MENYEBARLUASKAN KEBAIKAN

Web ini Kumpulan tulisan kajian keagamaan yang menarik berdasarkan Al Qur’an dan Hadits Nabi Saw. Selain tulisan, Web juga berisi berita menarik seputar Madrasah, Video Tiktok dan Youtube yang baik untuk ditonton. Ikuti terus kajiannya, jangan sampai terlewatkan. Baca semua tulisannya. Semoga mendapatkan kebaikan. Amin

Jumat, 27 Februari 2026

Amalan Pertengahan Ramadhan

Hadirin Jamaah Jumat Rahimakumullah

Dalam kesempatan yang mulia ini marilah kita senantiasa saling mengingatkan untuk selalu meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Swt, dengan senantiasa melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi segala apa yang dilarang-Nya. 

Hadirin Jamaah Jumat Rahimakumullah

Bulan Ramadan adalah bulan yang penuh dengan keistimewaan, Rasulullah SAW membagi Ramadhan menjadi tiga fase. Fase pertama adalah sepuluh hari awal yang penuh rahmat, fase kedua adalah sepuluh hari pertengahan yang berisi ampunan, dan fase ketiga adalah sepuluh hari terakhir sebagai pembebasan dari api neraka. Pada hari ini kita telah memasuki hari ke-9 Ramadhan. Artinya tidak berapa lagi 10 hari pertama akan kita tinggalkan dan kita akan memasuki 10 hari kedua bulan Ramadhan. 

Pada Masa pertengahan ini sering biasanya semangat beribadah mulai menurun dibandingkan pekan pertama. Padahal, pada fase inilah pintu ampunan Allah SWT dibuka selebar-lebarnya bagi hamba-Nya yang bersungguh-sungguh bertaubat. 

Hadirin Jamaah Jumat Rahimakumullah

Untuk meraih predikat hamba yang diampuni, ada beberapa amalan yang sangat dianjurkan untuk diperkuat dan diperbanyak :

1. Memperbanyak Istighfar dan Taubat

Amalan utama di fase ini perbanyak beristighfar. Memohon ampunan tidak hanya dilakukan setelah shalat, tetapi di setiap waktu senggang. Taubat yang sungguh-sungguh (taubatan nasuha) disertai janji untuk tidak mengulangi kemaksiatan akan mengantarkan kita pada kesucian hati.

2. Menjaga Shalat Berjamaah dan Shalat Sunnah

Jangan biarkan shaf di masjid mulai maju atau berkurang. Menjaga shalat fardu berjamaah dan menambahnya dengan shalat sunnah Rawatib, Dhuha, serta Tahajud akan mempererat hubungan kita dengan Allah Swt.

3. Memperbanyak Sedekah

Ramadan adalah bulan kedermawanan. Sedekah tidak hanya membantu sesama yang membutuhkan, tetapi juga berfungsi sebagai penghapus dosa sebagaimana air memadamkan api.

4. Tadarus Al-Qur'an

Al-Qur'an diturunkan di bulan Ramadan. Membaca, merenungi makna, dan mengamalkan isi Al-Qur'an adalah cahaya bagi hati.

5. Berdoa dengan Doa Maghfirah

Salah satu doa yang sangat dianjurkan untuk dipanjatkan pada 10 hari kedua Ramadan adalah: “Allahummaghfirli dzunubi ya robbal 'alamin.” (Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku, wahai Tuhan semesta alam). 

Hadirin Jamaah Jumat Rahimakumullah

Sepuluh hari kedua Ramadan adalah jembatan menuju sepuluh hari terakhir yang penuh kemuliaan (Lailatul Qadar). Tanpa ampunan di fase kedua, akan sulit bagi kita untuk meraih kemuliaan di fase penutup (akhir). Mari kita berlomba-lomba untuk meraih ampunan dari Allah Swt. Jangan sampai kesibukan-kesibukan pekerjaan dan lainnya melalaikan kita dari taubat kepada Allah Swt. Allah berfirman:

وَسَارِعُوٓاْ إِلَىٰ مَغۡفِرَةٖ مِّن رَّبِّكُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ أُعِدَّتۡ لِلۡمُتَّقِينَ ١٣٣

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (Qs. ‘Ali Imran : 133).

Mari kita jadikan setiap detik di bulan ramdhan ini dan 10 hari kedua sebagai sarana untuk bersimpuh di hadapan Allah, mengakui segala khilaf, dan memohon agar nama kita tercatat sebagai golongan orang-orang yang beruntung yang mendapatkan ampunan-Nya. Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita dan mempertemukan kita dengan hari kemenangan dalam keadaan suci dari dosa. Amin ya Rabbal Alamin.

Rabu, 25 Februari 2026

Berpuasa, Mengharap Pahala?

Dalam melaksanakan ibadah, tentu yang diharapkan adalah pahala dari Allah Swt. Pahala itu merupakan balasan kebaikan yang diberikan Allah kepada orang yang melakukan kebaikan. Kebalikan dari pahala adalah dosa, yakni balasan kejahatan atau keburukan atas perbuatan yang dilakukannya. Dalam bahasa manajemen modern, pahala bisa disebut sebagai Reward artinya penghargaan. Sedangkan dosa disebut sebagai Punishment artinya hukuman. 

Pahala adalah bentuk ‘penghargaan’ yang diberikan Allah kepada kita karena melakukan suatu perbuatan yang memberi ‘manfaat’. Manfaat kepada siapa? Manfaat kepada diri kita sendiri, keluarga, orang banyak, Binatang, tumbuhan dan makhluk lainnya di muka bumi ini. Sedangkan dosa adalah bentuk ‘hukuman’ yang diberikan kepada kita karena kita melakukan sesuatu perbuatan yang membawa ‘mudharat’ (tidak baik/merugikan) pada diri sendiri maupun kepada makhluk ciptaan-Nya secara kolektif. 

Pahala dan dosa ini sepenuhnya terkait manfaat dan mudharat bagi seseorang yang melakukan perbuatan sesuatu. Manfaat dan mudaharat itu bukan untuk Allah, akan tetapi untuk makhluk-Nya. Oleh karena itu, setiap perintah Allah dan Rasul-Nya kemudian dikerjakan dengan sungguh-sungguh dan ikhlas, maka ujung-ujungnya pasti dia akan mendapatkan manfaat yang luar biasa dari perbuatannya itu. Begitu juga sebaliknya, setiap larangan dari Allah dan Rasul-Nya kemudian dikerjakan, tentunya akan mendapatkan mudharat (kerugian) yang besar bagi dirinya, orang lain dan makhluk lainnya. Contohnya perbuatan judi. Apabila kita berjudi, maka kita akan berdosa. Judi itu membawa mudharat bagi dirinya sendiri, keluarga, masyarakat dan sistem perekonomian sebuah negara. Tidak ada orang yang kaya karena menang judi. Justru sebaliknya, yang kaya bisa menjadi miskin, dan yang miskin bisa menjadi lebih miskin lagi (melarat). Begitu juga dengan perbuatan zina. Kalau kita berzina, akan mendapat mudharat dari perbuatan itu. Zina itu dapat merusak tatanan moral di masyarakat, menebarkan penyakit fisik dan kejiwaan yang sulit diobati serta mewariskan keturunan dan generasi yang berantakan. Begitu juga dengan minuman keras, perampokan dan pencurian, pembunuhan, korupsi, penipuan, dan lain sebagainya yang dilarang Allah itu, ujung-ujungnya pasti akan membawa mudharat (kerugian/kerusakan) bagi diri kita dan tatanan kehidupan bermasyarakat dan bernegara. 

Puasa merupakan salah satu aktivitas ibadah yang sangat dianjurkan. Di dalam puasa terdapat manfaat yang luar biasa bagi yang mengerjakannya. Tidak saja bermanfaat bagi tubuh, tapi juga bagi kejiwaannya. Orang yang berpuasa tubuhnya akan menjadi sehat (secara jasmani, Rohani dan spiritual). Jiwanya menjadi damai, tenteram dan bahagia. Emosinya stabil dan akan terkontrol dengan baik. Dia akan menjadi orang yang sabar dan ikhlas. Tidak pemarah. Tidak berbohong. Jujur dan suka menolong orang lain. Sering sedekah. Inilah dampat positif dari orang yang berpuasa. Disinilah nilai pahala yang diterima oleh orang berpuasa itu. Manfaat yang didapatkannya itu tentunya akan dia terima sendiri. Selain itu, manfaat itu juga diterima oleh orang lain. Selain tubuhnya sehat, jiwanya tenang, orang lain pun akan suka dan senang dengan keberadaannya. Inilah makna dari berpuasa itu mengharapkan pahala dari Allah Swt. Yakni, mendapatkan manfaat yang banyak bagi dirinya sendiri dan orang lain. Untuk itu, Nabi Saw menyatakan bahwa orang yang berpuasa dengan iman, mengharap pahala (manfaat) nya, maka akan diampuni oleh Allah Swt dosa-dosa (mudharat) nya baik yang dulu maupun yang sekarang. Semoga! Wallahu a’lam…

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ. (صحيح البخاري ٣٧, صحيح مسلم ١٢٦٨, سنن أبي داوود ١١٦٥, سنن الترمذي ٧٣٦, سنن النسائي ١٥٨٤)

Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah Saw bersabda: “Barangsiapa yang berpuasa karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Shahih Bukhari 37, Shahih Muslim 1268, Sunan Abu Daud 1165, Sunan Tirmidzi 736,  Sunan Nasa'i 1584). 

 

#Menyebarluaskan Kebaikan#

Paringin, 25 Februari 2026 M / 7 Ramadhan 1447 H

Senin, 23 Februari 2026

Berpuasa, Tapi Tidak Shalat?

Sering kita mendengar pertanyaan, bagaimana orang yang berpuasa tapi tidak mengerjakan shalat, apakah puasanya sah atau tidak?.  

Tulisan ini bukan untuk menjelaskan secara fiqih, apakah sah atau tidaknya seseorang berpuasa ketika dia tidak mengerjakan shalat. Sebab, puasa dan shalat itu merupakan bagian dari rukun Islam. Mungkin kalau kita teruskan bisa saja orang berpuasa tapi tidak berzakat. Atau sebaliknya, dia berzakat tapi tidak berpuasa. Bisa juga, tidak shalat, tidak puasa, tidak berzakat tapi statusnya sudah berhaji. Atau, tidak semuanya, tidak shalat, puasa, zakat, haji padahal dia seorang muslim. Sebab, syarat seseorang dikatakan muslim ketika dia sudah mengucapkan syahadat. Atau secara turun-temurun. Datuk kakeknya muslim, maka dia juga berstatus sebagai orang islam. Walaupun secara ibadah, tidak pernah ikut melaksanakan ibadah, seperti shalat fardhu, puasa, zakat, shalat jumat dan lainnya bahkan cenderung melaksanakan keburukan seperti mabuk-mabukan, zina, mencuri, merampok, penipu, dan lain sebagainya. Hal ini bisa dilihat disekitar kita. Biasanya ada saja di suatu daerah orang-orang seperti itu, padahal sebagiannya adalah orang yang memiliki pengetahuan. Tetapi mereka tidak mau mengerjakan syari’at agama. 

Dalam Islam, setiap perintah dari Allah Swt itu wajib dilaksanakan sesuai dengan kemampuan masing-masing. Semua yang ada di dalam rukun Islam itu merupakan perintah Allah dan Rasul-Nya (Nabi Muhammad Saw). Mulai dari syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji itu jelas dalilnya, baik dalam al qur’an maupun hadits Nabi Saw. Banyak ayat al qur’an yang memerintahkan untuk mendirikan shalat, melaksanakan puasa, menunaikan zakat dan melaksanakan haji dan umrah bagi orang islam yang mampu. Artinya, pelaksanaan ibadah yang diperintahkan Allah Swt tidak boleh dikerjakan secara parsial. Misalnya, shalat saja dikerjakan, puasa, zakat, haji tidak usah. Atau haji saja yang dilaksanakan karena dia punya harta yang banyak, tapi tidak pernah shalat, puasa dan berzakat. Mengerjakan ibadah itu tidak boleh pilih-pilih. Semuanya harus bisa dikerjakan secara berbarengan atau paralel. Orang berpuasa, maka dia juga mengerjakan shalat dan berzakat. Dan aktivitas ibadah lainnya. 

Tidak hanya terkait dengan rukun islam yang 5 itu saja. Semua perintah Allah dan Rasulnya harus dilaksanakan. Baik itu ibadah Mahdhah ataupun Ghairu Mahdhah. Ibadah Mahdhah adalah ibadah murni yang ditentukan tata cara, waktu dan tempatnya. Ibadah ini merupakan hubungan vertikal (langsung) antara Allah dan hamba-Nya. Contohnya, shalat puasa, zakat, haji dan sebagainya. sedangkan ibadah Ghairu Mahdhah merupakan pekerjaan sehari-hari yang bernilai ibadah apabila diniatkan betul-betul karena Allah, tidak terikat oleh aturan tata cara yang baku dan lebih bersifat horizontal (sosial). Seperti belajar, guru, dosen, pedagang, petani, ASN, TNI-Polri, dan lain sebagainya. 

Sebagai seorang muslim, kita dituntut untuk melaksanakan Amal Shaleh (Kebaikan). Keshalehan itu bukan hanya bersifat pribadi akan tetapi juga keshalehan secara sosial. Orang yang rajin shalat dan puasa juga harus banyak bersedekah untuk fakir miskin. Menolong orang yang kesusahan, kerja bakti di kampung atau tempat tinggal, menengok dan membatu tetangga atau teman yang sakit, ikut shalat jenazah, gotong royong, membantu pernikahan, aqiqahan, kenduri dan lain sebagainya. Setiap keshalehan individu yang dilakukan harus berimbas kepada keshalehan sosial. Jangan hanya mementingkan keshalehan pribadi (shalat, puasa, zakat, haji, baca al qur’an dll) sementara keshalehahn sosial diabaikan. Allah Swt menyatakan bahwa keshalehan individu dan keshalehan sosial itu merupakan kabajikan yang harus dilaksanakan. Sebab, ketika keduanya dilaksanakan secara beriringan, maka dia akan memperoleh kebaikan dan mendapat derajat takwa disisi Allah Swt.

۞لَّيۡسَ ٱلۡبِرَّ أَن تُوَلُّواْ وُجُوهَكُمۡ قِبَلَ ٱلۡمَشۡرِقِ وَٱلۡمَغۡرِبِ وَلَٰكِنَّ ٱلۡبِرَّ مَنۡ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ وَٱلۡكِتَٰبِ وَٱلنَّبِيِّۧنَ وَءَاتَى ٱلۡمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ ذَوِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينَ وَٱبۡنَ ٱلسَّبِيلِ وَٱلسَّآئِلِينَ وَفِي ٱلرِّقَابِ وَأَقَامَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَى ٱلزَّكَوٰةَ وَٱلۡمُوفُونَ بِعَهۡدِهِمۡ إِذَا عَٰهَدُواْۖ وَٱلصَّٰبِرِينَ فِي ٱلۡبَأۡسَآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَحِينَ ٱلۡبَأۡسِۗ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُتَّقُونَ ١٧٧

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (Qs. Al Baqarah, 2:177). 

Disinilah letak takwa itu. Sebab, arti takwa itu kan menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Perintah dan larangan Allah itu banyak sekali. Mungkin diantara kita ada yang tidak mengetahui perintah dan larangannya itu, sehingga terkadang tidak menyadarinya bahwa yang dilakukannya itu merupakan perintah Allah, atau dia tidak menyadari bahwa yang dikerjakannya itu sebenarnya dilarang oleh Allah. Untuk itu hendaklah kita senantiasa menjalankan ketaatan kepada Allah Swt. Tetap sabar dalam menjalankan setiap perintah Allah Swt. Khusyuk dalam menjalankan setiap ibadah. Perbanyak sedekah. Laksanakan perintah puasa, baik yang wajib maupun sunnah. Jaga kehormatan diri. Senantiasa berzikir (mengingat) Allah Swt dalam setiap kesempatan. Maka, Allah Swt akan memeberikan ampunan dan pahala yang besar. Semoga! Wallahu a’lam…

إِنَّ ٱلۡمُسۡلِمِينَ وَٱلۡمُسۡلِمَٰتِ وَٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ وَٱلۡقَٰنِتِينَ وَٱلۡقَٰنِتَٰتِ وَٱلصَّٰدِقِينَ وَٱلصَّٰدِقَٰتِ وَٱلصَّٰبِرِينَ وَٱلصَّٰبِرَٰتِ وَٱلۡخَٰشِعِينَ وَٱلۡخَٰشِعَٰتِ وَٱلۡمُتَصَدِّقِينَ وَٱلۡمُتَصَدِّقَٰتِ وَٱلصَّٰٓئِمِينَ وَٱلصَّٰٓئِمَٰتِ وَٱلۡحَٰفِظِينَ فُرُوجَهُمۡ وَٱلۡحَٰفِظَٰتِ وَٱلذَّٰكِرِينَ ٱللَّهَ كَثِيرٗا وَٱلذَّٰكِرَٰتِ أَعَدَّ ٱللَّهُ لَهُم مَّغۡفِرَةٗ وَأَجۡرًا عَظِيمٗا ٣٥

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu', laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Qs. Al Ahzab, 33:35). 

 

#Menyebarluaskan Kebaikan#

Paringin, 23 Februari 2026 M / 5 Ramadhan 1447 H

Awali Ramadhan Tahun 2026, MAN 3 Balangan Isi Kegiatan Shlat Dhuha Berjamaah dan Tadarus

Minggu, 22 Februari 2026

Berpuasa Itu Semangat!

Berpuasa adalah menahan lapar dan minum serta hubungan seksual antara suami istri dari terbit fajar sampai tenggelamnya matahari. Aktitas puasa pada bulan Ramadhan dilaksanakan setiap hari selama 1 bulan penuh di bulan Ramadhan. 

Akibat perut menahan lapar dan haus selama kurang lebih 12 jam, bagi yang tidak terbiasa berpuasa akan merasa lelah, malas, loyo dan mengantuk. Hal itu lumrah terjadi pada siapa saja. Sebab, perut yang lapar dan haus bawaannya itu mau istirahat dan tidur saja. Terkadang semangat kerja pun jadi menurun. Tubuh yang asalnya kuat mengangkat beban yang berat menjadi lemah. Jam kerja di pemerintah juga dikurangi yang biasanya 8,5 jam perhari kecuali hari jumat menjadi 7 jam perharinya (lima hari kerja). Sekolah/madrasah ada yang diliburkan. Walaupun masuk, jamnya juga dikurangi. Anak-anak sekolah dianjurkan untuk belajar materi keagamaan saja. Sehingga guru yang tidak memiliki latar belakang ilmu agama hampir tidak bisa menyesuaikan dengan materi yang diajarkan saat bulan Ramadhan. 

Padahal, berpuasa pada bulan Ramadhan itu harusnya semangat. Berpuasa bukan malah bermalas-malasan. Semangat kerja tidak boleh kendur. Walaupun perut dalam keadaan kosong di siang hari. Tenggorokan kering karena menahan haus. Berpuasa harus tetap semangat. Jangan hanya tidur. Justru kebanyakan tidur akan membuat badan dan jiwa tidak sehat. Tubuh menjadi sakit-sakitan. Otak menjadi lemah, sehingga daya pikir menjadi berkurang. Inilah yang menyebabkan semangat kerja menjadi turun. Semangat itu muncul dari jiwa yang bersih. Dalam jiwa tertanam niat yang tulus untuk senantiasa beribadah kepada Allah Swt. Bekerja (apapun pekerjaannya) merupakan ibadah. Petani turun ke sawah seperti biasa untuk menggarap sawahnya agar menghasilkan panen padi yang melimpah. Pedagang melakukan aktivitas dagangnya seperti biasa dengan jujur, ramah dan Amanah, agar harta yang didapatnya menjadi berkah. Buruh juga bekerja seperti biasa. Mengangkat beban yang berat tidak masalah, niatkan untuk anak isteri tercinta di rumah. Sehingga semangat kerja akan tumbuh dengan baik. Para ASN (Bisa juga guru) bekerja dengan semangat. Niatkan untuk berbuat kebaikan bagi bangsa dan negara. Niatkan untuk memberi ilmu pengetahuan, dan pekerjaannya lainnya hendaklah untuk kebaikan baik diri sendiri, keluarga, masayarakat, bangsa dan negara. Walaupun dalam keadaan berpuasa, maka semangat akan tumbuh dengan sendirinya. Dia bekerja tanpa kenal lelah. Semangat, dan terus semangat, karena dia yakin bahwa kerja yang dilakukan dengan niat karena Allah, maka akan menghasilkan sesuatu yang baik dan berkah. 

Nah, Bagaimana menumbuhkan semangat dalam berpuasa? Intinya ada pada diri masing-masing. Tergantung niat dan pemahamannya terhadap puasa. Apa tujuan berpuasanya, apakah hanya menjalankan kewajiban agama semata? Atau, ikut-ikutan saja? Atau ingin disebut-sebut sebagai orang yang berpuasa? Atau malu dengan keluarga, tetangga, teman, masyarakat dan lainnya? Atau untuk mengharap ampunan dan pahala yang besar dari Allah Swt?. 

Berpuasa itu bukan karena terpaksa. Bukan karena ikut-ikutan dan rasa malu terhadap orang lain. Berpuasa juga bukan hanya melaksanakan kewajiban agama. Ketika sudah bisa menahan lapar dan haus, maka berhasil sudah puasanya. Puasa itu merupakan kebutuhan bagi setiap umat Islam. Orang yang berpuasa dengan baik dan benar, sesuai dengan panduan dari Nabi Saw. Maka puasanya akan bermanfaat bagi dirinya. Tubuhnya akan sehat, jiwanya akan tenang, tentram dan damai. Serta mendapat derajat takwa disisi Allah Swt. Untuk itu, puasa itu merupakan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi oleh semua Muslim. Puasa yang dikerjakan itu harus benar-benar dilaksanakan dengan sebaik mungkin. Agar manfaat puasa itu bisa diraih oleh semua orang Islam. Puasa bukannya hanya menjalankan kewajiban belaka. Ketika sudah mampu menahan lapar, haus dan hubungan seksual pada siang hari, maka berhasillah puasanya. Tentunya tidak hanya seperti itu. Puasa Ramadan merupakan pendidikan dan pelatihan pengendalian diri dari perbuatan-perbuatan yang tercela. Lisan, pendengaran, penglihatan dan hatinya terjaga dari sifat-sifat buruk. Hal ini akan terus terbawa setelah selesai bulan Ramadan. Sehingga membentuk kepribadian yang baik dalam kehidupan sehari-hari. 

Dengan memahami makna dan manfaat puasa itu, maka tentunya kita harus semangat untuk meraihnya. Tidak ada istilah bermalas-malasan. Jangan banyak tidur. Bekerja lebih giat lagi. Lebih ikhlas dan disiplin. Perbanyak membaca al-qur’an dan mentadabburinya (memahami isi kandungannya). Perbanyak shalat sunnah, sedekah, i’tikaf, shalat fardhu berjamaah. Apabila kita mampu melaksanakan puasa dengan sungguh-sungguh, maka Allah Swt akan memberikan ampunan dan pahala yang besar. Semoga! Wallahu a’lam…

إِنَّ ٱلۡمُسۡلِمِينَ وَٱلۡمُسۡلِمَٰتِ وَٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ وَٱلۡقَٰنِتِينَ وَٱلۡقَٰنِتَٰتِ وَٱلصَّٰدِقِينَ وَٱلصَّٰدِقَٰتِ وَٱلصَّٰبِرِينَ وَٱلصَّٰبِرَٰتِ وَٱلۡخَٰشِعِينَ وَٱلۡخَٰشِعَٰتِ وَٱلۡمُتَصَدِّقِينَ وَٱلۡمُتَصَدِّقَٰتِ وَٱلصَّٰٓئِمِينَ وَٱلصَّٰٓئِمَٰتِ وَٱلۡحَٰفِظِينَ فُرُوجَهُمۡ وَٱلۡحَٰفِظَٰتِ وَٱلذَّٰكِرِينَ ٱللَّهَ كَثِيرٗا وَٱلذَّٰكِرَٰتِ أَعَدَّ ٱللَّهُ لَهُم مَّغۡفِرَةٗ وَأَجۡرًا عَظِيمٗا ٣٥

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu', laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Qs. Al Ahzab, 33:35). 

 

#Menyebarluaskan Kebaikan#

Paringin, 22 Februari 2026 M / 4 Ramadhan 1447 H

Sabtu, 21 Februari 2026

Bulan Ramadhan Masih ada Kejahatan?

إِذَا دَخَلَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ وَسُلْسِلَتْ الشَّيَاطِينُ. (صحيح البخاري ٣٠٣٥, صحيح مسلم ١٧٩٣, سنن النسائي ٢٠٧٢, مسند أحمد ٧٤٥٠, سنن الدارمي ١٧١٠, موطأ مالك ٦٠٤)

“Apabila datang bulan Ramadlan pintu-pintu surga dibuka sedang pintu-pintu neraka ditutup dan syaitan-syaitan dibelenggu.” (Shahih Bukhari 3035, Shahih Muslim 1793, Sunan Nasa'i 2072, Musnad Ahmad 7450, Sunan Addarimi  1710, Muwatha Malik 604).

 

Dalam hadits di atas disebutkan bahwa pintu-pintu surga di buka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan dibelenggu. Ini menandakan bahwa pada bulan Ramadhan diberikan keberkahan yang luar biasa. Sebab, pintu surga dibuka dan pintu neraka ditutup. Hal ini tidak berlaku pada bulan-bulan lainnya selama se tahun. Bulan Ramadhan merupakan bulan yang istemewa yang harus dimanfaatkan sebaik mungkin agar bisa menggapai keberkahan bulan itu.

 

Bulan Ramadhan dimanfaatkan umat islam untuk memperbanyak ibadah sunnah. Seperti tadarus al-qur’an, shalat tarawih dan tahajud, shalat dhuha, sedekah, dzikir, i’tikaf, dan lain-lain. Sehingga masjid dan mushalla tidak sepi setiap hari dan malamnya. Umat islam berlomba-lomba berbuat kebaikan, sehingga jarang sekali kita mendengar ada kejahatan di bulan Ramadhan. Hal ini sesuai dengan hadits Nabi di atas, yang menyatakan pintu surga di buka dan pintu neraka di tutup serta setan-setan dibelenggu. Banyaknya kebaikan yang dilakukan sehingga hampir menghilangkan kejahatan yang dilakukan saat berpuasa. Apalagi setan-setan selama Ramadhan dibelenggu, sehingga godaan-godaan setan mungkin saja berkurang atau bahkan tidak ada sama sekali. Dengan dibelenggunya setan, seharusnya kejahatan tidak ada lagi atau paling tidak berkurang. Karena, pada bulan Ramadhan mereka dibelenggu atau dikurung. Artnya, selama Ramadhan setan tidak bisa lagi menggoda manusia untuk berbuat jahat. Seharusnya seperti itu. Akan tetapi, kalau kita lihat faktanya, masih banyak kejahatan dan kemaksiatan yang terjadi pada bulan Ramadhan. Seperti mabuk-mabukan, zina, penipuan, pencurian, perampokan, perkelahian, pembunuhan dan lain-lain. Ada yang pesta minuman keras, mengonsumsi narkoba, selingkuh yang berujung kepada zina. Klub malam masih banyak yang buka, prostitusi juga masih marak, dan sebagainya. Apakah ada yang salah dengan hadis itu???.

 

Sebenarnya tidak ada yang salah dari hadits itu. Haditsnya shahih dan tidak diragukan lagi. Yang salah bukan haditsnya, akan tetapi pemahaman kita terhadap hadis itu yang kurang pas. Kebanyakan orang memahami hadis itu secara tekstual. Menganggap pintu surga benar-benar terbuka, pintu neraka benar-benar ditutup dan setan di pasung. Sehingga tidak bisa lagi menggoda manusia. Dari pemahaman secara teks ini maka berkembang pemahaman bahwa kejahatan dan maksiat tidak ada lagi. Kemudian ada yang menambahkan, walaupun setan telah dipasung akan tetapi manusia memiliki hawa nafsu sehingga kejahatan dan maksiat tetap ada pada bulan Ramadhan.

 

Semua manusia memiliki hawa nafsu. Inilah yang membuat manusia bisa berbuat jahat dan maksiat. Hawa nafsu mendorong manusia untuk berbuat yang berlebih-lebihan. Manusia memiliki kesenangan dan kenikmatan dalam hidupnya. Semua manusia menginginkannya dalam kehidupan ini. Kenikmatan dan kesenangan itu akan menimbulkan rasa nyaman dan Bahagia. Hawa nafsu selalu mendorong agar selalu mendapatkan kenikmatan dan kesenangan itu. Hal inilah yang membuat seseorang tidak puas ketika mendapatkan sesuatu. Dan mendorongnya berbuat apapun untuk mendapatkan kesenangan dan kenikmatan itu. Walaupun dengan jalan yang dilarang oleh agama. Ia tidak peduli walaupun melanggar atau menabrak aturan agama, yang penting ia senang dan nyaman. Orang seperti inilah yang menuruti dorongan hawa nafsunya. Orang yang mengikuti Hawa nafsunya akan menyebabkan dia tersesat dari jalan Allah Swt. Yakni jalan kebaikan. Allah Swt berfirman :

يَٰدَاوُۥدُ إِنَّا جَعَلۡنَٰكَ خَلِيفَةٗ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَٱحۡكُم بَيۡنَ ٱلنَّاسِ بِٱلۡحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ ٱلۡهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَضِلُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ لَهُمۡ عَذَابٞ شَدِيدُۢ بِمَا نَسُواْ يَوۡمَ ٱلۡحِسَابِ ٢٦

“Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.” (Qs. Shaad/38 : 26). 

Untuk itulah, berpuasa itu untuk mengendalikan diri dari dorongan-dorongan perilaku yang tidak baik (Hawa Nafsu). Berpuasa itu bukan hanya menahan lapar dan dahaga. Tapi, dibalik menahan lapar dan dahaga itu ada kendali untuk menahan dorongan godaan hawa nafsu. Ketika lapar dan dahaga, orang cenderung bisa bersikap sabar dari keinginan yang berlebih-lebihan. Jiwanya tercerahkan oleh puasanya. Sehingga dia bisa mengendalikan keinginan-keinginan yang mendorongnya melakukan perbuatan yang tidak baik. Dorongan untuk mencuri, berzina, menipu, berdusta, mabuk-mabukan, berkelahi, apalagi mau melakukan kejahatan yang lebih besar seperti merampok dan membunuh. Kesenangan dan kenikmatan sesaat yang diterimanya tidak menyebabkan dia lalai dari mengingat Allah Swt. Karena dia sadar, bahwa orang yang takut akan kebesaran Allah dan mampu menahan diri dari dorongan hawa nafsunya, maka surgalah sebagai balasannya kelak. Wallahu a’lam…

وَأَمَّا مَنۡ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ وَنَهَى ٱلنَّفۡسَ عَنِ ٱلۡهَوَىٰ ٤٠  فَإِنَّ ٱلۡجَنَّةَ هِيَ ٱلۡمَأۡوَىٰ ٤١

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (Qs. An Naazi´at/79: 40-41). 


#Menyebarluaskan Kebaikan#
Paringin, 21 Februari 2026 M / 3 Ramadhan 1447 H

Jumat, 20 Februari 2026

Puasa Melatih Kejujuran

Puasa merupakan perbuatan yang dilakukan secara pribadi atau individu bukan kelompok. Puasa dilakukan dari terbit fajar sampai tenggelamnya matahari. Puasa menahan diri dari makan, minum dan bersenggama pada siang hari. Ketika seseorang sudah melakukan pengertian puasa itu, maka secara hukum fiqih dia telah berpuasa, dan kewajibannya sudah gugur.

 

Akan tetapi, puasa itu tidak hanya sekedar menahan lapar, haus dan senggama saja. Berpuasa itu melatih mengendalikan diri (jiwa) dari sifat-sifat yang tidak baik (Akhlak Madzmumah). Sehingga muncul dari dirinya sifat-sifat yang baik (Akhlak Mahmudah).

 

Ketika berpuasa hanya dirinya saja yang mengetahui. Orang lain disekitarnya bisa tidak mengetahuinya. Ketika dia tidak makan, tidak minum orang lain tidak tahu. Bahkan ketika dia makan atau minum sedikit aja tidak ada yang tahu. Hanya dirinya saja yang mengetahuinya. Makan dan minum walaupun sedikit akan membatalkan puasa. Ketika perbuatan itu dilakukan secara sembunyi-sembunyi pun akan batal puasanya. Disinilah dituntut sebuah kejujuran dalam melaksanakan ibadah puasa.

 

Kita harus benar-benar melaksanakan ibadah puasa dengan sebaik-baiknya. Laksanakan puasa dengan jujur. Benar-benar menahan lapar dan haus dari terbit fajar sampai tenggelam matahari. Tidak hanya itu, jujur dalam berpuasa juga tercermin dari sifat pribadinya.

 

Pada era sekarang, kemajuan teknologi sungguh luar biasa. Dengan adanya Handphone (HP) yang terkoneksi ke internit, maka pengguna HP bisa melihat, menonton dan membaca berita atau video apa saja. Media sosial seperti Instagram, Tiktok, Youtube, Facebook, WathsApp dan lainnya sudah menjadi kebutuhan para pengguna HP. Setiap saat mereka membuka media sosial, membaca berita apa saja, melihat dan menonton video apa saja. Sehingga, tidak jarang berita atau video yang ditonton itu berbau pornografi. Kita tidak bisa memfilter tontonan yang ada di media sosial. Awalnya tidak ada keinginan menonton video-video yang tidak baik, akan tetapi ketika kita membuka media sosial, maka konten-konten pornografi bisa muncul. Konten-konten pornografi ada yang vulgar ada juga yang tidak. Hanya menampilkan lekak-lekuk tubuh atau aurat wanita. Ketika kita melihat dengan sungguh-sungguh adegan yang ada di video itu, maka puasa kita akan berkurang pahalanya. bahkan ada yang mengatakan batal, walaupun secara fiqih yang membatalkan puasa itu Adalah makan dan minum atau ada sesuatu yang masuk ke dalam peruts secara sengaja. Akan tetapi, secara hakiki dia sudah merusak kesucian puasanya. Di mana puasa itu menjaga seluruh panca Inderanya dari hal-hal yang bisa merusak nilai puasanya.

 

Oleh sebab itu, Rasululullah Saw menyatakan bahwa banyak di kalangan umat islam yang berpuasa akan tetapi tidak mendapatkan pahala puasa. Yang mereka dapatkan hanya lapar dan dahaga saja.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ, قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ. (مسند أحمد ٨٥٠١, سنن ابن ماجه ١٦٨٠)

Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah Saw bersabda: "Berapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan bagian dari puasanya melainkan lapar dan dahaga”. (Musnad Ahmad 8051, Sunan Ibnu Majah 1680).

 

Oleh sebab, setiap bulan Ramadhan hendaknya melatih diri untuk berbuat jujur. Jujur pada diri sendiri maupun orang lain. Jujur dalam perbuatan maupun dalam setiap pekerjaan. Jujur merupakan salah satu dari sifat terpuji. Jujur merupakan akhlak yang diajarkan Rasulullah Saw. Sifat jujur harus melekat dalam diri masing-masing. Dan harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak hanya puasa saja, sikap jujur itu harus diterapkan disetiap lini kehidupan. Jujur disini bukan hanya tidak makan dan minum saja. Akan tetapi jujur dengan pandangan kita, pendengaran, tutur kata yang baik, dan aktivitas ibadah selama bulan Ramadhan. Dengan sikap jujur ada tertanam dalam diri kita, maka kita akan bisa menjaga kesucian puasa dari awal sampai akhir. Kita akan ikhlas menjalani ibadah puasa. Panca Indera kita terjaga, ibadah akan menjadi lebih khusyuk.

 

Rasululullah Saw menyatakan bahwa kejujuran akan membimbing pada kebaikan. Dan kebaikan itu akan membimbing kepada surganya Allah. Begitu juga sebaliknya, kedustaan itu akan mengantarkan pada kejahatan, dan sesungguhnya kejahatan itu akan menggiring ke neraka. Oleh sebab itu, marilah kita selalu bersikap jujur dalam hidup ini. Tidak hanya saat berpuasa pada bulan Ramadhan. Akan tetapi terus berlanjut di bulan-bulan setelahnya. Dalam aktivitas apapun, jujur harus tetap dilaksanakan. Ketika kita sudah terlatih berbuat jujur, maka kita akan terbiasa nantinya. Dengan begitu, kita akan terbimbing untuk senantiassa berbuat kebaikan. Dan, mudah-mudahan kebaikan yang kita kerjakan membimbing kita menuju surganya Allah Swt. Aminn!!! Wallahu a’lam…

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يَكُونَ صِدِّيقًا وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا. )صحيح البخاري ٥٦٢٩, صحيح مسلم ٤٧١٩, سنن الترمذي ١٨٩٤, مسند أحمد ٣٤٥٦(

 

Dari Abdullah ra dari Nabi Saw beliau bersabda: "Sesungguhnya kejujuran akan membimbing pada kebaikan, dan kebaikan itu akan membimbing ke surga, sesungguhnya jika seseorang yang senantiasa berlaku jujur hingga ia akan dicatat sebagai orang yang jujur. Dan sesungguhnya kedustaan itu akan mengantarkan pada kejahatan, dan sesungguhnya kejahatan itu akan menggiring ke neraka. Dan sesungguhnya jika seseorang yang selalu berdusta sehingga akan dicatat baginya sebagai seorang pendusta." (Shahih Bukhari 5629, Shahih Muslim 4719, Sunan Tirmidzi 1894, Musnad Ahmad 3456).

 


#Menyebarluaskan Kebaikan”

Paringin, 20 Februari 2026 M / 2 Ramadhan 1447 H

Kamis, 19 Februari 2026

Ramadan Obral Pahala

“Apabila datang bulan Ramadan pintu-pintu surga dibuka sedang pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu.” (Shahih Bukhari 3035, Shahih Muslim 1793, Sunan Nasa'i 2072, Musnad Ahmad 7450, Sunan Darimi 1710 , Muwatha' Malik 604). 

Bulan ramadan merupakan bulan obral pahala bagi orang yang berbuat kebaikan. Semua perbuatan baik yang dilakukan pada bulan ramadan, sekecil apapun perbuatan baik itu akan mendapat ganjaran pahala yang berlipat ganda. Bahkan tidur pun berpahala asalkan tidurnya tidak kebablasan sampai meniadakan shalat yang wajib dan terlalu lama. Pada bulan ramadan juga, kesempatan untuk berbuat dosa itu kemungkinannya kecil. Kenapa? 

Pada bulan Ramadhan kita menjaga pandangan dan pendengaran dari hal-hal yang tidak baik. Sudah menjadi keyakinan bahwa pandangan yang mengandung syahwat bisa membatalkan puasa paling tidak mengurangi jatah pahala. Begitu juga dengan pendengaran yang tidak baik bisa mengurangi pahala puasa. Mulut juga terjaga dari perkataan yang tidak baik. Bahkan, pada saat Ramadhan sangat jarang ada ibu-ibu yang nongkrong di beranda rumah untuk ngrumpi (ghibah). Ini menandakan bahwa bulan Ramadhan memang terjaga dari perbuatan-perbuatan yang tidak baik. 

Selain itu, Tingkat kejahatan selama bulan Ramadhan juga kecil. Pencurian, perampokan, dan pembunuhan, perkosaan, perjinahan dan lain-lainnya sangat jarang kita dengar di televisi ataupun media sosial. Umat islam di seluruh penjuru bumi sama-sama menjaga kesucian bulan Ramadhan. Sehingga terjaga dengan baik. 

Pada bulan Ramadhan masjid, mushalla penuh dengan jamaah untuk melaksanakan shalat berjamaah, apalagi pada malam hari saat jamaah melaksanakan shalat tarawih, masjid dan mushalla sangat ramai. Selesai shalat tarawih lanjut dengan tadarus al qur’an. Ada juga yang mengisi dengan ceramah atau tausyiah. Ini menandakan bulan Ramadhan penuh dengan kebaikan dan keberkahan. Pantas saja, Rasululullah Saw dalam hadits di atas, menyebutkan bahwa pada bulan ramadan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan dibelenggu. Ini membuktikan bahwa pada bulan Ramadhan diberikan Allah keluasaan untuk berbuat kebaikan, hal ini ditandai dengan dibukanya pintu-pintu surga. Begitu sebaliknya, tingkat kejahatan dibulan ramadan berkurang hal ini ditandai dengan ditutupnya pintu-pintu neraka. Apalagi setan dibelenggu (dipasung) sehingga mereka tidak leluasa mengganggu atau menggoda manusia untuk berbuat jahat dan maksiat. 

Dari sinilah terbuka kesempatan emas bagi seluruh umat islam untuk berlomba-lomba berbuat kebaikan selama bulan Ramadhan. Rasulullah Saw menyatakan bahwa setiap satu kebaikan yang dilakukan akan dibalas 10 kali lipat bahkan sampai 700 kali lipat balasannya. Sedangkan orang yang berpuasa langsung diberikan Allah tanpa ada batasannya. Puasa yang dikerjakan dengan baik akan menjadi tameng atau perisai dari siksa api neraka. Artinya, orang yang berpuasa tidak akan mendapat siksa neraka. Bahkan bau mulut orang yang berpuasa itu lebih wangi (harum) daripada minyak wangi yang ada di sisi Allah Swt.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ, قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ رَبَّكُمْ يَقُولُ كُلُّ حَسَنَةٍ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ وَالصَّوْمُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ الصَّوْمُ جُنَّةٌ مِنْ النَّارِ وَلَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ وَإِنْ جَهِلَ عَلَى أَحَدِكُمْ جَاهِلٌ وَهُوَ صَائِمٌ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ. (سنن الترمذي ٦٩٥, مسند أحمد ٧٢٨٩, موطأ مالك ٦٠٣, سنن الدارمي ١٧٠٥)

Dari Abu Hurairah dia berkata: Rasulullah Saw bersabda: "Sesungguhnya Rabb kalian berfirman: Setiap kebaikan diberi pahala sebanyak sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat, sedangkan puasa diperuntukkan untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan memberi pahala puasanya (tanpa batasan jumlah pahala), puasa merupakan tameng dari api neraka, dan bau mulut orang yang berpuasa, lebih wangi di sisi Allah daripada wangi misk (minyak wangi) dan jika salah seorang diantara kalian mengajakmu bertengkar padahal dia sedang berpuasa, maka katakanlah sesungguhnya saya sedang berpusa." (Sunan Tirmidzi 695, Musnad Ahmad 728,9 Muwatha' Malik 603,  Sunan Darimi 1705). 

Untuk itu, mari kita manfaatkan sebaik-baiknya bulan Ramadhan ini dengan berpuasa selama sebulan penuh. Isi dengan banyak berbuat kebaikan seperti sedekah, baca al qur’an, shalat berjamaah, shalat malam (Tarawih dan Tahajud). Kemudian jaga pandangan dari hal-hal yang mengundang syahwat. Jaga pendengaran dari hal yang tidak baik. Jaga mulut untuk tidak berkata kasar, mengumpat serta mengghibah orang lain. Langkahkan kaki untuk menuju masjid, mushalla dan majlis taklim. Bekerja dengan jujur dan disiplin. Dengan begitu, setiap pekerjaan yang kita lakukan selama bulan Ramadhan akan diganjar dengan berlipat ganda. Dan tentunya, derajat Muttaqin (takwa) akan kita peroleh nantinya. Semoga!!! Wallahu a’lam 

 

#Menyebarluaskan Kebaikan#

Lampihong, 19 Februari 2026 M / 1 Ramdahan 1447 H

Jumat, 13 Februari 2026

Sambut Ramadhan, Siswa MAN 3 Balangan Gelar Aksi Bersih Masjid dan Mushalla

Selasa, 10 Februari 2026

Bulan Sya'ban Pembersihan Hati

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Hari ini kita memasuki bulan Sya’ban. Bulan ini hendaknya kita jadikan momentum membersihkan penyakit-penyakit hati agar kita mampu menyambut Ramadhan yang suci dengan jiwa yang bersih, ikhlas, dan ketenangan hati. Bulan Sya’ban bukan hanya bulan penantian, tetapi momentum penting untuk membersihkan hati dan menata jiwa untuk bertemu Ramadhan. Rasulullah sudah memberi teladan nyata dengan memperbanyak amal ibadah di bulan Sya’ban karena bulan ini adalah masa pengangkatan catatan amal kita kepada Allah SWT. Maka, membersihkan hati dari penyakit hati menjadi ikhtiar penting agar Ramadhan bisa disambut dengan jiwa yang sehat dan ibadah yang berkualitas.

 

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Di antara penyakit hati yang harus kita bersihkan dari hati kita adalah iri dan dengki atau hasad. Hasad adalah perasaan tidak suka terhadap nikmat yang diberikan Allah kepada orang lain, disertai keinginan agar nikmat tersebut hilang. Penyakit ini sangat berbahaya karena dapat menghapus pahala amal kebaikan sebagaimana api melahap kayu bakar. Hasad juga menumbuhkan kebencian, memutus silaturahmi, dan merusak persaudaraan. Allah berfirman:

وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللّٰهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلٰى بَعْضٍۗ

Artinya: “Janganlah kamu berangan-angan (iri hati) terhadap apa yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain.” (QS An-Nisa: 32)

 

Mari hilangkan iri dan dengki dengan memperbanyak syukur, menyadari bahwa rezeki telah diatur Allah dengan adil, mendoakan kebaikan bagi orang yang diberi nikmat, serta menanamkan keyakinan bahwa nikmat orang lain tidak mengurangi jatah kita sedikit pun.

 

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Penyakit hati selanjutnya yang harus kita hilangkan adalah sombong atau takabbur dan membanggakan diri atau ujub. Penyakit hati ini sangat berbahaya karena menjadi sebab tertolaknya kebenaran dan terhalangnya seseorang dari surga, sebagaimana kesombongan Iblis yang menolak perintah sujud kepada Nabi Adam. Penyakit hati ini juga membuat kita lupa bahwa semua kebaikan berasal dari Allah sekaligus menumbuhkan kesombongan terselubung. Dalam Al-Qur’an, Allah melarang sikap sombong dan membanggakan diri:

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًاۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍۚ

Artinya: “Janganlah memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi ini dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri.” (QS Luqman: 18)

 

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Kemudian mari kita juga hilangkan penyakit dendam dan benci di bulan Sya’ban ini. Dendam adalah keinginan membalas keburukan dengan keburukan, sedangkan benci adalah perasaan permusuhan yang mengendap di hati. Penyakit ini mengotori jiwa, menyenangkan setan, dan menutup pintu ampunan Allah, khususnya ketika hati enggan memaafkan. Mari latih jiwa kita untuk bisa memaafkan dengan mengingat besarnya pahala orang yang memberi maaf. Mari berdoa agar hati kita dilembutkan serta mampu meneladani Rasulullah yang mudah memaafkan, bahkan kepada orang yang menyakitinya. Rasulullah bersabda:

مَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلا عِزًّا

Artinya, “Tidaklah Allah menambahkan seorang hamba sifat pemaaf melainkan akan menambah kemuliaan baginya.” (HR Muslim).

 

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Bulan Sya’ban bukan hanya tentang menunggu Ramadhan, tetapi tentang menyiapkan diri agar layak bertamu di bulan suci. Dengan membersihkan penyakit hati, kita tidak hanya menyambut Ramadhan secara fisik, tetapi juga secara ruhani. Semoga Allah SWT membersihkan hati kita, menghilangkan penyakit batin yang merusak, dan mempertemukan kita dengan Ramadhan dalam keadaan hati yang sehat dan penuh keikhlasan. Amin.

Popular