MENYEBARLUASKAN KEBAIKAN

Web ini Kumpulan tulisan kajian keagamaan yang menarik berdasarkan Al Qur’an dan Hadits Nabi Saw. Selain tulisan, Web juga berisi berita menarik seputar Madrasah, Video Tiktok dan Youtube yang baik untuk ditonton. Ikuti terus kajiannya, jangan sampai terlewatkan. Baca semua tulisannya. Semoga mendapatkan kebaikan. Amin

Minggu, 22 Februari 2026

Berpuasa Itu Semangat!

Berpuasa adalah menahan lapar dan minum serta hubungan seksual antara suami istri dari terbit fajar sampai tenggelamnya matahari. Aktitas puasa pada bulan Ramadhan dilaksanakan setiap hari selama 1 bulan penuh di bulan Ramadhan. 

Akibat perut menahan lapar dan haus selama kurang lebih 12 jam, bagi yang tidak terbiasa berpuasa akan merasa lelah, malas, loyo dan mengantuk. Hal itu lumrah terjadi pada siapa saja. Sebab, perut yang lapar dan haus bawaannya itu mau istirahat dan tidur saja. Terkadang semangat kerja pun jadi menurun. Tubuh yang asalnya kuat mengangkat beban yang berat menjadi lemah. Jam kerja di pemerintah juga dikurangi yang biasanya 8,5 jam perhari kecuali hari jumat menjadi 7 jam perharinya (lima hari kerja). Sekolah/madrasah ada yang diliburkan. Walaupun masuk, jamnya juga dikurangi. Anak-anak sekolah dianjurkan untuk belajar materi keagamaan saja. Sehingga guru yang tidak memiliki latar belakang ilmu agama hampir tidak bisa menyesuaikan dengan materi yang diajarkan saat bulan Ramadhan. 

Padahal, berpuasa pada bulan Ramadhan itu harusnya semangat. Berpuasa bukan malah bermalas-malasan. Semangat kerja tidak boleh kendur. Walaupun perut dalam keadaan kosong di siang hari. Tenggorokan kering karena menahan haus. Berpuasa harus tetap semangat. Jangan hanya tidur. Justru kebanyakan tidur akan membuat badan dan jiwa tidak sehat. Tubuh menjadi sakit-sakitan. Otak menjadi lemah, sehingga daya pikir menjadi berkurang. Inilah yang menyebabkan semangat kerja menjadi turun. Semangat itu muncul dari jiwa yang bersih. Dalam jiwa tertanam niat yang tulus untuk senantiasa beribadah kepada Allah Swt. Bekerja (apapun pekerjaannya) merupakan ibadah. Petani turun ke sawah seperti biasa untuk menggarap sawahnya agar menghasilkan panen padi yang melimpah. Pedagang melakukan aktivitas dagangnya seperti biasa dengan jujur, ramah dan Amanah, agar harta yang didapatnya menjadi berkah. Buruh juga bekerja seperti biasa. Mengangkat beban yang berat tidak masalah, niatkan untuk anak isteri tercinta di rumah. Sehingga semangat kerja akan tumbuh dengan baik. Para ASN (Bisa juga guru) bekerja dengan semangat. Niatkan untuk berbuat kebaikan bagi bangsa dan negara. Niatkan untuk memberi ilmu pengetahuan, dan pekerjaannya lainnya hendaklah untuk kebaikan baik diri sendiri, keluarga, masayarakat, bangsa dan negara. Walaupun dalam keadaan berpuasa, maka semangat akan tumbuh dengan sendirinya. Dia bekerja tanpa kenal lelah. Semangat, dan terus semangat, karena dia yakin bahwa kerja yang dilakukan dengan niat karena Allah, maka akan menghasilkan sesuatu yang baik dan berkah. 

Nah, Bagaimana menumbuhkan semangat dalam berpuasa? Intinya ada pada diri masing-masing. Tergantung niat dan pemahamannya terhadap puasa. Apa tujuan berpuasanya, apakah hanya menjalankan kewajiban agama semata? Atau, ikut-ikutan saja? Atau ingin disebut-sebut sebagai orang yang berpuasa? Atau malu dengan keluarga, tetangga, teman, masyarakat dan lainnya? Atau untuk mengharap ampunan dan pahala yang besar dari Allah Swt?. 

Berpuasa itu bukan karena terpaksa. Bukan karena ikut-ikutan dan rasa malu terhadap orang lain. Berpuasa juga bukan hanya melaksanakan kewajiban agama. Ketika sudah bisa menahan lapar dan haus, maka berhasil sudah puasanya. Puasa itu merupakan kebutuhan bagi setiap umat Islam. Orang yang berpuasa dengan baik dan benar, sesuai dengan panduan dari Nabi Saw. Maka puasanya akan bermanfaat bagi dirinya. Tubuhnya akan sehat, jiwanya akan tenang, tentram dan damai. Serta mendapat derajat takwa disisi Allah Swt. Untuk itu, puasa itu merupakan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi oleh semua Muslim. Puasa yang dikerjakan itu harus benar-benar dilaksanakan dengan sebaik mungkin. Agar manfaat puasa itu bisa diraih oleh semua orang Islam. Puasa bukannya hanya menjalankan kewajiban belaka. Ketika sudah mampu menahan lapar, haus dan hubungan seksual pada siang hari, maka berhasillah puasanya. Tentunya tidak hanya seperti itu. Puasa Ramadan merupakan pendidikan dan pelatihan pengendalian diri dari perbuatan-perbuatan yang tercela. Lisan, pendengaran, penglihatan dan hatinya terjaga dari sifat-sifat buruk. Hal ini akan terus terbawa setelah selesai bulan Ramadan. Sehingga membentuk kepribadian yang baik dalam kehidupan sehari-hari. 

Dengan memahami makna dan manfaat puasa itu, maka tentunya kita harus semangat untuk meraihnya. Tidak ada istilah bermalas-malasan. Jangan banyak tidur. Bekerja lebih giat lagi. Lebih ikhlas dan disiplin. Perbanyak membaca al-qur’an dan mentadabburinya (memahami isi kandungannya). Perbanyak shalat sunnah, sedekah, i’tikaf, shalat fardhu berjamaah. Apabila kita mampu melaksanakan puasa dengan sungguh-sungguh, maka Allah Swt akan memberikan ampunan dan pahala yang besar. Semoga! Wallahu a’lam…

إِنَّ ٱلۡمُسۡلِمِينَ وَٱلۡمُسۡلِمَٰتِ وَٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ وَٱلۡقَٰنِتِينَ وَٱلۡقَٰنِتَٰتِ وَٱلصَّٰدِقِينَ وَٱلصَّٰدِقَٰتِ وَٱلصَّٰبِرِينَ وَٱلصَّٰبِرَٰتِ وَٱلۡخَٰشِعِينَ وَٱلۡخَٰشِعَٰتِ وَٱلۡمُتَصَدِّقِينَ وَٱلۡمُتَصَدِّقَٰتِ وَٱلصَّٰٓئِمِينَ وَٱلصَّٰٓئِمَٰتِ وَٱلۡحَٰفِظِينَ فُرُوجَهُمۡ وَٱلۡحَٰفِظَٰتِ وَٱلذَّٰكِرِينَ ٱللَّهَ كَثِيرٗا وَٱلذَّٰكِرَٰتِ أَعَدَّ ٱللَّهُ لَهُم مَّغۡفِرَةٗ وَأَجۡرًا عَظِيمٗا ٣٥

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu', laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Qs. Al Ahzab, 33:35). 

 

#Menyebarluaskan Kebaikan#

Paringin, 22 Februari 2026 M / 4 Ramadhan 1447 H

Sabtu, 21 Februari 2026

Bulan Ramadhan Masih ada Kejahatan?

إِذَا دَخَلَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ وَسُلْسِلَتْ الشَّيَاطِينُ. (صحيح البخاري ٣٠٣٥, صحيح مسلم ١٧٩٣, سنن النسائي ٢٠٧٢, مسند أحمد ٧٤٥٠, سنن الدارمي ١٧١٠, موطأ مالك ٦٠٤)

“Apabila datang bulan Ramadlan pintu-pintu surga dibuka sedang pintu-pintu neraka ditutup dan syaitan-syaitan dibelenggu.” (Shahih Bukhari 3035, Shahih Muslim 1793, Sunan Nasa'i 2072, Musnad Ahmad 7450, Sunan Addarimi  1710, Muwatha Malik 604).

 

Dalam hadits di atas disebutkan bahwa pintu-pintu surga di buka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan dibelenggu. Ini menandakan bahwa pada bulan Ramadhan diberikan keberkahan yang luar biasa. Sebab, pintu surga dibuka dan pintu neraka ditutup. Hal ini tidak berlaku pada bulan-bulan lainnya selama se tahun. Bulan Ramadhan merupakan bulan yang istemewa yang harus dimanfaatkan sebaik mungkin agar bisa menggapai keberkahan bulan itu.

 

Bulan Ramadhan dimanfaatkan umat islam untuk memperbanyak ibadah sunnah. Seperti tadarus al-qur’an, shalat tarawih dan tahajud, shalat dhuha, sedekah, dzikir, i’tikaf, dan lain-lain. Sehingga masjid dan mushalla tidak sepi setiap hari dan malamnya. Umat islam berlomba-lomba berbuat kebaikan, sehingga jarang sekali kita mendengar ada kejahatan di bulan Ramadhan. Hal ini sesuai dengan hadits Nabi di atas, yang menyatakan pintu surga di buka dan pintu neraka di tutup serta setan-setan dibelenggu. Banyaknya kebaikan yang dilakukan sehingga hampir menghilangkan kejahatan yang dilakukan saat berpuasa. Apalagi setan-setan selama Ramadhan dibelenggu, sehingga godaan-godaan setan mungkin saja berkurang atau bahkan tidak ada sama sekali. Dengan dibelenggunya setan, seharusnya kejahatan tidak ada lagi atau paling tidak berkurang. Karena, pada bulan Ramadhan mereka dibelenggu atau dikurung. Artnya, selama Ramadhan setan tidak bisa lagi menggoda manusia untuk berbuat jahat. Seharusnya seperti itu. Akan tetapi, kalau kita lihat faktanya, masih banyak kejahatan dan kemaksiatan yang terjadi pada bulan Ramadhan. Seperti mabuk-mabukan, zina, penipuan, pencurian, perampokan, perkelahian, pembunuhan dan lain-lain. Ada yang pesta minuman keras, mengonsumsi narkoba, selingkuh yang berujung kepada zina. Klub malam masih banyak yang buka, prostitusi juga masih marak, dan sebagainya. Apakah ada yang salah dengan hadis itu???.

 

Sebenarnya tidak ada yang salah dari hadits itu. Haditsnya shahih dan tidak diragukan lagi. Yang salah bukan haditsnya, akan tetapi pemahaman kita terhadap hadis itu yang kurang pas. Kebanyakan orang memahami hadis itu secara tekstual. Menganggap pintu surga benar-benar terbuka, pintu neraka benar-benar ditutup dan setan di pasung. Sehingga tidak bisa lagi menggoda manusia. Dari pemahaman secara teks ini maka berkembang pemahaman bahwa kejahatan dan maksiat tidak ada lagi. Kemudian ada yang menambahkan, walaupun setan telah dipasung akan tetapi manusia memiliki hawa nafsu sehingga kejahatan dan maksiat tetap ada pada bulan Ramadhan.

 

Semua manusia memiliki hawa nafsu. Inilah yang membuat manusia bisa berbuat jahat dan maksiat. Hawa nafsu mendorong manusia untuk berbuat yang berlebih-lebihan. Manusia memiliki kesenangan dan kenikmatan dalam hidupnya. Semua manusia menginginkannya dalam kehidupan ini. Kenikmatan dan kesenangan itu akan menimbulkan rasa nyaman dan Bahagia. Hawa nafsu selalu mendorong agar selalu mendapatkan kenikmatan dan kesenangan itu. Hal inilah yang membuat seseorang tidak puas ketika mendapatkan sesuatu. Dan mendorongnya berbuat apapun untuk mendapatkan kesenangan dan kenikmatan itu. Walaupun dengan jalan yang dilarang oleh agama. Ia tidak peduli walaupun melanggar atau menabrak aturan agama, yang penting ia senang dan nyaman. Orang seperti inilah yang menuruti dorongan hawa nafsunya. Orang yang mengikuti Hawa nafsunya akan menyebabkan dia tersesat dari jalan Allah Swt. Yakni jalan kebaikan. Allah Swt berfirman :

يَٰدَاوُۥدُ إِنَّا جَعَلۡنَٰكَ خَلِيفَةٗ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَٱحۡكُم بَيۡنَ ٱلنَّاسِ بِٱلۡحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ ٱلۡهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَضِلُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ لَهُمۡ عَذَابٞ شَدِيدُۢ بِمَا نَسُواْ يَوۡمَ ٱلۡحِسَابِ ٢٦

“Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.” (Qs. Shaad/38 : 26). 

Untuk itulah, berpuasa itu untuk mengendalikan diri dari dorongan-dorongan perilaku yang tidak baik (Hawa Nafsu). Berpuasa itu bukan hanya menahan lapar dan dahaga. Tapi, dibalik menahan lapar dan dahaga itu ada kendali untuk menahan dorongan godaan hawa nafsu. Ketika lapar dan dahaga, orang cenderung bisa bersikap sabar dari keinginan yang berlebih-lebihan. Jiwanya tercerahkan oleh puasanya. Sehingga dia bisa mengendalikan keinginan-keinginan yang mendorongnya melakukan perbuatan yang tidak baik. Dorongan untuk mencuri, berzina, menipu, berdusta, mabuk-mabukan, berkelahi, apalagi mau melakukan kejahatan yang lebih besar seperti merampok dan membunuh. Kesenangan dan kenikmatan sesaat yang diterimanya tidak menyebabkan dia lalai dari mengingat Allah Swt. Karena dia sadar, bahwa orang yang takut akan kebesaran Allah dan mampu menahan diri dari dorongan hawa nafsunya, maka surgalah sebagai balasannya kelak. Wallahu a’lam…

وَأَمَّا مَنۡ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ وَنَهَى ٱلنَّفۡسَ عَنِ ٱلۡهَوَىٰ ٤٠  فَإِنَّ ٱلۡجَنَّةَ هِيَ ٱلۡمَأۡوَىٰ ٤١

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (Qs. An Naazi´at/79: 40-41). 


#Menyebarluaskan Kebaikan#
Paringin, 21 Februari 2026 M / 3 Ramadhan 1447 H

Jumat, 20 Februari 2026

Puasa Melatih Kejujuran

Puasa merupakan perbuatan yang dilakukan secara pribadi atau individu bukan kelompok. Puasa dilakukan dari terbit fajar sampai tenggelamnya matahari. Puasa menahan diri dari makan, minum dan bersenggama pada siang hari. Ketika seseorang sudah melakukan pengertian puasa itu, maka secara hukum fiqih dia telah berpuasa, dan kewajibannya sudah gugur.

 

Akan tetapi, puasa itu tidak hanya sekedar menahan lapar, haus dan senggama saja. Berpuasa itu melatih mengendalikan diri (jiwa) dari sifat-sifat yang tidak baik (Akhlak Madzmumah). Sehingga muncul dari dirinya sifat-sifat yang baik (Akhlak Mahmudah).

 

Ketika berpuasa hanya dirinya saja yang mengetahui. Orang lain disekitarnya bisa tidak mengetahuinya. Ketika dia tidak makan, tidak minum orang lain tidak tahu. Bahkan ketika dia makan atau minum sedikit aja tidak ada yang tahu. Hanya dirinya saja yang mengetahuinya. Makan dan minum walaupun sedikit akan membatalkan puasa. Ketika perbuatan itu dilakukan secara sembunyi-sembunyi pun akan batal puasanya. Disinilah dituntut sebuah kejujuran dalam melaksanakan ibadah puasa.

 

Kita harus benar-benar melaksanakan ibadah puasa dengan sebaik-baiknya. Laksanakan puasa dengan jujur. Benar-benar menahan lapar dan haus dari terbit fajar sampai tenggelam matahari. Tidak hanya itu, jujur dalam berpuasa juga tercermin dari sifat pribadinya.

 

Pada era sekarang, kemajuan teknologi sungguh luar biasa. Dengan adanya Handphone (HP) yang terkoneksi ke internit, maka pengguna HP bisa melihat, menonton dan membaca berita atau video apa saja. Media sosial seperti Instagram, Tiktok, Youtube, Facebook, WathsApp dan lainnya sudah menjadi kebutuhan para pengguna HP. Setiap saat mereka membuka media sosial, membaca berita apa saja, melihat dan menonton video apa saja. Sehingga, tidak jarang berita atau video yang ditonton itu berbau pornografi. Kita tidak bisa memfilter tontonan yang ada di media sosial. Awalnya tidak ada keinginan menonton video-video yang tidak baik, akan tetapi ketika kita membuka media sosial, maka konten-konten pornografi bisa muncul. Konten-konten pornografi ada yang vulgar ada juga yang tidak. Hanya menampilkan lekak-lekuk tubuh atau aurat wanita. Ketika kita melihat dengan sungguh-sungguh adegan yang ada di video itu, maka puasa kita akan berkurang pahalanya. bahkan ada yang mengatakan batal, walaupun secara fiqih yang membatalkan puasa itu Adalah makan dan minum atau ada sesuatu yang masuk ke dalam peruts secara sengaja. Akan tetapi, secara hakiki dia sudah merusak kesucian puasanya. Di mana puasa itu menjaga seluruh panca Inderanya dari hal-hal yang bisa merusak nilai puasanya.

 

Oleh sebab itu, Rasululullah Saw menyatakan bahwa banyak di kalangan umat islam yang berpuasa akan tetapi tidak mendapatkan pahala puasa. Yang mereka dapatkan hanya lapar dan dahaga saja.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ, قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ. (مسند أحمد ٨٥٠١, سنن ابن ماجه ١٦٨٠)

Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah Saw bersabda: "Berapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan bagian dari puasanya melainkan lapar dan dahaga”. (Musnad Ahmad 8051, Sunan Ibnu Majah 1680).

 

Oleh sebab, setiap bulan Ramadhan hendaknya melatih diri untuk berbuat jujur. Jujur pada diri sendiri maupun orang lain. Jujur dalam perbuatan maupun dalam setiap pekerjaan. Jujur merupakan salah satu dari sifat terpuji. Jujur merupakan akhlak yang diajarkan Rasulullah Saw. Sifat jujur harus melekat dalam diri masing-masing. Dan harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak hanya puasa saja, sikap jujur itu harus diterapkan disetiap lini kehidupan. Jujur disini bukan hanya tidak makan dan minum saja. Akan tetapi jujur dengan pandangan kita, pendengaran, tutur kata yang baik, dan aktivitas ibadah selama bulan Ramadhan. Dengan sikap jujur ada tertanam dalam diri kita, maka kita akan bisa menjaga kesucian puasa dari awal sampai akhir. Kita akan ikhlas menjalani ibadah puasa. Panca Indera kita terjaga, ibadah akan menjadi lebih khusyuk.

 

Rasululullah Saw menyatakan bahwa kejujuran akan membimbing pada kebaikan. Dan kebaikan itu akan membimbing kepada surganya Allah. Begitu juga sebaliknya, kedustaan itu akan mengantarkan pada kejahatan, dan sesungguhnya kejahatan itu akan menggiring ke neraka. Oleh sebab itu, marilah kita selalu bersikap jujur dalam hidup ini. Tidak hanya saat berpuasa pada bulan Ramadhan. Akan tetapi terus berlanjut di bulan-bulan setelahnya. Dalam aktivitas apapun, jujur harus tetap dilaksanakan. Ketika kita sudah terlatih berbuat jujur, maka kita akan terbiasa nantinya. Dengan begitu, kita akan terbimbing untuk senantiassa berbuat kebaikan. Dan, mudah-mudahan kebaikan yang kita kerjakan membimbing kita menuju surganya Allah Swt. Aminn!!! Wallahu a’lam…

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يَكُونَ صِدِّيقًا وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا. )صحيح البخاري ٥٦٢٩, صحيح مسلم ٤٧١٩, سنن الترمذي ١٨٩٤, مسند أحمد ٣٤٥٦(

 

Dari Abdullah ra dari Nabi Saw beliau bersabda: "Sesungguhnya kejujuran akan membimbing pada kebaikan, dan kebaikan itu akan membimbing ke surga, sesungguhnya jika seseorang yang senantiasa berlaku jujur hingga ia akan dicatat sebagai orang yang jujur. Dan sesungguhnya kedustaan itu akan mengantarkan pada kejahatan, dan sesungguhnya kejahatan itu akan menggiring ke neraka. Dan sesungguhnya jika seseorang yang selalu berdusta sehingga akan dicatat baginya sebagai seorang pendusta." (Shahih Bukhari 5629, Shahih Muslim 4719, Sunan Tirmidzi 1894, Musnad Ahmad 3456).

 


#Menyebarluaskan Kebaikan”

Paringin, 20 Februari 2026 M / 2 Ramadhan 1447 H

Kamis, 19 Februari 2026

Ramadan Obral Pahala

“Apabila datang bulan Ramadan pintu-pintu surga dibuka sedang pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu.” (Shahih Bukhari 3035, Shahih Muslim 1793, Sunan Nasa'i 2072, Musnad Ahmad 7450, Sunan Darimi 1710 , Muwatha' Malik 604). 

Bulan ramadan merupakan bulan obral pahala bagi orang yang berbuat kebaikan. Semua perbuatan baik yang dilakukan pada bulan ramadan, sekecil apapun perbuatan baik itu akan mendapat ganjaran pahala yang berlipat ganda. Bahkan tidur pun berpahala asalkan tidurnya tidak kebablasan sampai meniadakan shalat yang wajib dan terlalu lama. Pada bulan ramadan juga, kesempatan untuk berbuat dosa itu kemungkinannya kecil. Kenapa? 

Pada bulan Ramadhan kita menjaga pandangan dan pendengaran dari hal-hal yang tidak baik. Sudah menjadi keyakinan bahwa pandangan yang mengandung syahwat bisa membatalkan puasa paling tidak mengurangi jatah pahala. Begitu juga dengan pendengaran yang tidak baik bisa mengurangi pahala puasa. Mulut juga terjaga dari perkataan yang tidak baik. Bahkan, pada saat Ramadhan sangat jarang ada ibu-ibu yang nongkrong di beranda rumah untuk ngrumpi (ghibah). Ini menandakan bahwa bulan Ramadhan memang terjaga dari perbuatan-perbuatan yang tidak baik. 

Selain itu, Tingkat kejahatan selama bulan Ramadhan juga kecil. Pencurian, perampokan, dan pembunuhan, perkosaan, perjinahan dan lain-lainnya sangat jarang kita dengar di televisi ataupun media sosial. Umat islam di seluruh penjuru bumi sama-sama menjaga kesucian bulan Ramadhan. Sehingga terjaga dengan baik. 

Pada bulan Ramadhan masjid, mushalla penuh dengan jamaah untuk melaksanakan shalat berjamaah, apalagi pada malam hari saat jamaah melaksanakan shalat tarawih, masjid dan mushalla sangat ramai. Selesai shalat tarawih lanjut dengan tadarus al qur’an. Ada juga yang mengisi dengan ceramah atau tausyiah. Ini menandakan bulan Ramadhan penuh dengan kebaikan dan keberkahan. Pantas saja, Rasululullah Saw dalam hadits di atas, menyebutkan bahwa pada bulan ramadan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan dibelenggu. Ini membuktikan bahwa pada bulan Ramadhan diberikan Allah keluasaan untuk berbuat kebaikan, hal ini ditandai dengan dibukanya pintu-pintu surga. Begitu sebaliknya, tingkat kejahatan dibulan ramadan berkurang hal ini ditandai dengan ditutupnya pintu-pintu neraka. Apalagi setan dibelenggu (dipasung) sehingga mereka tidak leluasa mengganggu atau menggoda manusia untuk berbuat jahat dan maksiat. 

Dari sinilah terbuka kesempatan emas bagi seluruh umat islam untuk berlomba-lomba berbuat kebaikan selama bulan Ramadhan. Rasulullah Saw menyatakan bahwa setiap satu kebaikan yang dilakukan akan dibalas 10 kali lipat bahkan sampai 700 kali lipat balasannya. Sedangkan orang yang berpuasa langsung diberikan Allah tanpa ada batasannya. Puasa yang dikerjakan dengan baik akan menjadi tameng atau perisai dari siksa api neraka. Artinya, orang yang berpuasa tidak akan mendapat siksa neraka. Bahkan bau mulut orang yang berpuasa itu lebih wangi (harum) daripada minyak wangi yang ada di sisi Allah Swt.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ, قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ رَبَّكُمْ يَقُولُ كُلُّ حَسَنَةٍ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ وَالصَّوْمُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ الصَّوْمُ جُنَّةٌ مِنْ النَّارِ وَلَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ وَإِنْ جَهِلَ عَلَى أَحَدِكُمْ جَاهِلٌ وَهُوَ صَائِمٌ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ. (سنن الترمذي ٦٩٥, مسند أحمد ٧٢٨٩, موطأ مالك ٦٠٣, سنن الدارمي ١٧٠٥)

Dari Abu Hurairah dia berkata: Rasulullah Saw bersabda: "Sesungguhnya Rabb kalian berfirman: Setiap kebaikan diberi pahala sebanyak sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat, sedangkan puasa diperuntukkan untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan memberi pahala puasanya (tanpa batasan jumlah pahala), puasa merupakan tameng dari api neraka, dan bau mulut orang yang berpuasa, lebih wangi di sisi Allah daripada wangi misk (minyak wangi) dan jika salah seorang diantara kalian mengajakmu bertengkar padahal dia sedang berpuasa, maka katakanlah sesungguhnya saya sedang berpusa." (Sunan Tirmidzi 695, Musnad Ahmad 728,9 Muwatha' Malik 603,  Sunan Darimi 1705). 

Untuk itu, mari kita manfaatkan sebaik-baiknya bulan Ramadhan ini dengan berpuasa selama sebulan penuh. Isi dengan banyak berbuat kebaikan seperti sedekah, baca al qur’an, shalat berjamaah, shalat malam (Tarawih dan Tahajud). Kemudian jaga pandangan dari hal-hal yang mengundang syahwat. Jaga pendengaran dari hal yang tidak baik. Jaga mulut untuk tidak berkata kasar, mengumpat serta mengghibah orang lain. Langkahkan kaki untuk menuju masjid, mushalla dan majlis taklim. Bekerja dengan jujur dan disiplin. Dengan begitu, setiap pekerjaan yang kita lakukan selama bulan Ramadhan akan diganjar dengan berlipat ganda. Dan tentunya, derajat Muttaqin (takwa) akan kita peroleh nantinya. Semoga!!! Wallahu a’lam 

 

#Menyebarluaskan Kebaikan#

Lampihong, 19 Februari 2026 M / 1 Ramdahan 1447 H

Popular