikurangi yang biasanya 8,5 jam perhari kecuali hari jumat menjadi 7 jam perharinya (lima hari kerja). Sekolah/madrasah ada yang diliburkan. Walaupun masuk, jamnya juga dikurangi. Anak-anak sekolah dianjurkan untuk belajar materi keagamaan saja. Sehingga guru yang tidak memiliki latar belakang ilmu agama hampir tidak bisa menyesuaikan dengan materi yang diajarkan saat bulan Ramadhan. 

Padahal, berpuasa pada bulan Ramadhan itu harusnya semangat. Berpuasa bukan malah bermalas-malasan. Semangat kerja tidak boleh kendur. Walaupun perut dalam keadaan kosong di siang hari. Tenggorokan kering karena menahan haus. Berpuasa harus tetap semangat. Jangan hanya tidur. Justru kebanyakan tidur akan membuat badan dan jiwa tidak sehat. Tubuh menjadi sakit-sakitan. Otak menjadi lemah, sehingga daya pikir menjadi berkurang. Inilah yang menyebabkan semangat kerja menjadi turun. Semangat itu muncul dari jiwa yang bersih. Dalam jiwa tertanam niat yang tulus untuk senantiasa beribadah kepada Allah Swt. Bekerja (apapun pekerjaannya) merupakan ibadah. Petani turun ke sawah seperti biasa untuk menggarap sawahnya agar menghasilkan panen padi yang melimpah. Pedagang melakukan aktivitas dagangnya seperti biasa dengan jujur, ramah dan Amanah, agar harta yang didapatnya menjadi berkah. Buruh juga bekerja seperti biasa. Mengangkat beban yang berat tidak masalah, niatkan untuk anak isteri tercinta di rumah. Sehingga semangat kerja akan tumbuh dengan baik. Para ASN (Bisa juga guru) bekerja dengan semangat. Niatkan untuk berbuat kebaikan bagi bangsa dan negara. Niatkan untuk memberi ilmu pengetahuan, dan pekerjaannya lainnya hendaklah untuk kebaikan baik diri sendiri, keluarga, masayarakat, bangsa dan negara. Walaupun dalam keadaan berpuasa, maka semangat akan tumbuh dengan sendirinya. Dia bekerja tanpa kenal lelah. Semangat, dan terus semangat, karena dia yakin bahwa kerja yang dilakukan dengan niat karena Allah, maka akan menghasilkan sesuatu yang baik dan berkah. 

Nah, Bagaimana menumbuhkan semangat dalam berpuasa? Intinya ada pada diri masing-masing. Tergantung niat dan pemahamannya terhadap puasa. Apa tujuan berpuasanya, apakah hanya menjalankan kewajiban agama semata? Atau, ikut-ikutan saja? Atau ingin disebut-sebut sebagai orang yang berpuasa? Atau malu dengan keluarga, tetangga, teman, masyarakat dan lainnya? Atau untuk mengharap ampunan dan pahala yang besar dari Allah Swt?. 

Berpuasa itu bukan karena terpaksa. Bukan karena ikut-ikutan dan rasa malu terhadap orang lain. Berpuasa juga bukan hanya melaksanakan kewajiban agama. Ketika sudah bisa menahan lapar dan haus, maka berhasil sudah puasanya. Puasa itu merupakan kebutuhan bagi setiap umat Islam. Orang yang berpuasa dengan baik dan benar, sesuai dengan panduan dari Nabi Saw. Maka puasanya akan bermanfaat bagi dirinya. Tubuhnya akan sehat, jiwanya akan tenang, tentram dan damai. Serta mendapat derajat takwa disisi Allah Swt. Untuk itu, puasa itu merupakan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi oleh semua Muslim. Puasa yang dikerjakan itu harus benar-benar dilaksanakan dengan sebaik mungkin. Agar manfaat puasa itu bisa diraih oleh semua orang Islam. Puasa bukannya hanya menjalankan kewajiban belaka. Ketika sudah mampu menahan lapar, haus dan hubungan seksual pada siang hari, maka berhasillah puasanya. Tentunya tidak hanya seperti itu. Puasa Ramadan merupakan pendidikan dan pelatihan pengendalian diri dari perbuatan-perbuatan yang tercela. Lisan, pendengaran, penglihatan dan hatinya terjaga dari sifat-sifat buruk. Hal ini akan terus terbawa setelah selesai bulan Ramadan. Sehingga membentuk kepribadian yang baik dalam kehidupan sehari-hari. 

Dengan memahami makna dan manfaat puasa itu, maka tentunya kita harus semangat untuk meraihnya. Tidak ada istilah bermalas-malasan. Jangan banyak tidur. Bekerja lebih giat lagi. Lebih ikhlas dan disiplin. Perbanyak membaca al-qur’an dan mentadabburinya (memahami isi kandungannya). Perbanyak shalat sunnah, sedekah, i’tikaf, shalat fardhu berjamaah. Apabila kita mampu melaksanakan puasa dengan sungguh-sungguh, maka Allah Swt akan memberikan ampunan dan pahala yang besar. Semoga! Wallahu a’lam…

إِنَّ ٱلۡمُسۡلِمِينَ وَٱلۡمُسۡلِمَٰتِ وَٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ وَٱلۡقَٰنِتِينَ وَٱلۡقَٰنِتَٰتِ وَٱلصَّٰدِقِينَ وَٱلصَّٰدِقَٰتِ وَٱلصَّٰبِرِينَ وَٱلصَّٰبِرَٰتِ وَٱلۡخَٰشِعِينَ وَٱلۡخَٰشِعَٰتِ وَٱلۡمُتَصَدِّقِينَ وَٱلۡمُتَصَدِّقَٰتِ وَٱلصَّٰٓئِمِينَ وَٱلصَّٰٓئِمَٰتِ وَٱلۡحَٰفِظِينَ فُرُوجَهُمۡ وَٱلۡحَٰفِظَٰتِ وَٱلذَّٰكِرِينَ ٱللَّهَ كَثِيرٗا وَٱلذَّٰكِرَٰتِ أَعَدَّ ٱللَّهُ لَهُم مَّغۡفِرَةٗ وَأَجۡرًا عَظِيمٗا ٣٥

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu', laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Qs. Al Ahzab, 33:35). 

 

#Menyebarluaskan Kebaikan#

Paringin, 22 Februari 2026 M / 4 Ramadhan 1447 H

Sabtu, 21 Februari 2026

Bulan Ramadhan Masih ada Kejahatan?

إِذَا دَخَلَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ وَسُلْسِلَتْ الشَّيَاطِينُ. (صحيح البخاري ٣٠٣٥, صحيح مسلم ١٧٩٣, سنن النسائي ٢٠٧٢, مسند أحمد ٧٤٥٠, سنن الدارمي ١٧١٠, موطأ مالك ٦٠٤)

“Apabila datang bulan Ramadlan pintu-pintu surga dibuka sedang pintu-pintu neraka ditutup dan syaitan-syaitan dibelenggu.” (Shahih Bukhari 3035, Shahih Muslim 1793, Sunan Nasa'i 2072, Musnad Ahmad 7450, Sunan Addarimi  1710, Muwatha Malik 604).

 

Dalam hadits di atas disebutkan bahwa pintu-pintu surga di buka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan dibelenggu. Ini menandakan bahwa pada bulan Ramadhan diberikan keberkahan yang luar biasa. Sebab, pintu surga dibuka dan pintu neraka ditutup. Hal ini tidak berlaku pada bulan-bulan lainnya selama se tahun. Bulan Ramadhan merupakan bulan yang istemewa yang harus dimanfaatkan sebaik mungkin agar bisa menggapai keberkahan bulan itu.

 

Bulan Ramadhan dimanfaatkan umat islam untuk memperbanyak ibadah sunnah. Seperti tadarus al-qur’an, shalat tarawih dan tahajud, shalat dhuha, sedekah, dzikir, i’tikaf, dan lain-lain. Sehingga masjid dan mushalla tidak sepi setiap hari dan malamnya. Umat islam berlomba-lomba berbuat kebaikan, sehingga jarang sekali kita mendengar ada kejahatan di bulan Ramadhan. Hal ini sesuai dengan hadits Nabi di atas, yang menyatakan pintu surga di buka dan pintu neraka di tutup serta setan-setan dibelenggu. Banyaknya kebaikan yang dilakukan sehingga hampir menghilangkan kejahatan yang dilakukan saat berpuasa. Apalagi setan-setan selama Ramadhan dibelenggu, sehingga godaan-godaan setan mungkin saja berkurang atau bahkan tidak ada sama sekali. Dengan dibelenggunya setan, seharusnya kejahatan tidak ada lagi atau paling tidak berkurang. Karena, pada bulan Ramadhan mereka dibelenggu atau dikurung. Artnya, selama Ramadhan setan tidak bisa lagi menggoda manusia untuk berbuat jahat. Seharusnya seperti itu. Akan tetapi, kalau kita lihat faktanya, masih banyak kejahatan dan kemaksiatan yang terjadi pada bulan Ramadhan. Seperti mabuk-mabukan, zina, penipuan, pencurian, perampokan, perkelahian, pembunuhan dan lain-lain. Ada yang pesta minuman keras, mengonsumsi narkoba, selingkuh yang berujung kepada zina. Klub malam masih banyak yang buka, prostitusi juga masih marak, dan sebagainya. Apakah ada yang salah dengan hadis itu???.

 

Sebenarnya tidak ada yang salah dari hadits itu. Haditsnya shahih dan tidak diragukan lagi. Yang salah bukan haditsnya, akan tetapi pemahaman kita terhadap hadis itu yang kurang pas. Kebanyakan orang memahami hadis itu secara tekstual. Menganggap pintu surga benar-benar terbuka, pintu neraka benar-benar ditutup dan setan di pasung. Sehingga tidak bisa lagi menggoda manusia. Dari pemahaman secara teks ini maka berkembang pemahaman bahwa kejahatan dan maksiat tidak ada lagi. Kemudian ada yang menambahkan, walaupun setan telah dipasung akan tetapi manusia memiliki hawa nafsu sehingga kejahatan dan maksiat tetap ada pada bulan Ramadhan.

 

Semua manusia memiliki hawa nafsu. Inilah yang membuat manusia bisa berbuat jahat dan maksiat. Hawa nafsu mendorong manusia untuk berbuat yang berlebih-lebihan. Manusia memiliki kesenangan dan kenikmatan dalam hidupnya. Semua manusia menginginkannya dalam kehidupan ini. Kenikmatan dan kesenangan itu akan menimbulkan rasa nyaman dan Bahagia. Hawa nafsu selalu mendorong agar selalu mendapatkan kenikmatan dan kesenangan itu. Hal inilah yang membuat seseorang tidak puas ketika mendapatkan sesuatu. Dan mendorongnya berbuat apapun untuk mendapatkan kesenangan dan kenikmatan itu. Walaupun dengan jalan yang dilarang oleh agama. Ia tidak peduli walaupun melanggar atau menabrak aturan agama, yang penting ia senang dan nyaman. Orang seperti inilah yang menuruti dorongan hawa nafsunya. Orang yang mengikuti Hawa nafsunya akan menyebabkan dia tersesat dari jalan Allah Swt. Yakni jalan kebaikan. Allah Swt berfirman :

يَٰدَاوُۥدُ إِنَّا جَعَلۡنَٰكَ خَلِيفَةٗ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَٱحۡكُم بَيۡنَ ٱلنَّاسِ بِٱلۡحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ ٱلۡهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَضِلُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ لَهُمۡ عَذَابٞ شَدِيدُۢ بِمَا نَسُواْ يَوۡمَ ٱلۡحِسَابِ ٢٦

“Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.” (Qs. Shaad/38 : 26). 

Untuk itulah, berpuasa itu untuk mengendalikan diri dari dorongan-dorongan perilaku yang tidak baik (Hawa Nafsu). Berpuasa itu bukan hanya menahan lapar dan dahaga. Tapi, dibalik menahan lapar dan dahaga itu ada kendali untuk menahan dorongan godaan hawa nafsu. Ketika lapar dan dahaga, orang cenderung bisa bersikap sabar dari keinginan yang berlebih-lebihan. Jiwanya tercerahkan oleh puasanya. Sehingga dia bisa mengendalikan keinginan-keinginan yang mendorongnya melakukan perbuatan yang tidak baik. Dorongan untuk mencuri, berzina, menipu, berdusta, mabuk-mabukan, berkelahi, apalagi mau melakukan kejahatan yang lebih besar seperti merampok dan membunuh. Kesenangan dan kenikmatan sesaat yang diterimanya tidak menyebabkan dia lalai dari mengingat Allah Swt. Karena dia sadar, bahwa orang yang takut akan kebesaran Allah dan mampu menahan diri dari dorongan hawa nafsunya, maka surgalah sebagai balasannya kelak. Wallahu a’lam…

وَأَمَّا مَنۡ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ وَنَهَى ٱلنَّفۡسَ عَنِ ٱلۡهَوَىٰ ٤٠  فَإِنَّ ٱلۡجَنَّةَ هِيَ ٱلۡمَأۡوَىٰ ٤١

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (Qs. An Naazi´at/79: 40-41). 


#Menyebarluaskan Kebaikan#
Paringin, 21 Februari 2026 M / 3 Ramadhan 1447 H

Popular