Web ini Kumpulan tulisan kajian keagamaan yang menarik berdasarkan Al Qur’an dan Hadits Nabi Saw. Selain tulisan, Web juga berisi berita menarik seputar Madrasah, Video Tiktok dan Youtube yang baik untuk ditonton. Ikuti terus kajiannya, jangan sampai terlewatkan. Baca semua tulisannya. Semoga mendapatkan kebaikan. Amin
Hadirin Jamaah Jumat Rahimakumullah
Dalam kesempatan yang mulia ini marilah kita senantiasa saling mengingatkan untuk selalu meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Swt, dengan senantiasa melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi segala apa yang dilarang-Nya.
Hadirin Jamaah Jumat Rahimakumullah
Saat ini kita telah memasuki 10 hari kedua di bulan Ramadhan. Tepatnya hari ke-16 Ramadhan. Artinya kita telah memasuki pertengahan puasa. Pada Masa pertengahan ini sering biasanya semangat beribadah mulai menurun, masjid dan mushalla jamaahnya mulai berkurang dibanding awal ramadhan. Padahal, pada saat ini pintu ampunan Allah SWT dibuka selebar-lebarnya bagi hamba-Nya
Hadirin Jamaah Jumat Rahimakumullah
Untuk mendapatkan ampunan Allah Swt, ada beberapa amalan yang sangat dianjurkan untuk diperkuat dan diperbanyak pada pertengahan Ramadhan ini,
1. Memperbanyak Istighfar dan Taubat
Amalan utama di 10 hari kedua adalah
memperbanyak istighfar. Memohon ampunan tidak hanya dilakukan setelah shalat,
tetapi di dilakukan setiap waktu senggang. Taubat yang sungguh-sungguh (taubatan
nasuha) harus disertai janji untuk tidak melakukan perbuatan yang sama dan
berusaha melakukan perbuatan baik. Agar taubat diterima Allah Swt.
2. Menjaga Shalat Berjamaah dan Shalat
Sunnah
Jangan biarkan shaf di masjid mulai
maju atau berkurang. Menjaga shalat fardu berjamaah dan menambahnya dengan shalat-shalat
sunnah seperti Sunat Rawatib, Dhuha, serta
Tahajud akan mempererat hubungan kita dengan Allah Swt.
3. Memperbanyak Sedekah
Ramadan adalah bulan kedermawanan.
Sedekah tidak hanya membantu sesama yang membutuhkan, tetapi juga berfungsi
sebagai penghapus dosa sebagaimana air memadamkan api.
4. Tadarus Al-Qur'an
Al-Qur'an diturunkan di bulan
Ramadan. Perbanyak Membacanya, merenungi makna, dan mengamalkan isi Al-Qur'an
adalah cahaya bagi hati.
5. Berdoa dengan Doa Maghfirah/Ampunan
Salah satu doa yang sangat dianjurkan untuk dipanjatkan pada 10 hari kedua Ramadan adalah: “Allahummaghfirli dzunubi ya robbal 'alamin.” (Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku, wahai Tuhan semesta alam).
Hadirin Jamaah Jumat Rahimakumullah
Sepuluh hari kedua Ramadan adalah
jembatan menuju sepuluh hari terakhir yang penuh kemuliaan (Lailatul Qadar).
Tanpa ampunan di fase kedua, akan sulit bagi kita untuk meraih kemuliaan di
fase penutup (akhir). Mari kita berlomba-lomba untuk meraih ampunan dari Allah
Swt. Jangan sampai kesibukan-kesibukan pekerjaan dan lainnya melalaikan kita
dari taubat kepada Allah Swt. Allah berfirman:
وَسَارِعُوٓاْ
إِلَىٰ مَغۡفِرَةٖ مِّن رَّبِّكُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ
أُعِدَّتۡ لِلۡمُتَّقِينَ ١٣٣
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (Qs. ‘Ali Imran : 133).
Mari kita jadikan setiap detik di
bulan ramadhan ini untuk bersimpuh dan bersujud di hadapan Allah, mengakui
segala khilaf, dan memohon agar nama kita tercatat sebagai golongan orang-orang
yang beruntung yang mendapatkan ampunan-Nya. Semoga Allah SWT menerima amal
ibadah kita dan mempertemukan kita dengan hari kemenangan dalam keadaan suci
dari dosa. Amin ya Rabbal Alamin.
Seiring bertambahnya
tanggung jawab, ia memilih jalan lain agar dakwah tetap berjalan, yakni melalui
tulisan. Masroliyan Nor saat ini menjabat Kepala MAN 3 Balangan. Di
tengah aktivitasnya sebagai pendidik, peran sebagai penceramah dan pendakwah
tetap ia jalani.
Di kalangan jemaah,
ia dikenal dengan sapaan 'Guru Masrul'. Namun, keterbatasan waktu
membuatnya tidak selalu bisa hadir di banyak undangan dakwah. “Setiap orang
punya cara dakwah masing-masing. Ada yang lisan, ada yang tulisan. Karena
kesibukan, saya memilih menulis, kecuali khotbah Jumat,” ujarnya.
Pilihan tersebut ia
jalani secara konsisten. Menulis menjadi caranya menjaga dakwah tetap berjalan.
Dari kebiasaan itu, sebagian tulisannya kemudian dihimpun dalam buku Menuai
Buah Kebaikan, yang ia niatkan sebagai amal jariah.
Kebiasaan menulis itu
telah ia jalani sejak 2010. Pada masa itu, Guru Masrul rutin mengirimkan
tulisan ke salah satu harian di Kalsel yang membuka rubrik kritik dan masukan
terhadap kebijakan pemerintah. Momen itu menjadi awal keterampilannya
menyampaikan gagasan secara tertulis. Hampir setiap bulan, tulisannya dimuat di
koran.
Kesadaran menulis
sebagai medium dakwah semakin kuat sejak 2018, ketika ia dimutasi dari MTs
Darul Istiqomah ke MAN 2 Balangan. Sejak saat itu, menulis tidak lagi sekadar
kebiasaan, tetapi diniatkan sebagai bagian dari aktivitas dakwah yang terus ia
jaga. “Saya niatkan menulis setiap hari, meski sekarang intensitasnya sudah
berkurang,” katanya.
Tulisan-tulisan Guru
Masrul tersebar di berbagai platform digital dan dapat dibaca oleh masyarakat
luas. Ia mengaku tidak mempermasalahkan jika tulisannya dikutip, disadur, atau
digunakan ulang oleh pihak lain. “Selama niatnya untuk kebaikan umat, saya ikhlaskan.
Bagi saya itu tetap ibadah,” ucapnya.
Dorongan berdakwah
melalui tulisan tidak terlepas dari pengalaman pendidikannya. Saat menempuh
studi di UIN Antasari, Guru Masrul mengikuti pendidikan kader dakwah praktis
yang dipimpin KH Ilham Masykuri Hamdi, akademisi yang juga pernah berkiprah
sebagai wartawan. Dari lingkungan tersebut, ia mendapatkan dorongan untuk
berdakwah secara kontekstual dan menuangkan gagasan melalui tulisan.
Tulisan-tulisan yang
kemudian dihimpun dalam Menuai Buah Kebaikan lahir dari aktivitas dakwah yang
ia jalani sehari-hari. Sebagian besar sebelumnya dipublikasikan di media sosial
dan platform digital, sebelum akhirnya dikumpulkan dan diseleksi agar tidak
berserakan.
Selain dorongan
pembaca, penerbitan buku tersebut juga berkaitan dengan kebutuhan akademis
sebagai guru, khususnya dalam pengembangan karier kepangkatan. Meski demikian,
ia menegaskan bahwa tujuan utama penulisan tetap pada kebermanfaatan dakwah.
Menurutnya, tulisan
memiliki daya jangkau yang berbeda dibandingkan ceramah lisan. Ceramah hanya
didengar jemaah di satu tempat, sementara tulisan dapat dibaca berulang kali.
“Kalau tulisan dibaca dan memberi manfaat, pahalanya terus mengalir,” tuturnya.
Guru Masrul memandang
tulisannya sebagai bagian dari upaya menghadirkan bacaan keislaman yang dekat
dengan keseharian masyarakat Banua. Tradisi keilmuan Islam di Kalimantan
Selatan juga dikenal melalui karya-karya ulama seperti Syekh Muhammad
Arsyad Al-Banjari dan Syekh Muhammad Nafis Al-Banjari dan ulama lain yang
meninggalkan kitab-kitab keagamaan.
Dalam konteks itulah,
tulisan-tulisan Guru Masrul dihadirkan sebagai penerus bacaan keislaman yang
diharapkan bisa memberi warna baru literasi Banua.
Nilai-nilai lokal Banua
dan pengalaman berdakwah di tengah masyarakat turut mewarnai isi tulisannya.
Sebagai pendidik dan penceramah, ia banyak menulis dari realitas yang ia temui
sehari-hari. “Sebagus apa pun tulisan, kalau tidak dibaca, dakwahnya tidak
sampai,” ujarnya.
Melalui tulisan, Guru
Masrul berupaya menjaga pesan-pesan keislaman tetap hadir dan dibaca, sebagai
bagian dari ikhtiar pribadi dalam menyemai kebaikan.
Berita asli bisa
dilihat di👇
Simak Videonya
di link👇
https://www.youtube.com/watch?v=x9M-cY8nSGU
Hadirin Jamaah Jumat Rahimakumullah
Dalam kesempatan yang mulia ini marilah kita senantiasa saling mengingatkan untuk selalu meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Swt, dengan senantiasa melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi segala apa yang dilarang-Nya.
Hadirin Jamaah Jumat Rahimakumullah
Bulan Ramadan adalah bulan yang penuh dengan keistimewaan, Rasulullah SAW membagi Ramadhan menjadi tiga fase. Fase pertama adalah sepuluh hari awal yang penuh rahmat, fase kedua adalah sepuluh hari pertengahan yang berisi ampunan, dan fase ketiga adalah sepuluh hari terakhir sebagai pembebasan dari api neraka. Pada hari ini kita telah memasuki hari ke-9 Ramadhan. Artinya tidak berapa lagi 10 hari pertama akan kita tinggalkan dan kita akan memasuki 10 hari kedua bulan Ramadhan.
Pada Masa pertengahan ini sering biasanya semangat beribadah mulai menurun dibandingkan pekan pertama. Padahal, pada fase inilah pintu ampunan Allah SWT dibuka selebar-lebarnya bagi hamba-Nya yang bersungguh-sungguh bertaubat.
Hadirin Jamaah Jumat Rahimakumullah
Untuk meraih predikat hamba yang diampuni, ada beberapa amalan yang sangat dianjurkan untuk diperkuat dan diperbanyak :
1. Memperbanyak Istighfar dan Taubat
Amalan utama di fase ini perbanyak
beristighfar. Memohon ampunan tidak hanya dilakukan setelah shalat, tetapi di
setiap waktu senggang. Taubat yang sungguh-sungguh (taubatan nasuha)
disertai janji untuk tidak mengulangi kemaksiatan akan mengantarkan kita pada
kesucian hati.
2. Menjaga Shalat Berjamaah dan Shalat
Sunnah
Jangan biarkan shaf di masjid mulai
maju atau berkurang. Menjaga shalat fardu berjamaah dan menambahnya dengan shalat
sunnah Rawatib, Dhuha, serta Tahajud akan mempererat
hubungan kita dengan Allah Swt.
3. Memperbanyak Sedekah
Ramadan adalah bulan kedermawanan.
Sedekah tidak hanya membantu sesama yang membutuhkan, tetapi juga berfungsi
sebagai penghapus dosa sebagaimana air memadamkan api.
4. Tadarus Al-Qur'an
Al-Qur'an diturunkan di bulan
Ramadan. Membaca, merenungi makna, dan mengamalkan isi Al-Qur'an adalah cahaya
bagi hati.
5. Berdoa dengan Doa Maghfirah
Salah satu doa yang sangat dianjurkan untuk dipanjatkan pada 10 hari kedua Ramadan adalah: “Allahummaghfirli dzunubi ya robbal 'alamin.” (Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku, wahai Tuhan semesta alam).
Hadirin Jamaah Jumat Rahimakumullah
Sepuluh hari kedua Ramadan adalah jembatan menuju sepuluh hari terakhir yang penuh kemuliaan (Lailatul Qadar). Tanpa ampunan di fase kedua, akan sulit bagi kita untuk meraih kemuliaan di fase penutup (akhir). Mari kita berlomba-lomba untuk meraih ampunan dari Allah Swt. Jangan sampai kesibukan-kesibukan pekerjaan dan lainnya melalaikan kita dari taubat kepada Allah Swt. Allah berfirman:
وَسَارِعُوٓاْ
إِلَىٰ مَغۡفِرَةٖ مِّن رَّبِّكُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ
أُعِدَّتۡ لِلۡمُتَّقِينَ ١٣٣
“Dan bersegeralah kamu kepada
ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang
disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (Qs.
‘Ali Imran : 133).
Mari kita jadikan setiap detik di
bulan ramdhan ini dan 10 hari kedua sebagai sarana untuk bersimpuh di hadapan
Allah, mengakui segala khilaf, dan memohon agar nama kita tercatat sebagai
golongan orang-orang yang beruntung yang mendapatkan ampunan-Nya. Semoga Allah
SWT menerima amal ibadah kita dan mempertemukan kita dengan hari kemenangan
dalam keadaan suci dari dosa. Amin ya Rabbal Alamin.
Pahala adalah bentuk ‘penghargaan’ yang diberikan Allah kepada kita karena melakukan suatu perbuatan yang memberi ‘manfaat’. Manfaat kepada siapa? Manfaat kepada diri kita sendiri, keluarga, orang banyak, Binatang, tumbuhan dan makhluk lainnya di muka bumi ini. Sedangkan dosa adalah bentuk ‘hukuman’ yang diberikan kepada kita karena kita melakukan sesuatu perbuatan yang membawa ‘mudharat’ (tidak baik/merugikan) pada diri sendiri maupun kepada makhluk ciptaan-Nya secara kolektif.
Pahala dan dosa ini sepenuhnya terkait manfaat dan mudharat bagi seseorang yang melakukan perbuatan sesuatu. Manfaat dan mudaharat itu bukan untuk Allah, akan tetapi untuk makhluk-Nya. Oleh karena itu, setiap perintah Allah dan Rasul-Nya kemudian dikerjakan dengan sungguh-sungguh dan ikhlas, maka ujung-ujungnya pasti dia akan mendapatkan manfaat yang luar biasa dari perbuatannya itu. Begitu juga sebaliknya, setiap larangan dari Allah dan Rasul-Nya kemudian dikerjakan, tentunya akan mendapatkan mudharat (kerugian) yang besar bagi dirinya, orang lain dan makhluk lainnya. Contohnya perbuatan judi. Apabila kita berjudi, maka kita akan berdosa. Judi itu membawa mudharat bagi dirinya sendiri, keluarga, masyarakat dan sistem perekonomian sebuah negara. Tidak ada orang yang kaya karena menang judi. Justru sebaliknya, yang kaya bisa menjadi miskin, dan yang miskin bisa menjadi lebih miskin lagi (melarat). Begitu juga dengan perbuatan zina. Kalau kita berzina, akan mendapat mudharat dari perbuatan itu. Zina itu dapat merusak tatanan moral di masyarakat, menebarkan penyakit fisik dan kejiwaan yang sulit diobati serta mewariskan keturunan dan generasi yang berantakan. Begitu juga dengan minuman keras, perampokan dan pencurian, pembunuhan, korupsi, penipuan, dan lain sebagainya yang dilarang Allah itu, ujung-ujungnya pasti akan membawa mudharat (kerugian/kerusakan) bagi diri kita dan tatanan kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Puasa merupakan salah satu aktivitas ibadah yang
sangat dianjurkan. Di dalam puasa terdapat manfaat yang luar biasa bagi yang
mengerjakannya. Tidak saja bermanfaat bagi tubuh, tapi juga bagi kejiwaannya. Orang
yang berpuasa tubuhnya akan menjadi sehat (secara jasmani, Rohani dan
spiritual). Jiwanya menjadi damai, tenteram dan bahagia. Emosinya stabil dan akan
terkontrol dengan baik. Dia akan menjadi orang yang sabar dan ikhlas. Tidak pemarah.
Tidak berbohong. Jujur dan suka menolong orang lain. Sering sedekah. Inilah dampat
positif dari orang yang berpuasa. Disinilah nilai pahala yang diterima oleh
orang berpuasa itu. Manfaat yang didapatkannya itu tentunya akan dia terima
sendiri. Selain itu, manfaat itu juga diterima oleh orang lain. Selain tubuhnya
sehat, jiwanya tenang, orang lain pun akan suka dan senang dengan
keberadaannya. Inilah makna dari berpuasa itu mengharapkan pahala dari Allah
Swt. Yakni, mendapatkan manfaat yang banyak bagi dirinya sendiri dan orang
lain. Untuk itu, Nabi Saw menyatakan bahwa orang yang berpuasa dengan iman,
mengharap pahala (manfaat) nya, maka akan diampuni oleh Allah Swt dosa-dosa
(mudharat) nya baik yang dulu maupun yang sekarang. Semoga! Wallahu a’lam…
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا
تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ. (صحيح البخاري ٣٧, صحيح مسلم ١٢٦٨, سنن أبي داوود ١١٦٥,
سنن الترمذي ٧٣٦, سنن النسائي ١٥٨٤)
Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah Saw bersabda: “Barangsiapa yang berpuasa karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Shahih Bukhari 37, Shahih Muslim 1268, Sunan Abu Daud 1165, Sunan Tirmidzi 736, Sunan Nasa'i 1584).
#Menyebarluaskan Kebaikan#
Tulisan ini bukan untuk menjelaskan secara fiqih, apakah sah atau tidaknya seseorang berpuasa ketika dia tidak mengerjakan shalat. Sebab, puasa dan shalat itu merupakan bagian dari rukun Islam. Mungkin kalau kita teruskan bisa saja orang berpuasa tapi tidak berzakat. Atau sebaliknya, dia berzakat tapi tidak berpuasa. Bisa juga, tidak shalat, tidak puasa, tidak berzakat tapi statusnya sudah berhaji. Atau, tidak semuanya, tidak shalat, puasa, zakat, haji padahal dia seorang muslim. Sebab, syarat seseorang dikatakan muslim ketika dia sudah mengucapkan syahadat. Atau secara turun-temurun. Datuk kakeknya muslim, maka dia juga berstatus sebagai orang islam. Walaupun secara ibadah, tidak pernah ikut melaksanakan ibadah, seperti shalat fardhu, puasa, zakat, shalat jumat dan lainnya bahkan cenderung melaksanakan keburukan seperti mabuk-mabukan, zina, mencuri, merampok, penipu, dan lain sebagainya. Hal ini bisa dilihat disekitar kita. Biasanya ada saja di suatu daerah orang-orang seperti itu, padahal sebagiannya adalah orang yang memiliki pengetahuan. Tetapi mereka tidak mau mengerjakan syari’at agama.
Dalam Islam, setiap perintah dari Allah Swt itu wajib dilaksanakan sesuai dengan kemampuan masing-masing. Semua yang ada di dalam rukun Islam itu merupakan perintah Allah dan Rasul-Nya (Nabi Muhammad Saw). Mulai dari syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji itu jelas dalilnya, baik dalam al qur’an maupun hadits Nabi Saw. Banyak ayat al qur’an yang memerintahkan untuk mendirikan shalat, melaksanakan puasa, menunaikan zakat dan melaksanakan haji dan umrah bagi orang islam yang mampu. Artinya, pelaksanaan ibadah yang diperintahkan Allah Swt tidak boleh dikerjakan secara parsial. Misalnya, shalat saja dikerjakan, puasa, zakat, haji tidak usah. Atau haji saja yang dilaksanakan karena dia punya harta yang banyak, tapi tidak pernah shalat, puasa dan berzakat. Mengerjakan ibadah itu tidak boleh pilih-pilih. Semuanya harus bisa dikerjakan secara berbarengan atau paralel. Orang berpuasa, maka dia juga mengerjakan shalat dan berzakat. Dan aktivitas ibadah lainnya.
Tidak hanya terkait dengan rukun islam yang 5 itu saja. Semua perintah Allah dan Rasulnya harus dilaksanakan. Baik itu ibadah Mahdhah ataupun Ghairu Mahdhah. Ibadah Mahdhah adalah ibadah murni yang ditentukan tata cara, waktu dan tempatnya. Ibadah ini merupakan hubungan vertikal (langsung) antara Allah dan hamba-Nya. Contohnya, shalat puasa, zakat, haji dan sebagainya. sedangkan ibadah Ghairu Mahdhah merupakan pekerjaan sehari-hari yang bernilai ibadah apabila diniatkan betul-betul karena Allah, tidak terikat oleh aturan tata cara yang baku dan lebih bersifat horizontal (sosial). Seperti belajar, guru, dosen, pedagang, petani, ASN, TNI-Polri, dan lain sebagainya.
Sebagai seorang muslim, kita dituntut untuk
melaksanakan Amal Shaleh (Kebaikan). Keshalehan itu bukan hanya bersifat
pribadi akan tetapi juga keshalehan secara sosial. Orang yang rajin shalat dan
puasa juga harus banyak bersedekah untuk fakir miskin. Menolong orang yang
kesusahan, kerja bakti di kampung atau tempat tinggal, menengok dan membatu
tetangga atau teman yang sakit, ikut shalat jenazah, gotong royong, membantu
pernikahan, aqiqahan, kenduri dan lain sebagainya. Setiap keshalehan individu
yang dilakukan harus berimbas kepada keshalehan sosial. Jangan hanya
mementingkan keshalehan pribadi (shalat, puasa, zakat, haji, baca al qur’an
dll) sementara keshalehahn sosial diabaikan. Allah Swt menyatakan bahwa
keshalehan individu dan keshalehan sosial itu merupakan kabajikan yang harus
dilaksanakan. Sebab, ketika keduanya dilaksanakan secara beriringan, maka dia
akan memperoleh kebaikan dan mendapat derajat takwa disisi Allah Swt.
۞لَّيۡسَ ٱلۡبِرَّ أَن تُوَلُّواْ
وُجُوهَكُمۡ قِبَلَ ٱلۡمَشۡرِقِ وَٱلۡمَغۡرِبِ وَلَٰكِنَّ ٱلۡبِرَّ مَنۡ ءَامَنَ
بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ وَٱلۡكِتَٰبِ وَٱلنَّبِيِّۧنَ
وَءَاتَى ٱلۡمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ ذَوِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ
وَٱلۡمَسَٰكِينَ وَٱبۡنَ ٱلسَّبِيلِ وَٱلسَّآئِلِينَ وَفِي ٱلرِّقَابِ وَأَقَامَ
ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَى ٱلزَّكَوٰةَ وَٱلۡمُوفُونَ بِعَهۡدِهِمۡ إِذَا عَٰهَدُواْۖ
وَٱلصَّٰبِرِينَ فِي ٱلۡبَأۡسَآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَحِينَ ٱلۡبَأۡسِۗ
أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُتَّقُونَ ١٧٧
“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (Qs. Al Baqarah, 2:177).
Disinilah letak takwa itu. Sebab, arti takwa itu kan
menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Perintah dan
larangan Allah itu banyak sekali. Mungkin diantara kita ada yang tidak
mengetahui perintah dan larangannya itu, sehingga terkadang tidak menyadarinya
bahwa yang dilakukannya itu merupakan perintah Allah, atau dia tidak menyadari
bahwa yang dikerjakannya itu sebenarnya dilarang oleh Allah. Untuk itu
hendaklah kita senantiasa menjalankan ketaatan kepada Allah Swt. Tetap sabar
dalam menjalankan setiap perintah Allah Swt. Khusyuk dalam menjalankan setiap
ibadah. Perbanyak sedekah. Laksanakan perintah puasa, baik yang wajib maupun
sunnah. Jaga kehormatan diri. Senantiasa berzikir (mengingat) Allah Swt dalam
setiap kesempatan. Maka, Allah Swt akan memeberikan ampunan dan pahala yang
besar. Semoga! Wallahu a’lam…
إِنَّ
ٱلۡمُسۡلِمِينَ وَٱلۡمُسۡلِمَٰتِ وَٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ
وَٱلۡقَٰنِتِينَ وَٱلۡقَٰنِتَٰتِ وَٱلصَّٰدِقِينَ وَٱلصَّٰدِقَٰتِ وَٱلصَّٰبِرِينَ
وَٱلصَّٰبِرَٰتِ وَٱلۡخَٰشِعِينَ وَٱلۡخَٰشِعَٰتِ وَٱلۡمُتَصَدِّقِينَ
وَٱلۡمُتَصَدِّقَٰتِ وَٱلصَّٰٓئِمِينَ وَٱلصَّٰٓئِمَٰتِ وَٱلۡحَٰفِظِينَ
فُرُوجَهُمۡ وَٱلۡحَٰفِظَٰتِ وَٱلذَّٰكِرِينَ ٱللَّهَ كَثِيرٗا وَٱلذَّٰكِرَٰتِ
أَعَدَّ ٱللَّهُ لَهُم مَّغۡفِرَةٗ وَأَجۡرًا عَظِيمٗا ٣٥
“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu', laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Qs. Al Ahzab, 33:35).
#Menyebarluaskan Kebaikan#
Akibat perut menahan lapar dan haus selama kurang lebih 12 jam, bagi yang tidak terbiasa berpuasa akan merasa lelah, malas, loyo dan mengantuk. Hal itu lumrah terjadi pada siapa saja. Sebab, perut yang lapar dan haus bawaannya itu mau istirahat dan tidur saja. Terkadang semangat kerja pun jadi menurun. Tubuh yang asalnya kuat mengangkat beban yang berat menjadi lemah. Jam kerja di pemerintah juga dikurangi yang biasanya 8,5 jam perhari kecuali hari jumat menjadi 7 jam perharinya (lima hari kerja). Sekolah/madrasah ada yang diliburkan. Walaupun masuk, jamnya juga dikurangi. Anak-anak sekolah dianjurkan untuk belajar materi keagamaan saja. Sehingga guru yang tidak memiliki latar belakang ilmu agama hampir tidak bisa menyesuaikan dengan materi yang diajarkan saat bulan Ramadhan.
Padahal, berpuasa pada bulan Ramadhan itu harusnya semangat. Berpuasa bukan malah bermalas-malasan. Semangat kerja tidak boleh kendur. Walaupun perut dalam keadaan kosong di siang hari. Tenggorokan kering karena menahan haus. Berpuasa harus tetap semangat. Jangan hanya tidur. Justru kebanyakan tidur akan membuat badan dan jiwa tidak sehat. Tubuh menjadi sakit-sakitan. Otak menjadi lemah, sehingga daya pikir menjadi berkurang. Inilah yang menyebabkan semangat kerja menjadi turun. Semangat itu muncul dari jiwa yang bersih. Dalam jiwa tertanam niat yang tulus untuk senantiasa beribadah kepada Allah Swt. Bekerja (apapun pekerjaannya) merupakan ibadah. Petani turun ke sawah seperti biasa untuk menggarap sawahnya agar menghasilkan panen padi yang melimpah. Pedagang melakukan aktivitas dagangnya seperti biasa dengan jujur, ramah dan Amanah, agar harta yang didapatnya menjadi berkah. Buruh juga bekerja seperti biasa. Mengangkat beban yang berat tidak masalah, niatkan untuk anak isteri tercinta di rumah. Sehingga semangat kerja akan tumbuh dengan baik. Para ASN (Bisa juga guru) bekerja dengan semangat. Niatkan untuk berbuat kebaikan bagi bangsa dan negara. Niatkan untuk memberi ilmu pengetahuan, dan pekerjaannya lainnya hendaklah untuk kebaikan baik diri sendiri, keluarga, masayarakat, bangsa dan negara. Walaupun dalam keadaan berpuasa, maka semangat akan tumbuh dengan sendirinya. Dia bekerja tanpa kenal lelah. Semangat, dan terus semangat, karena dia yakin bahwa kerja yang dilakukan dengan niat karena Allah, maka akan menghasilkan sesuatu yang baik dan berkah.
Nah, Bagaimana menumbuhkan semangat dalam berpuasa? Intinya ada pada diri masing-masing. Tergantung niat dan pemahamannya terhadap puasa. Apa tujuan berpuasanya, apakah hanya menjalankan kewajiban agama semata? Atau, ikut-ikutan saja? Atau ingin disebut-sebut sebagai orang yang berpuasa? Atau malu dengan keluarga, tetangga, teman, masyarakat dan lainnya? Atau untuk mengharap ampunan dan pahala yang besar dari Allah Swt?.
Berpuasa itu bukan karena terpaksa. Bukan karena ikut-ikutan dan rasa malu terhadap orang lain. Berpuasa juga bukan hanya melaksanakan kewajiban agama. Ketika sudah bisa menahan lapar dan haus, maka berhasil sudah puasanya. Puasa itu merupakan kebutuhan bagi setiap umat Islam. Orang yang berpuasa dengan baik dan benar, sesuai dengan panduan dari Nabi Saw. Maka puasanya akan bermanfaat bagi dirinya. Tubuhnya akan sehat, jiwanya akan tenang, tentram dan damai. Serta mendapat derajat takwa disisi Allah Swt. Untuk itu, puasa itu merupakan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi oleh semua Muslim. Puasa yang dikerjakan itu harus benar-benar dilaksanakan dengan sebaik mungkin. Agar manfaat puasa itu bisa diraih oleh semua orang Islam. Puasa bukannya hanya menjalankan kewajiban belaka. Ketika sudah mampu menahan lapar, haus dan hubungan seksual pada siang hari, maka berhasillah puasanya. Tentunya tidak hanya seperti itu. Puasa Ramadan merupakan pendidikan dan pelatihan pengendalian diri dari perbuatan-perbuatan yang tercela. Lisan, pendengaran, penglihatan dan hatinya terjaga dari sifat-sifat buruk. Hal ini akan terus terbawa setelah selesai bulan Ramadan. Sehingga membentuk kepribadian yang baik dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan memahami makna dan manfaat puasa itu, maka tentunya kita harus
semangat untuk meraihnya. Tidak ada istilah bermalas-malasan. Jangan banyak
tidur. Bekerja lebih giat lagi. Lebih ikhlas dan disiplin. Perbanyak membaca
al-qur’an dan mentadabburinya (memahami isi kandungannya). Perbanyak shalat
sunnah, sedekah, i’tikaf, shalat fardhu berjamaah. Apabila kita mampu
melaksanakan puasa dengan sungguh-sungguh, maka Allah Swt akan memberikan
ampunan dan pahala yang besar. Semoga! Wallahu a’lam…
إِنَّ ٱلۡمُسۡلِمِينَ وَٱلۡمُسۡلِمَٰتِ وَٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ
وَٱلۡقَٰنِتِينَ وَٱلۡقَٰنِتَٰتِ وَٱلصَّٰدِقِينَ وَٱلصَّٰدِقَٰتِ وَٱلصَّٰبِرِينَ
وَٱلصَّٰبِرَٰتِ وَٱلۡخَٰشِعِينَ وَٱلۡخَٰشِعَٰتِ وَٱلۡمُتَصَدِّقِينَ
وَٱلۡمُتَصَدِّقَٰتِ وَٱلصَّٰٓئِمِينَ وَٱلصَّٰٓئِمَٰتِ وَٱلۡحَٰفِظِينَ
فُرُوجَهُمۡ وَٱلۡحَٰفِظَٰتِ وَٱلذَّٰكِرِينَ ٱللَّهَ كَثِيرٗا وَٱلذَّٰكِرَٰتِ
أَعَدَّ ٱللَّهُ لَهُم مَّغۡفِرَةٗ وَأَجۡرًا عَظِيمٗا ٣٥
“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu', laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Qs. Al Ahzab, 33:35).
#Menyebarluaskan
Kebaikan#
إِذَا دَخَلَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ وَسُلْسِلَتْ الشَّيَاطِينُ. (صحيح البخاري ٣٠٣٥, صحيح مسلم ١٧٩٣, سنن النسائي ٢٠٧٢, مسند أحمد ٧٤٥٠, سنن الدارمي ١٧١٠, موطأ مالك ٦٠٤)
“Apabila datang bulan
Ramadlan pintu-pintu surga dibuka sedang pintu-pintu neraka ditutup dan
syaitan-syaitan dibelenggu.” (Shahih Bukhari 3035, Shahih Muslim 1793, Sunan
Nasa'i 2072, Musnad Ahmad 7450, Sunan Addarimi
1710, Muwatha Malik 604).
Dalam hadits di atas
disebutkan bahwa pintu-pintu surga di buka, pintu-pintu neraka ditutup dan
setan dibelenggu. Ini menandakan bahwa pada bulan Ramadhan diberikan keberkahan
yang luar biasa. Sebab, pintu surga dibuka dan pintu neraka ditutup. Hal ini
tidak berlaku pada bulan-bulan lainnya selama se tahun. Bulan Ramadhan
merupakan bulan yang istemewa yang harus dimanfaatkan sebaik mungkin agar bisa
menggapai keberkahan bulan itu.
Bulan Ramadhan dimanfaatkan
umat islam untuk memperbanyak ibadah sunnah. Seperti tadarus al-qur’an, shalat
tarawih dan tahajud, shalat dhuha, sedekah, dzikir, i’tikaf, dan lain-lain. Sehingga
masjid dan mushalla tidak sepi setiap hari dan malamnya. Umat islam
berlomba-lomba berbuat kebaikan, sehingga jarang sekali kita mendengar ada
kejahatan di bulan Ramadhan. Hal ini sesuai dengan hadits Nabi di atas, yang
menyatakan pintu surga di buka dan pintu neraka di tutup serta setan-setan
dibelenggu. Banyaknya kebaikan yang dilakukan sehingga hampir menghilangkan
kejahatan yang dilakukan saat berpuasa. Apalagi setan-setan selama Ramadhan
dibelenggu, sehingga godaan-godaan setan mungkin saja berkurang atau bahkan
tidak ada sama sekali. Dengan dibelenggunya setan, seharusnya kejahatan tidak
ada lagi atau paling tidak berkurang. Karena, pada bulan Ramadhan mereka
dibelenggu atau dikurung. Artnya, selama Ramadhan setan tidak bisa lagi
menggoda manusia untuk berbuat jahat. Seharusnya seperti itu. Akan tetapi,
kalau kita lihat faktanya, masih banyak kejahatan dan kemaksiatan yang terjadi
pada bulan Ramadhan. Seperti mabuk-mabukan, zina, penipuan, pencurian,
perampokan, perkelahian, pembunuhan dan lain-lain. Ada yang pesta minuman
keras, mengonsumsi narkoba, selingkuh yang berujung kepada zina. Klub malam
masih banyak yang buka, prostitusi juga masih marak, dan sebagainya. Apakah ada
yang salah dengan hadis itu???.
Sebenarnya tidak ada yang
salah dari hadits itu. Haditsnya shahih dan tidak diragukan lagi. Yang salah
bukan haditsnya, akan tetapi pemahaman kita terhadap hadis itu yang kurang pas.
Kebanyakan orang memahami hadis itu secara tekstual. Menganggap pintu surga
benar-benar terbuka, pintu neraka benar-benar ditutup dan setan di pasung.
Sehingga tidak bisa lagi menggoda manusia. Dari pemahaman secara teks ini maka
berkembang pemahaman bahwa kejahatan dan maksiat tidak ada lagi. Kemudian ada
yang menambahkan, walaupun setan telah dipasung akan tetapi manusia memiliki
hawa nafsu sehingga kejahatan dan maksiat tetap ada pada bulan Ramadhan.
Semua manusia memiliki hawa
nafsu. Inilah yang membuat manusia bisa berbuat jahat dan maksiat. Hawa nafsu
mendorong manusia untuk berbuat yang berlebih-lebihan. Manusia memiliki
kesenangan dan kenikmatan dalam hidupnya. Semua manusia menginginkannya dalam
kehidupan ini. Kenikmatan dan kesenangan itu akan menimbulkan rasa nyaman dan
Bahagia. Hawa nafsu selalu mendorong agar selalu mendapatkan kenikmatan dan
kesenangan itu. Hal inilah yang membuat seseorang tidak puas ketika mendapatkan
sesuatu. Dan mendorongnya berbuat apapun untuk mendapatkan kesenangan dan kenikmatan
itu. Walaupun dengan jalan yang dilarang oleh agama. Ia tidak peduli walaupun
melanggar atau menabrak aturan agama, yang penting ia senang dan nyaman. Orang seperti
inilah yang menuruti dorongan hawa nafsunya. Orang yang mengikuti Hawa nafsunya
akan menyebabkan dia tersesat dari jalan Allah Swt. Yakni jalan kebaikan. Allah
Swt berfirman :
يَٰدَاوُۥدُ
إِنَّا جَعَلۡنَٰكَ خَلِيفَةٗ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَٱحۡكُم بَيۡنَ ٱلنَّاسِ بِٱلۡحَقِّ
وَلَا تَتَّبِعِ ٱلۡهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ
يَضِلُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ لَهُمۡ عَذَابٞ شَدِيدُۢ بِمَا نَسُواْ يَوۡمَ
ٱلۡحِسَابِ ٢٦
“Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.” (Qs. Shaad/38 : 26).
Untuk itulah, berpuasa
itu untuk mengendalikan diri dari dorongan-dorongan perilaku yang tidak baik
(Hawa Nafsu). Berpuasa itu bukan hanya menahan lapar dan dahaga. Tapi, dibalik menahan
lapar dan dahaga itu ada kendali untuk menahan dorongan godaan hawa nafsu. Ketika
lapar dan dahaga, orang cenderung bisa bersikap sabar dari keinginan yang
berlebih-lebihan. Jiwanya tercerahkan oleh puasanya. Sehingga dia bisa
mengendalikan keinginan-keinginan yang mendorongnya melakukan perbuatan yang
tidak baik. Dorongan untuk mencuri, berzina, menipu, berdusta, mabuk-mabukan, berkelahi,
apalagi mau melakukan kejahatan yang lebih besar seperti merampok dan membunuh.
Kesenangan dan kenikmatan sesaat yang diterimanya tidak menyebabkan dia lalai dari
mengingat Allah Swt. Karena dia sadar, bahwa orang yang takut akan kebesaran
Allah dan mampu menahan diri dari dorongan hawa nafsunya, maka surgalah sebagai
balasannya kelak. Wallahu a’lam…
وَأَمَّا
مَنۡ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ وَنَهَى ٱلنَّفۡسَ عَنِ ٱلۡهَوَىٰ ٤٠ فَإِنَّ
ٱلۡجَنَّةَ هِيَ ٱلۡمَأۡوَىٰ ٤١
“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (Qs. An Naazi´at/79: 40-41).
Akan tetapi, puasa itu tidak hanya sekedar menahan
lapar, haus dan senggama saja. Berpuasa itu melatih mengendalikan diri (jiwa)
dari sifat-sifat yang tidak baik (Akhlak Madzmumah). Sehingga muncul
dari dirinya sifat-sifat yang baik (Akhlak Mahmudah).
Ketika berpuasa hanya dirinya saja yang mengetahui.
Orang lain disekitarnya bisa tidak mengetahuinya. Ketika dia tidak makan, tidak
minum orang lain tidak tahu. Bahkan ketika dia makan atau minum sedikit aja
tidak ada yang tahu. Hanya dirinya saja yang mengetahuinya. Makan dan minum
walaupun sedikit akan membatalkan puasa. Ketika perbuatan itu dilakukan secara
sembunyi-sembunyi pun akan batal puasanya. Disinilah dituntut sebuah kejujuran
dalam melaksanakan ibadah puasa.
Kita harus benar-benar melaksanakan ibadah puasa
dengan sebaik-baiknya. Laksanakan puasa dengan jujur. Benar-benar menahan lapar
dan haus dari terbit fajar sampai tenggelam matahari. Tidak hanya itu, jujur
dalam berpuasa juga tercermin dari sifat pribadinya.
Pada era sekarang, kemajuan teknologi sungguh luar
biasa. Dengan adanya Handphone (HP) yang terkoneksi ke internit, maka pengguna
HP bisa melihat, menonton dan membaca berita atau video apa saja. Media sosial
seperti Instagram, Tiktok, Youtube, Facebook, WathsApp dan lainnya sudah
menjadi kebutuhan para pengguna HP. Setiap saat mereka membuka media sosial,
membaca berita apa saja, melihat dan menonton video apa saja. Sehingga, tidak
jarang berita atau video yang ditonton itu berbau pornografi. Kita tidak bisa
memfilter tontonan yang ada di media sosial. Awalnya tidak ada keinginan
menonton video-video yang tidak baik, akan tetapi ketika kita membuka media
sosial, maka konten-konten pornografi bisa muncul. Konten-konten pornografi ada
yang vulgar ada juga yang tidak. Hanya menampilkan lekak-lekuk tubuh atau aurat
wanita. Ketika kita melihat dengan sungguh-sungguh adegan yang ada di video
itu, maka puasa kita akan berkurang pahalanya. bahkan ada yang mengatakan
batal, walaupun secara fiqih yang membatalkan puasa itu Adalah makan dan minum
atau ada sesuatu yang masuk ke dalam peruts secara sengaja. Akan tetapi, secara
hakiki dia sudah merusak kesucian puasanya. Di mana puasa itu menjaga seluruh
panca Inderanya dari hal-hal yang bisa merusak nilai puasanya.
Oleh sebab itu, Rasululullah Saw menyatakan bahwa
banyak di kalangan umat islam yang berpuasa akan tetapi tidak mendapatkan
pahala puasa. Yang mereka dapatkan hanya lapar dan dahaga saja.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ, قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ
صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ. (مسند أحمد ٨٥٠١, سنن ابن ماجه ١٦٨٠)
Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah Saw
bersabda: "Berapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan bagian dari
puasanya melainkan lapar dan dahaga”. (Musnad Ahmad 8051, Sunan Ibnu Majah
1680).
Oleh sebab, setiap bulan Ramadhan hendaknya melatih
diri untuk berbuat jujur. Jujur pada diri sendiri maupun orang lain. Jujur dalam
perbuatan maupun dalam setiap pekerjaan. Jujur merupakan salah satu dari sifat terpuji.
Jujur merupakan akhlak yang diajarkan Rasulullah Saw. Sifat jujur harus melekat
dalam diri masing-masing. Dan harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Tidak hanya puasa saja, sikap jujur itu harus diterapkan disetiap lini
kehidupan. Jujur disini bukan hanya tidak makan dan minum saja. Akan tetapi
jujur dengan pandangan kita, pendengaran, tutur kata yang baik, dan aktivitas
ibadah selama bulan Ramadhan. Dengan sikap jujur ada tertanam dalam diri kita,
maka kita akan bisa menjaga kesucian puasa dari awal sampai akhir. Kita akan
ikhlas menjalani ibadah puasa. Panca Indera kita terjaga, ibadah akan menjadi
lebih khusyuk.
Rasululullah Saw menyatakan bahwa kejujuran akan
membimbing pada kebaikan. Dan kebaikan itu akan membimbing kepada surganya
Allah. Begitu juga sebaliknya, kedustaan itu akan mengantarkan pada kejahatan,
dan sesungguhnya kejahatan itu akan menggiring ke neraka. Oleh sebab itu,
marilah kita selalu bersikap jujur dalam hidup ini. Tidak hanya saat berpuasa
pada bulan Ramadhan. Akan tetapi terus berlanjut di bulan-bulan setelahnya.
Dalam aktivitas apapun, jujur harus tetap dilaksanakan. Ketika kita sudah
terlatih berbuat jujur, maka kita akan terbiasa nantinya. Dengan begitu, kita
akan terbimbing untuk senantiassa berbuat kebaikan. Dan, mudah-mudahan kebaikan
yang kita kerjakan membimbing kita menuju surganya Allah Swt. Aminn!!! Wallahu
a’lam…
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ
الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ
وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يَكُونَ صِدِّيقًا وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي
إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ
لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا. )صحيح البخاري ٥٦٢٩, صحيح مسلم ٤٧١٩, سنن الترمذي ١٨٩٤, مسند أحمد
٣٤٥٦(
Dari Abdullah ra dari Nabi Saw beliau bersabda: "Sesungguhnya
kejujuran akan membimbing pada kebaikan, dan kebaikan itu akan membimbing ke
surga, sesungguhnya jika seseorang yang senantiasa berlaku jujur hingga ia
akan dicatat sebagai orang yang jujur. Dan sesungguhnya kedustaan itu akan
mengantarkan pada kejahatan, dan sesungguhnya kejahatan itu akan
menggiring ke neraka. Dan sesungguhnya jika seseorang yang selalu berdusta
sehingga akan dicatat baginya sebagai seorang pendusta." (Shahih
Bukhari 5629, Shahih Muslim 4719, Sunan Tirmidzi 1894, Musnad Ahmad 3456).
#Menyebarluaskan Kebaikan”