Seiring bertambahnya
tanggung jawab, ia memilih jalan lain agar dakwah tetap berjalan, yakni melalui
tulisan. Masroliyan Nor saat ini menjabat Kepala MAN 3 Balangan. Di
tengah aktivitasnya sebagai pendidik, peran sebagai penceramah dan pendakwah
tetap ia jalani.
Di kalangan jemaah,
ia dikenal dengan sapaan 'Guru Masrul'. Namun, keterbatasan waktu
membuatnya tidak selalu bisa hadir di banyak undangan dakwah. “Setiap orang
punya cara dakwah masing-masing. Ada yang lisan, ada yang tulisan. Karena
kesibukan, saya memilih menulis, kecuali khotbah Jumat,” ujarnya.
Pilihan tersebut ia
jalani secara konsisten. Menulis menjadi caranya menjaga dakwah tetap berjalan.
Dari kebiasaan itu, sebagian tulisannya kemudian dihimpun dalam buku Menuai
Buah Kebaikan, yang ia niatkan sebagai amal jariah.
Kebiasaan menulis itu
telah ia jalani sejak 2010. Pada masa itu, Guru Masrul rutin mengirimkan
tulisan ke salah satu harian di Kalsel yang membuka rubrik kritik dan masukan
terhadap kebijakan pemerintah. Momen itu menjadi awal keterampilannya
menyampaikan gagasan secara tertulis. Hampir setiap bulan, tulisannya dimuat di
koran.
Kesadaran menulis
sebagai medium dakwah semakin kuat sejak 2018, ketika ia dimutasi dari MTs
Darul Istiqomah ke MAN 2 Balangan. Sejak saat itu, menulis tidak lagi sekadar
kebiasaan, tetapi diniatkan sebagai bagian dari aktivitas dakwah yang terus ia
jaga. “Saya niatkan menulis setiap hari, meski sekarang intensitasnya sudah
berkurang,” katanya.
Tulisan-tulisan Guru
Masrul tersebar di berbagai platform digital dan dapat dibaca oleh masyarakat
luas. Ia mengaku tidak mempermasalahkan jika tulisannya dikutip, disadur, atau
digunakan ulang oleh pihak lain. “Selama niatnya untuk kebaikan umat, saya ikhlaskan.
Bagi saya itu tetap ibadah,” ucapnya.
Dorongan berdakwah
melalui tulisan tidak terlepas dari pengalaman pendidikannya. Saat menempuh
studi di UIN Antasari, Guru Masrul mengikuti pendidikan kader dakwah praktis
yang dipimpin KH Ilham Masykuri Hamdi, akademisi yang juga pernah berkiprah
sebagai wartawan. Dari lingkungan tersebut, ia mendapatkan dorongan untuk
berdakwah secara kontekstual dan menuangkan gagasan melalui tulisan.
Tulisan-tulisan yang
kemudian dihimpun dalam Menuai Buah Kebaikan lahir dari aktivitas dakwah yang
ia jalani sehari-hari. Sebagian besar sebelumnya dipublikasikan di media sosial
dan platform digital, sebelum akhirnya dikumpulkan dan diseleksi agar tidak
berserakan.
Selain dorongan
pembaca, penerbitan buku tersebut juga berkaitan dengan kebutuhan akademis
sebagai guru, khususnya dalam pengembangan karier kepangkatan. Meski demikian,
ia menegaskan bahwa tujuan utama penulisan tetap pada kebermanfaatan dakwah.
Menurutnya, tulisan
memiliki daya jangkau yang berbeda dibandingkan ceramah lisan. Ceramah hanya
didengar jemaah di satu tempat, sementara tulisan dapat dibaca berulang kali.
“Kalau tulisan dibaca dan memberi manfaat, pahalanya terus mengalir,” tuturnya.
Guru Masrul memandang
tulisannya sebagai bagian dari upaya menghadirkan bacaan keislaman yang dekat
dengan keseharian masyarakat Banua. Tradisi keilmuan Islam di Kalimantan
Selatan juga dikenal melalui karya-karya ulama seperti Syekh Muhammad
Arsyad Al-Banjari dan Syekh Muhammad Nafis Al-Banjari dan ulama lain yang
meninggalkan kitab-kitab keagamaan.
Dalam konteks itulah,
tulisan-tulisan Guru Masrul dihadirkan sebagai penerus bacaan keislaman yang
diharapkan bisa memberi warna baru literasi Banua.
Nilai-nilai lokal Banua
dan pengalaman berdakwah di tengah masyarakat turut mewarnai isi tulisannya.
Sebagai pendidik dan penceramah, ia banyak menulis dari realitas yang ia temui
sehari-hari. “Sebagus apa pun tulisan, kalau tidak dibaca, dakwahnya tidak
sampai,” ujarnya.
Melalui tulisan, Guru
Masrul berupaya menjaga pesan-pesan keislaman tetap hadir dan dibaca, sebagai
bagian dari ikhtiar pribadi dalam menyemai kebaikan.
Berita asli bisa
dilihat di👇
Simak Videonya
di link👇
https://www.youtube.com/watch?v=x9M-cY8nSGU

Tidak ada komentar:
Posting Komentar