Web ini Kumpulan tulisan kajian keagamaan yang menarik berdasarkan Al Qur’an dan Hadits Nabi Saw. Selain tulisan, Web juga berisi berita menarik seputar Madrasah, Video Tiktok dan Youtube yang baik untuk ditonton. Ikuti terus kajiannya, jangan sampai terlewatkan. Baca semua tulisannya. Semoga mendapatkan kebaikan. Amin
Alhamdulillahi, di hari yang penuh kemuliaan ini. Setelah satu bulan penuh menjalani ibadah Ramadan, kini tibalah pada hari di mana kita tidak hanya kembali kepada kesucian diri, tetapi juga memperbaiki hubungan dengan sesama. Idul Fitri adalah momen untuk meraih kesempurnaan iman dan ketakwaan, dengan menjaga hati tetap bersih, memperbanyak amal saleh, dan menanamkan keikhlasan dalam setiap beramal serta terus istiqamah dalam kebaikan dan semakin mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Ma’asyiral
Muslimin Jamaah Shalat Idul Fitri Yang Dirahmati Allah
Bulan Ramadhan adalah bulan yang telah mendidik kita untuk lebih dekat kepada Allah dengan berbagai ibadah seperti puasa, shalat, sedekah, tilawah, dan amal kebajikan lainnya. Di bulan Ramadhan, berbagai ibadah terasa sangat ringan dilaksanakan karena dilakukan dengan keikhlasan dan berjamaah dengan penuh kebersamaan. Kita merasakan sendiri bagaimana kita mengalami lonjakan spiritual saat Ramadhan. Masjid penuh, Al-Qur'an lebih sering dibaca, doa-doa lebih khusyuk, semangat berbagi kepada sesama juga tinggi. Hal ini harus kita jaga dengan terus melakukan ikhtiar melalui peningkatan kekuatan untuk istiqamah dalam kebaikan setelah Ramadhan.
Untuk
menjaga ibadah Ramadhan tetap istiqamah dikerjakan ada empat hal yang bisa kita
lakukan. Pertama, senantiasa menyadari keberadaan Allah swt yang
mengetahui apa saja yang kita dilakukan sehari-hari. Kita harus sadar bahwa
Allah yang menakdirkan semua kejadian yang terjadi di muka bumi ini. Tidak ada
satupun kejadian di dunia ini yang luput dari pandangan dan kehendak-Nya, baik
terlihat dalam bentuk tindakan ataupun terbersit dalam hati. Rasulullah bersabda:
أَنْ تَعْبــُدَ
اللَّهَ كَأَنَّــكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
“Engkau menyembah Allah seakan engkau melihat-Nya, bila engkau tak melihat-Nya maka sesungguhnya Allah melihatmu.” (Riwayat Imam Muslim).
Ma’asyiral
Muslimin Jamaah Shalat Idul Fitri Yang Dirahmati Allah
Kedua kita menyadari
bahwa Allah memiliki malaikat yang bertugas mencatat amal perbuatan kita. Ada
dua malaikat yang membersamai kita dalam hidup ini, yaitu Malaikat Raqib dan
Atid. Mereka akan mencatat amal baik dan buruk kita. Ketika kita melakukan
ibadah dan kebaikan maka kita akan mendapatkan balasan pahala. Sebaliknya, jika
kita berbuat jahat dan buruk maka kita akan mendapatkan balasan dan dosa di dunia
maupun di akhirat. Allah berfirman:
فَمَنْ
يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَه. وَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَّرَه.
“Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya. Siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya.” (Qs. Az-Zalzalah ayat 7).
Ketiga, menyadari bahwa
kehidupan di dunia ini memiliki batas yakni kematian. Ketika kematian sudah
datang, maka tidak ada satupun makhluk di dunia ini yang sanggup untuk
menolaknya. Canggihnya teknologi kedokteran pun tak akan sanggup untuk
menghentikan takdir Allah berupa kematian. Ketika Allah berkehendak mencabut
nyawa makhluknya, maka itu adalah kepastian yang tak bisa ditolak. Allah
berfirman :
وَلِكُلِّ
اُمَّةٍ اَجَلٌۚ فَاِذَا جَاۤءَ اَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً وَّلَا
يَسْتَقْدِمُوْنَ
“Setiap umat mempunyai
ajal (batas waktu). Jika ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan
sesaat pun dan tidak dapat (pula) meminta percepatan.” (Qs. Al-A'raf ayat 34).
Ma’asyiral
Muslimin Jamaah Shalat Idul Fitri Yang Dirahmati Allah
Terakhir
yang keempat, kita harus mengingat janji dan ancaman Allah swt berupa
surga dan neraka. Dengan mengingat janji Allah berupa surganya, kita akan
termotivasi untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah. Kemudian saat
mengingat ancaman Allah berupa neraka, maka kita akan termotivasi untuk
menjauhi segala yang dilarang oleh Allah swt.
Demikianlah empat upaya yang bisa kita lakukan untuk mempertahankan semangat ibadah yang telah tumbuh baik selama Ramadhan. Semoga kita diberikan umur panjang dan kesehatan untuk bisa menjaga ibadah kita terus meningkat setelah Ramadhan ini. Agar kita semua termasuk kedalam golongan orang-orang yang bertakwa. Amin ya rabbal alamin
Alhamdulillahi, di hari yang penuh kemuliaan ini. Setelah satu bulan penuh menjalani ibadah Ramadan, kini tibalah pada hari di mana kita tidak hanya kembali kepada kesucian diri, tetapi juga memperbaiki hubungan dengan sesama. Idul Fitri adalah momen untuk meraih kesempurnaan iman dan ketakwaan. Idul Fitri merupakan momen untuk memperkokoh keimanan dengan menjaga hati tetap bersih, memperbanyak amal saleh, dan menanamkan keikhlasan dalam setiap beramal. Mari jadikan hari yang penuh berkah ini sebagai titik awal untuk terus istiqamah dalam kebaikan dan semakin mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Ma’asyiral
Muslimin Jamaah Shalat Idul Fitri Yang Dirahmati Allah
Ketakwaan
yang telah kita bangun selama Ramadhan perlu dijaga, amal saleh yang telah kita
lakukan perlu terus dilanjutkan, dan hati yang telah dibersihkan perlu tetap
kita jaga. Inilah saatnya untuk semakin menguatkan hubungan dengan Allah dan
menjalani hidup dengan keimanan yang lebih kokoh. Salah satunya adalah dengan
memperbanyak membaca takbir dan menyucikan Allah di hari yang mulia ini. Allah
Swt berfirman:
وَلِتُكْمِلُوا
الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ
تَشْكُرُونَ
“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur,” (Qs Al-Baqarah: 185).
Dalam ayat ini mengandung tiga pesan utama. Pertama, perintah untuk menjalankan puasa selama bulan Ramadan. Kedua, membaca takbir sebagai bentuk pengagungan kepada Allah setelah menuntaskan puasa sebulan penuh. Ketiga, menumbuhkan rasa syukur atas segala nikmat yang Allah anugerahkan.
Ma’asyiral
Muslimin Jamaah Shalat Idul Fitri Yang Dirahmati Allah
Selain
memperbanyak membaca takbir, salah satu ciri khas dari orang-orang yang bertakwa
adalah saling memaafkan kesalahan. Kita sebagai orang yang beriman bisa
memaafkan dengan ikhlas tanpa menyimpan dendam ketika orang lain berbuat salah.
Allah berfirman:
الَّذِينَ
يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ
وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“Yaitu, orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan,” (QS. Ali ‘Imran, [3]: 134).
Ayat ini menggambarkan salah satu sifat mulia yang dimiliki oleh orang-orang bertakwa. Mereka tidak hanya menahan diri dari membalas keburukan dengan keburukan, tetapi juga memilih untuk memaafkan orang yang telah berbuat zalim kepadanya. Tidak ada lagi dendam atau kebencian yang tersisa di hati mereka terhadap siapa pun.
Karenanya,
mari kita sama-sama jadikan hari kemenangan ini sebagai momen untuk menghapus
segala kesalahan dengan saling bermaaf-maafan. Bermaaf-maafan tidak hanya sekadar
tradisi, namun juga wujud nyata dari kembalinya kita kepada fitrah sebagai
manusia yang suci dari dendam dan prasangka buruk.
Demikian khutbah hari raya Idul Fitri ini. Semoga bermanfaat dan membawa keberkahan kepada kita semua, serta menjadi penyebab diterimanya semua amal ibadah yang telah kita lakukan selama bulan Ramadhan.