MENYEBARLUASKAN KEBAIKAN

Web ini Kumpulan tulisan kajian keagamaan yang menarik berdasarkan Al Qur’an dan Hadits Nabi Saw. Selain tulisan, Web juga berisi berita menarik seputar Madrasah, Video Tiktok dan Youtube yang baik untuk ditonton. Ikuti terus kajiannya, jangan sampai terlewatkan. Baca semua tulisannya. Semoga mendapatkan kebaikan. Amin

Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Desember 2025

Catatan Haulan Abah Guru Sekumpul Tahun 2025

Pada Hari Minggu, 28 Desember 2025 M bertepatan 7 Rajab 1447 H sekitar jam 06.15 Wita saya beserta keluarga (Isteri dan 4 orang anak) berangkat dengan 3 sepeda motor dari Paringin menuju Sekumpul Martapura. Ini pengalaman pertama saya membawa isteri dan anak ke acara haul Abah Guru Sekumpul. Walaupun setiap tahunnya juga berangkat. 

Alhamdulillah dan luar biasa tanggapan dari isteri dan anak-anak saya. Melihat sepanjang jalan banyak sekali rombongan dari berbagai pelosok daerah di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur. Mereka berangkat dengan mobil, sepeda motor dan kendaraan lainnya. Jalanan macet di mana-mana. Walaupun bisa berjalan, jalannya pelan saja. Banyak sekali rest area yang disediakan warga secara mandiri dan swadaya di sepanjang jalan menuju Sekumpul. 

Sungguh luar biasa. Hati ini bergitik dan bergetar melihat banyaknya jamaah haul abah guru Sekumpul yang setiap tahunnya terus bertambah. Bahkan bisa kita lihat status di media sosial daerah di Samarinda, Balikpapan dan sekitar katanya lengang (Sepi). Apalagi di daerah Kalimantan Selatan, dari Tabalong, Balangan, HSU, HST, HSS, Tapin dan daerah lainnya berlomba-lomba untuk bisa berhadir pada malam puncak Haul, yakni malam Senin 28 Desember 2025 M / 7 Rajab 1447 H. 

Kalau kita melihat antusiasme masyarakat yang tetap setia setiap tahun datang kehaulan berdesak-desakan dan biaya mandiri. Kemudian antusiasme warga yang menyediakan rest area di mana-mana secara mandiri dan swadaya. Bahkan bukan hanya itu, ada warga yang menyumbangkan jasa lainnya seperti bengkel gratis, kesehatan gratis, urut atau pijat gratis, bekam, angkutan dll yang sungguh diluar nalar kebanyakan orang. Akan tetapi ini benar-benar terjadi dan nyata. Bahkan ada lagi status yang menyatakan hanya pada Haulan Abah Guru Sekumpul duit (uang) kada payu (Tidak Laku). 

Masya Allah, sungguh-sungguh luar biasa dan sulit untuk dinalar bagi mereka yang berpikir rasional. Tapi ini nyata dan fakta terjadi setiap tahun pada acara Haulan. Apa penyebabnya? 

Secara umum ada beberpa penyebab yang dapat saya tuliskan di tulisan ini. Hal ini berdasarkan pengalaman dan apa yang saya rasakan selama mengikuti Haulan setiap tahunnya, diantaranya :

1. Waliyullah
Tidak ada yang memungkirinya bahwa Abah Guru Sekumpul adalah salah satu Waliyullah. Ada yang mengatakan derajat beliau sebagai Wali Qutub. Merupakan tingkatan wali tertinggi, pemimpin para wali. Hal ini merupakan magnet bagi para jamaah itu terus berhadir setiap haulnya. Tidak hanya itu, setiap hari para peziarah selalu memadati makam Abah Guru.

2. Cinta
Rasa cinta jamaah kepada Abah Guru serasa tidak ada batasnya. Setiap saat para jamaah senantiasa merindukan Beliau. Para orang tua yang sempat menghadiri pengajian beliau ketika masih hidup merasa rindu akan suara dan petuah-petuahnya. Apalagi suara merdu beliau ketika membawakan syair-syair maulid terasa masih melekat dibenak para jamaah. Saya termasuk orang yang sempat mengikuti pengajian beliau setiap malam senin di Sekumpul. 

Para jamaah yang belum pernah bertemu dan hadir di pengajian beliau. Bisa menyaksikan di rekaman ceramah atau pengajiannya melalui YouTube, dan media sosial lainnya. Rasa cinta inilah yang menyebabkan para jamaah berbondong-bondong datang berziarah ke makam beliau dan selalu hadir setiap tahun di acara Haulan. Walaupun datang secara mandiri, hujan dan banjir tetap diniatkan hadir. Para jamaah yakin, mencintai Wali Allah, maka Allah juga akan memberikan cinta-Nya kepada orang yang mencintai kekasih-Nya. 

3. Tabarruk
Mengambil berkah adalah sesuatu yang dibolehkan dalam Islam. Tabarruk adalah mencari berkah (Kebaikan) dari Allah Swt melalui perantara sesuatu yang dianggap mulia. Bisa orang, tempat, benda dll. Tabarruk ini merupakan bentuk Tawassul atau permohonan kepada Allah SWT untuk mengabulkan segala hajat yang diniatkannya. 

Datang dan hadir pada acara Haulan Abah Guru Sekumpul merupakan salah satu bentuk tabarruk yakni mencari keberkahan dari Allah SWT. Para jamaah yakin, Abah Guru merupakan Wali Qutub dan salah satu kekasih Allah, maka ketika para jamaah hadir dan datang keberkahan (kebaikan) akan diturunkan Allah SWT kepada para jamaah. Segala hajat yang diniatkan mudah-mudahan di kabulkan oleh Allah SWT. Dengan bertawasul kepada orang yang dekat dengan Allah, maka Allah SWT akan cepat mengabulkannya. 

Inilah harapan dari para jamaah Haulan, baik yang datang secara langsung maupun yang tidak datang akan tetapi memberikan jasa mereka kepada para jamaah yang berangkat, seperti menyediakan rest area, makan-minum gratis, bengkel, kesehatan, urut dan pijat, bekam, penginapan dan lain-lain merupakan bentuk cinta dan tabarruk. Kita berharap, semoga para jamaah yang berangkat dari berbagai daerah bisa selamat hadir dan pulang ke daerah masing-masing, sehat selalu dan segala hajat mereka dikabulkan Allah SWT. Dan para relawan yang bekerja siang malam juga mendapat tabarruk dan yang tidak hadir karena alasan sesuatu akan tetapi dihati mereka juga ada rasa cinta kepada Abah Guru Sekumpul, Mudah-mudahan juga mendapatkan berkahnya. Amin ya rabbal alamin

Martapura, 28 Desember 2025
#Menyebarluaskan Kebaikan#

Rabu, 15 Mei 2024

Pesta Pasti Berakhir (Revisi)

Tulisan ini terinspirasi oleh sebuah judul lagu Rhoma Irama dengan judul yang sama, yaitu Pesta Pasti Berakhir. Tulisan ini bukan untuk menafsirkan isi lagunya. Karena saya bukan seorang yang ahli dalam menafsirkan sebuah lagu hehe…

 

Saya hanya melihat bahwa lagu-lagu yang dibawakan oleh H. Rhoma Irama beserta Group Sonetanya mengandung nilai-nilai kehidupan yang luar biasa. Selain enak dan sahdu didengarnya, lagu-lagu yang Beliau ciptakan dan langsung dinyanyikannya penuh dengan makna, nasihat dan hikmah bagi mereka yang mendengarkannya. Semua kalangan yang menyukai pasti sepakat dengan apa yang saya sebutkan itu. Kebetulan saja, dalam tulisan ini saya hanya mencoba untuk memberikan sedikit ‘tafsir’__sekali lagi saya bukan ahli tafsir hehe___untuk lagu itu.  Lirik lagunya menggambarkan tentang kehidupan di dunia ini yang hanya sementara. Sang penulis lagu mengibaratkan kehidupan dunia yang serba sementara ini dengan Pesta Pasti Berakhir. Bait pertama lirik lagu itu adalah :

 

Berumah megah bermobil mewah

Itu tujuan banyak manusia

Uang berlimpah pakaian indah

Itu tujuan banyak manusia

Makanan dan minuman yang serba lezat

Santapan yang selalu dicari

Rekreasi yang mahal serta memikat

Hiburan yang selalu dinikmati


Dalam bait pertama, syair lagu itu diceritakan bahwa berumah megah, bermobil mewah dan uang belimpah serta pakaian yang indah merupakan tujuan banyak manusia. Dengan memiliki semua itu akan mudah mendapatkan makanan, minuman yang lezat. Rekresasi dan hiburan di manapun akan bisa dinikmati. Merupakan hal yang lumrah, bahwa kebanyakan dari manusia menginginkan semua itu. Sebab, semua kemewahan dan kenikmatan yang diperoleh itu merupakan kesenangan hidup semua manusia. Hal ini sudah dinyatakan Allah bahwa kesenangan hidup di dunia itu adalah d
ijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak (diantaranya ; binatang-binatang yang Termasuk jenis unta, lembu, kambing dan biri-biri) dan sawah ladang. Akan tetapi perlu diingat bahwa semuanya kesenangan hidup yang didapatkan itu hanya kesenangan hidup di dunia belaka. Kesenangan itu tidak ada artinya di sisi Allah Swt. sebab, tempat terbaik bagi manusia itu berada disisi-Nya, yakni surga.

 

Qs. ‘Ali ‘Imran (3): 14

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ ٱلشَّهَوَٰتِ مِنَ ٱلنِّسَآءِ وَٱلۡبَنِينَ وَٱلۡقَنَٰطِيرِ ٱلۡمُقَنطَرَةِ مِنَ ٱلذَّهَبِ وَٱلۡفِضَّةِ وَٱلۡخَيۡلِ ٱلۡمُسَوَّمَةِ وَٱلۡأَنۡعَٰمِ وَٱلۡحَرۡثِۗ ذَٰلِكَ مَتَٰعُ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۖ وَٱللَّهُ عِندَهُۥ حُسۡنُ ٱلۡمَ‍َٔابِ  ١٤

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).”

 

Mereka bekerja siang dan malam hanya untuk meraih semua itu. Kesuksesan hidup kadang diukur dengan punya rumah megah, mobil mewah, uang berlimpah, pakaian indah serta rekreasi dan hiburan yang membuat kesenangan mereka. Orang lain yang melihat pun akan cemburu dan menganggap semua kesenangan dunia telah mereka dapatkan. Seolah-olah ‘surga’ dunia sudah berada di dalam genggangannya. Padahal semua itu hanya sementara saja. Manusia bisa tertipu oleh gemerlap kesenangan hidup tersebut, apabila lupa kepada Allah Swt sebagai pemilik segala kebahagian. Kesenangan hidup itu hanya sementara belaka. Selama hidup didunia bisa didapatkan. Jangan melupakan kehidupan di akhirat yang hakiki. Yang bisa membuat kita hidup bahagia selamanya didalam surga-Nya. Hal ini sudah digambarkan oleh H. Rhoma Irama dalam bait lirik lagu yang kedua, yaitu :

 

Makan-minumlah senang-senanglah

Dalam pesta kehidupan dunia

Tapi ingatlah gunakan pikir

Bahwa pesta pasti kan berakhir

Dunia hanyalah persinggahan

Dari sebuah perjalanan Panjang

Dunia bukanlah tujuan

Namun hanya ladang tempat bertanam

 

Dalam lirik lagu itu disebutkan bahwa dunia hanyalah tempat persinggahan dari sebuah perjalanan panjang. Dunia bukanlah tujuan, namun hanya ladang tempat bertanam. Dalam Bahasa Al qur`an dunia dinyatakan sebagai kesenangan yang palsu.

 

Qs. Al Hadid (57): 20

ٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا لَعِبٞ وَلَهۡوٞ وَزِينَةٞ وَتَفَاخُرُۢ بَيۡنَكُمۡ وَتَكَاثُرٞ فِي ٱلۡأَمۡوَٰلِ وَٱلۡأَوۡلَٰدِۖ كَمَثَلِ غَيۡثٍ أَعۡجَبَ ٱلۡكُفَّارَ نَبَاتُهُۥ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَىٰهُ مُصۡفَرّٗا ثُمَّ يَكُونُ حُطَٰمٗاۖ وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِ عَذَابٞ شَدِيدٞ وَمَغۡفِرَةٞ مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضۡوَٰنٞۚ وَمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلۡغُرُورِ  ٢٠

“Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan Para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu Lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. 

 

Dalam ayat itu juga disebutkan bahwa dunia ini hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan diantara kamu serta saling berbangga tentang banyaknya kekayaan dan anak keturunan. Sehingga banyak manusia yang tertipu oleh kesenangan dunia itu. Di ayat lain disebutkan lagi, selain permainan dan melalaikan dunia juga digambarkan sebagai senda gurau atau candaan belaka.

 

Qs. Muhammad (47): 36

إِنَّمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا لَعِبٞ وَلَهۡوٞۚ وَإِن تُؤۡمِنُواْ وَتَتَّقُواْ يُؤۡتِكُمۡ أُجُورَكُمۡ وَلَا يَسۡ‍َٔلۡكُمۡ أَمۡوَٰلَكُمۡ  ٣٦

“Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. dan jika kamu beriman dan bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu.” 

 

Disebutkan dalam ayat di atas, bahwa kehidupan dunia merupakan permainan dan senda gurau. Hanya orang-orang yang beriman dan bertakwa yang akan mendapatkan pahala dari perbuatannya selama di dunia. Kehidupan dunia tidak melalaikannya lupa kepada Allah Swt. justru, kehidupan dunia itu sebagai ladang untuk berbuat baik dan beribadah kepadsa-Nya. Sehingga apa yang didapatkannya akan memberi manfaat yang begitu besar baginya. Dia menyadari bahwa kehidupan atau kesenangan hidup didunia itu pastinya akan hilang dan lenyap. Istilah sang penulis lagu adalah Pesta Pasti Berakhir. Ya benar! Pesta pasti akan berakhir. Kehidupan akhiratlah yang akan kekal selamanya.

 

Makna Pesta

 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Pesta adalah perjamuan makan minum (bersuka ria dan sebagainya) atau perayaan. Pesta yang dilakukan itu berbagai macam. Ada pesta perkawinan, ulang tahun, tunangan, panen, dansa, olahraga, sunatan, pesta demokrasi dan sebagainya. Tergantung kebutuhan dan kemampuan orang dalam menyajikan serta menyuguhkan pesta itu. Bagi orang yang memiliki kelebihan harta, maka pesta yang diselenggarakan akan mewah. Tempat acara biasanya digedung yang luas dan besar. Bisa juga di hotel berbintang dan sebagainya. Sedang mereka yang memiliki kemampuan harta benda yang menengah ke bawah, acara pesta bisa diselenggarakan di rumah atau Gedung yang tidak begitu besar yang bisa menampung banyak orang. Inti dari pesta itu adalah jamuan makan disertai dengan hiburan. Hiburan yang disuguhkan terkadang mendatangkan artis ibukota ataupun artis yang terkenal. Semua orang yang hadir di dalam pesta itu penuh dengan kebahagian, kecerian, senda gurau, tawa, senyum. Mereka menikmati jamuan makan dan alunan musik yang disuguhkan. Terkadang jamuan makan yang disuguhkan banyak sekali. Undangan yang datang bisa memilih menunya. Semuanya terasa enak, sedap dan lezat. Pesta yang diselenggarakan ada yang setengah hari, satu hari penuh dari pagi sampai malam, ada pesta itu diselenggarakan selama beberapa hari bahkan lebih dari satu bulan. Tidak sedikit biaya yang dikeluarkan untuk bisa menggelar pesta itu. Semakin besar, megah, dan mewah pesta itu, maka semakin besar biaya yang dikeluarkan.

 

Begitulah pesta itu diselenggarakan, baik pestanya itu diselenggarakan setengah hari, sehari penuh, seminggu ataupun berbulan-bulan. Yang perlu diingat bahwa semua itu pasti ada akhirnya. Kesenangan dan kebahagian akan hilang seiring dengan berakhirnya pesta itu. Semuanya serba sementara dan tidak akan abadi. Bisa saja, setelah selesai pesta itu akan mendatangkan penderitaan. Allah menyatakan bahwa kehidupan dunia berupa makan dan bersenang-senang yang manusia lakukan merupakan angan-angan belaka. Semuanya kosong. Kelak, diakhirat mereka akan mengetahui akibat dari perbuatan mereka yang terlalu mengangung-agungkan duniawai.

 

Qs. Al Hijr (15): 3

ذَرۡهُمۡ يَأۡكُلُواْ وَيَتَمَتَّعُواْ وَيُلۡهِهِمُ ٱلۡأَمَلُۖ فَسَوۡفَ يَعۡلَمُونَ  ٣

“Biarkanlah mereka itu (didunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong) mereka, kelak mereka akan mengetahui (akibat Perbuatannya)”

 

 

Pesta itu merupakan simbol dari kehidupan di dunia ini. Semua kesenangan hidup yang diterima di dunia suatu saat akan hilang. Pesta akan berakhir. Semua kehidupan di dunia ini pasti akan hilang dan lenyap. Hal ini akan di mulai saat kematian datang menjemput.

 

Qs. Yunus (10): 70

مَتَٰعٞ فِي ٱلدُّنۡيَا ثُمَّ إِلَيۡنَا مَرۡجِعُهُمۡ ثُمَّ نُذِيقُهُمُ ٱلۡعَذَابَ ٱلشَّدِيدَ بِمَا كَانُواْ يَكۡفُرُونَ  ٧٠

“(bagi mereka) kesenangan (sementara) di dunia, kemudian kepada Kami-lah mereka kembali, kemudian Kami rasakan kepada mereka siksa yang berat, disebabkan kekafiran mereka.”

 

 

Semua makhluk hidup di muka bumi ini pasti akan mengalami kematian. Allah menyatakan bahwa setiap yang bernyawa didunia ini pasti akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasan setiap orang. Barang siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sesungguhnya, dia akan memperoleh kemenangan yang nyata. Sebab, kehidupan dunia itu hanyalah kesenangan yang memperdaya. Yang akan memberi penyesalan bagi manusia-manusia yang tertipu olehnya.

 

Qs. Ali ‘Imran (3):185

كُلُّ نَفۡسٖ ذَآئِقَةُ ٱلۡمَوۡتِۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوۡنَ أُجُورَكُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِۖ فَمَن زُحۡزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ وَأُدۡخِلَ ٱلۡجَنَّةَ فَقَدۡ فَازَۗ وَمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلۡغُرُورِ  ١٨٥

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” 

 

Di ayat lain disebutkan kematian itu pasti akan datang kepada siapapun. Walaupun dia berlindung dibalik atau didalam benteng yang tinggi dan kokoh. Manusia tidak bisa berlindung dari kematian. Dia akan datang ketika waktunya telah tiba.  

 

Qs. An Nisa (4): 78

أَيۡنَمَا تَكُونُواْ يُدۡرِككُّمُ ٱلۡمَوۡتُ وَلَوۡ كُنتُمۡ فِي بُرُوجٖ مُّشَيَّدَةٖۗ وَإِن تُصِبۡهُمۡ حَسَنَةٞ يَقُولُواْ هَٰذِهِۦ مِنۡ عِندِ ٱللَّهِۖ وَإِن تُصِبۡهُمۡ سَيِّئَةٞ يَقُولُواْ هَٰذِهِۦ مِنۡ عِندِكَۚ قُلۡ كُلّٞ مِّنۡ عِندِ ٱللَّهِۖ فَمَالِ هَٰٓؤُلَآءِ ٱلۡقَوۡمِ لَا يَكَادُونَ يَفۡقَهُونَ حَدِيثٗا  ٧٨

“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: "Ini adalah dari sisi Allah", dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: "Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)". Katakanlah: "Semuanya (datang) dari sisi Allah". Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun?” 

 

Kematian akan menghilangkan semua kenikmatan dan kesenangan yang diperoleh di dunia ini. Tidak ada satu pun manusia di dunia ini yang bisa menghindar dan lari dari kematian. Mereka yang sadar bahwa hidupnya akan menuju kepada kematian akan mengisi hidupnya dengan kebaikan. Pesta boleh saja dilaksanakan, sesederhana atau pun semewah-mewahnya. Akan tetapi jangan sampai lupa pada akhir dari pesta itu. Jangan sampai pesta yang diselenggarakan itu justru melalaikan kita akan kematian. Allah Swt menyatakan bahwa bermegah-megahan itu akan melalaikan kamu sampai maut menjemput (masuk kedalam kubur). Hendaknya, kita jangan melakukan hal seperti itu. Sebab, kita akan mengetahui balasannya kelak.

 

Qs. At Takatsur (102): 1-3

أَلۡهَىٰكُمُ ٱلتَّكَاثُرُ  ١ حَتَّىٰ زُرۡتُمُ ٱلۡمَقَابِرَ  ٢ كَلَّا سَوۡفَ تَعۡلَمُونَ  ٣

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui.”

 

Begitulah, Allah mengingatkan kepada kita bahwa setiap kesenangan dan kemewahan dunia akan melalaikan kepada nikmat dan kematian. Bahkan disebutkan dalam ayat itu sampai ke dalam kubur. Nauzdubillahi min dzalik. Untuk itu, bagi mereka yang sadar bahwa ‘pesta akan berakhir’ akan mempersiapkan dirinya untuk ‘kembali’ kepada Allah Swt. Dia tidak tergoda dengan kesenangan, kemewahan dan kemegahan ‘pesta’ itu. Walaupun dia ikut di dalam pesta itu, akan tetapi jiwanya tidak terikat dan terbujuk oleh kesenangan acara didalamnya. Jiwanya tidak lalai dalam mengingat Allah. Semuanya dia lakukan hanya mengharap Ridha-Nya. Dan, tentunya bisa kembali menghadap-Nya dengan penuh kedamaian dan kebahagian. Semoga…

 

#Memyebarluaskan Kebaikan#

Lampihong, 15 Mei 2024

Rabu, 10 November 2021

Berzikir Yang Banyak, Bukan Berdoa!


Qs. Al Ahzab (33): 41-42

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ ذِكۡرٗا كَثِيرٗا  ٤١ وَسَبِّحُوهُ بُكۡرَةٗ وَأَصِيلًا  ٤٢

“Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang.” 

Dalam al Quran, kita disuruh untuk banyak berzikir (menyebut nama) Allah sebanyak-banyaknya. Baik diwaktu pagi maupun petang. Di ayat lain disebutkan menyebut nama Allah sebanyak-banyaknya itu bisa pada saat berperang (Qs. Al Anfal (8): 45). Perintah menyebut nama Allah sebanyak-banyaknya itu dirangkai dengan perintah untuk bertasbih baik diwaktu pagi maupun petang (Qs. Ali Imran (3): 41). Zikir merupakan perbuatan mengingat Allah dengan senantiasa menyebutnya. Di ayat lain, disebutkan bahwa mengingat Allah itu bisa dilakukan sambal berdiri, duduk maupun dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (Qs. Ali Imran (3): 190).    

Kalau dilihat dari ayat-ayat al Quran itu, maka yang dimaksud dengan zikir yaitu menyebut dan mengingat Allah Swt. Sebab, banyak orang yang mengucapkan zikir akan tetapi lupa dalam mengingat-Nya. Lidahnya mengucapkan kalimat zikir akan tetapi hati dan pikirannya lupa kepada Allah. Zikir yang baik itu adalah totalitas seorang hamba kepada penciptanya. Segenap pikiran dan hatinya diserahkan hanya kepada Allah. Dimanapun ia berada dan pada saat kondisi apapun, hatinya selalu ingat kepada Allah. Selama 24 jam, hati dan pikirannya hanya tertuju kepada-Nya. Melihat segala penciptaannya dari yang kecil sampai yang besar, ingat kepada-Nya. Sebab, segala sesuatu di dunia ini tidak akan pernah terjadi tanpa ‘izin’ dari Allah Swt. Allah yang menundukkan bagi manusia apa yang ada di bumi dan bahtera yang berlayar di lautan dengan perintah-Nya. Allah juga menahan benda-benda langit jatuh ke bumi. Semua itu dengan izin-Nya saja (Qs. Al Hajj (22): 65). 

Di dalam al Quran, Allah Swt menyuruh untuk banyak berzikir. Tidak ada satupun ayat dalam al Quran yang menyuruh banyak berdoa. Hal ini menjadi sesuatu yang bertolak belakang dengan kenyataan yang kita hadapi dimasyarakat. Sering kita dengar pernyataan supaya banyak berdoa. Setiap ada masalah, maka kita disuruh untuk banyak berdoa. Padahal, didalam al Quran Allah menyuruh hamba-Nya untuk banyak berzikir, yakni menyebut dan mengingat-Nya. Sebab, orang yang berzikir maka hatinya menjadi tenteram (Qs. Ar Ra'd (13): 28). 

Allah Swt menyatakan bahwa cara berzikir yang baik adalah dengan merendahkan diri dan memiliki rasa takut. Selain itu, Ketika berzikir hendaklah dengan tidak mengeraskan suara. Zikir bisa dilakukan pada waktu pagi dan petang (Qs. Al A’raf (7): 205). Ketika zikir yang dilakukan dengan cara merendahkan diri, rasa takut dan suara yang pelan, maka zikir yang dilakukannya menjadi khusyuk. Dengan begitu, terbangun kedekatan dirinya dengan Allah Swt. Dari situlah, ketenangan dan ketenteraman akan didapatkannya. Maka ia akan menjadi orang yang Bahagia baik di dunia maupun di akhirat kelak. Semoga! 

 

#Menyebarluaskan Kebaikan#
Paringin, 9 Nopember 2021

 

Senin, 25 Oktober 2021

Membandingkan

Qs. Al Hujurat (49): 13

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن ذَكَرٖ وَأُنثَىٰ وَجَعَلۡنَٰكُمۡ شُعُوبٗا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓاْۚ إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٞ  ١٣

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” 

 

Allah menciptakan makhluk dan benda di muka bumi ini secara berpasang-pasangan (Qs. Adz Dzariyat (51): 49). Tidak hanya makhluk atau pun benda yang berpasangan, sifat (karakter) dan ukuran pun juga berpasang-pasangan. Ada baik dan jahat, lurus dan sesat, tinggi dan rendah, berat dan ringan, Panjang dan pendek dan lain sebagainya. akibat adanya pasangan itu, maka dalam kehidupan ini ada pembandingnya. Orang disebut baik karena ada pembangdingnya yaitu jahat. Orang disebut kaya, karena ada orang miskin. Orang disebut pintar, cerdas, alim karena ada orang yang bodoh, dungu, dan jahil. Orang disebut cantik atau tampan, karena ada yang jelek atau buruk rupa. Ada yang tua, karena ada yang muda. Disebut gemuk, karena ada yang kurus. Disebut tinggi karena ada yang rendah. Disebut Panjang karena ada yang pendek, dan seterusnya. Seandainya tidak ada pembanding, maka kehidupan di dunia ini akan dipenuhi oleh satu hal saja atau monoton. Bisa saja, hanya ada orang baik atau jahat di dunia ini. Atau, orang kaya atau miskin saja. Bisa juga, orang pintar semua, atau bodoh semuanya. Bisa juga, laki-laki, atau perempuan semuanya. Oleh sebab itu, berpasang-pasangan merupakan sunnatullah. Hukum yang telah ditetapkan Allah mulai dari awal penciptaan sampai kiamat kelak. Sebab, kalau sudah menjadi satu semuanya, maka akan menyerupai keesaan Allah Swt. Hanya Allah saja yang esa. Selainnya bisa dua, tiga, empat dan seterusnya.

 

Dengan adanya pembanding itu, maka wajar saja ada yang baik dan buruk. Kaya ataupun miskin, pintar dan bodoh, tinggi dan rendah, tua dan muda, raja dan rakyat biasa, atasan dan bawahan dan sebagainya. Semua itu memang sebuah kepastian. Saat ini ada yang berada di posisi atas, seperti jadi raja, presiden, orang kaya, punya jabatan, pintar, dan sebagainya. Atau, saat ini, ada yang berada diposisi bawah. Menjadi orang miskin, bodoh, rakyat jelata, pengemis, pemulung dan sebagainya. Akan tetapi, semua itu tidak selalu berjalan dengan mulus. Bisa saja orang yang punya jabatan tinggi, mendadak diberhentikan, bisa secara paksa oleh orang yang tidak suka ataupun tersangkut kasus hukum. Bisa saja, orang yang kaya raya, jatuh bangkrut kemudian menjadi miskin. Atau sebaliknya, orang yang miskin kemudian menjadi kaya. Orang yang tidak punya jabatan kemudian mendapat jabatan tinggi dan sebagainya. semua itu tidak ada yang pasti. Kehidupan manusia di muka bumi ini cenderung turun naik.

 

Untuk itu, bagi yang memiliki kelebihan, baik harta, jabatan, wajah, kecerdasan, jangan merasa lebih tinggi dari yang lainnya. Begitu juga, bagi yang memiliki kekurangan, janganlah merasa rendah diri. Sebab, Allah Swt tidak memandang manusia dari tinggi rendahnya status dimasyarakat. Orang yang paling mulia disisi Allah adalah orang yang bertakwa (Qs. Al Hujurat( 49): 13). Jangan suka membandingkan diri dengan orang lain. Ketika, membanding dengan orang yang lebih rendah, maka akan muncul sikap sombong (takabur). Ketika membanding dengan yang lebih tinggi, maka akan muncul sikap rendah diri dan minder. Lihat diri masing-masing saja. Sudahkah, nikmat yang diberikan Allah kita gunakan untuk kemaslahatan agama dan orang banyak?. Sudahkah jabatan yang diberikan dijalankan dengan Amanah?. Sudahkah, ilmu pengetahuan yang diberikan digunakan untuk mencerdaskan dan membimbing orang lain untuk dekat kepada Allah Swt?. Atau, sudahkah kita bersyukur terhadap kekurangan, kemiskinan dan kebodohan yang kita terima dari Allah? Dan sebagainya. Cobalah untuk melihat kemampuan diri masing-masing untuk berbuat yang terbaik bagi diri, keluarga, masyarakat, bangsa dan agama. Jangan suka melihat ke atas atau ke bawah. Tetap ikhlas menerima apapun keadaannya dan senantiasa bersyukur. Sebab, Allah pasti akan menambahkan rezeki bagi orang yang senantiasa bersyukur. Semoga!  

 

#Menyebarluaskan Kebaikan#
Tebing Tinggi, 25 Oktober 2021

Rabu, 20 Oktober 2021

Suri Teladan

Qs. Al Ahzab (33): 21

لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأٓخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرٗا  ٢١

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” 

Suri teladan adalah contoh terbaik yang pantas untuk ditiru. Menjadi panutan dan teladan dalam menjalani hidup agar lebih baik. Seorang yang menjadi suri teladan merupakan orang yang benar-benar menjadi pilihan yang tepat. Salah dalam memilih sosok sebagai panutan akan menjadi berantakan. Hidupnya bisa menjadi tidak Bahagia, bahkan bisa menderita. Seseorang yang menjadi teladan merupakan orang yang memiliki kelebihan. Terutama akhlak atau budi pekerti. Orang yang memiliki akhlak yang baik akan membawa kebaikan bagi orang lain yang berada didekatnya. Tidak hanya itu, orang yang memiliki akhlak mulia akan menjadi kebaikan bagi orang banyak. Kata-katanya lemah lembut dan jujur. Ketika marah tidak meluap-luap. Marahnya pun dapat terkontrol, sehingga tidak menyebabkan kontak fisik dan mengeluarkan kata-kata yang tidak baik dan menyakitkan hati. Sikapnya sopan dan senantiasa membantu orang yang membutuhkan. Kepada yang tua menghormatinya dan kepada yang muda menyayangi. Dia senantiasa dicintai oleh orang banyak. Tidak pernah menyakiti fisik dan hati orang lain. Dia memiliki kecerdasan yang baik. Senantiasa memberikan nasihat yang baik dan menyejukkan. Ketika dia tidak ada akan senantiasa dicari dan dirindukan kehadirannya. 

Senantiasa memberikan solusi dalam setiap permasalahan. Mencintai dan suka membantu orang-orang fakir miskin dan lemah. Menyayangi anak-anak yatim dan piatu. Menjadi kepala keluarga yang baik dan panutan. Menjadi pemimpin yang Amanah dan adil. Tidak sombong, bahkan rendah hati. Tidak suka menyalahkan orang lain, justru memberikan solusi dan nasihat yang baik. Selalu memaafkan kesalahan, bahkan kezaliman yang dilakukan orang lain kepadanya. Hidupnya sederhana, walaupun memiliki harta yang banyak. Suka bersedekah,infaq dan zakat. Jiwa, raga dan harta rela digunakannya untuk kepentingan agama. Seluruh hidupnya hanya untuk kemaslahatan umatnya. Dia lah sosok Agung, manusia Insal Kamil di muka bumi ini. Rasulullah Saw. Membicarakannya tidak akan pernah habis ditulis. Berbagai macam kitab dan buku telah ditulis. Selalu memberikan pelajaran dan kesejukan yang tiada tara. Untuk itu, kita hanya meniru semaksimal mungkin apa yang telah dilakukan dan diperjuangkannya untuk agama dan kehidupan manusia di muka bumi ini. Dengan senantiasa selalu mengharap limpahan rahmat dari Allah Swt. Beriman kepada hari akhir dan senantiasa berdzikir kepada Allah Swt. Sebab, dengan meniru akhlaknya maka kita termasuk orang yang mencintai dan merindukannya. Dengan begitu, kita akan selalu bersamanya, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Amin ya rabbal alamin… 

#Menyebarluaskan kebaikan#

Paringin, 20 Oktober 2021

Popular