Web ini Kumpulan tulisan kajian keagamaan yang menarik berdasarkan Al Qur’an dan Hadits Nabi Saw. Selain tulisan, Web juga berisi berita menarik seputar Madrasah, Video Tiktok dan Youtube yang baik untuk ditonton. Ikuti terus kajiannya, jangan sampai terlewatkan. Baca semua tulisannya. Semoga mendapatkan kebaikan. Amin
Hadirin Jamaah Jumah yang dirahmati Allah,
Dalam kesempatan ini, marilah kita sama-sama mempertahankan sekaligus meningkatkan ketakwaan kepada Allah swt. Sebab, takwa merupakan bekal terbaik kita menghadapi kehidupan akhirat kelak, di samping sebagai perisai diri kita dalam rangka menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
Hadirin
Jamaah Jumah yang dirahmati Allah,
Allah
Swt berfirman dalam Al-Quran yang merupakan petikan dari doa Nabi Ibrahim.
وَلا تُخْزِنِي يَوْمَ يُبْعَثُونَ ، يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا
بَنُونَ ، إِلاَّ مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيم.ٍ
“Janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan. (Yaitu) pada hari ketika tidak berguna (lagi) harta dan anak-anak. Kecuali, orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih,” (QS As-Syu’ara: 87-89).
Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa orang yang selamat di akhirat adalah orang yang membawa hati yang bersih. Bersih dari kesyirikan kepada Allah, bersih dari sifat-sifat tercela, serta bersih dari berbagai penyakit hati. Selain itu, hati yang bersih juga merupakan sarana untuk meraih ketenangan dan kelapangan hati.
Hadirin
Jamaah Jumah yang dirahmati Allah,
Ada
tiga kunci atau cara untuk bisa meraih ketenangan dan ketentraman dalam hidup
ini.
Pertama, berdzikir dan
selalu mengingat Allah Swt Dzat yang maha menciptakan. Kapan pun dan di mana
pun. Baik dzikir dengan lisan, dengan hati, maupun dengan keduanya. Baik secara
jahar atau suara keras maupun secara sirr atau suara pelan. Allah Swt
berfirman :
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram,” (QS Ar-Ra’du: 28).
Kunci kedua adalah bertaubat dan berserah diri kepada Allah. Setiap manusia pasti berbuat dosa dan kesalahan. Obatnya adalah bertaubat kepada Allah. Orang yang berdosa kemudian bertaubat ibarat orang yang kotor kemudian mandi. Hal itu harus segera dilakukan, jangan menunggu dosa itu berkarat dan berakibat mengeraskan hati. Setiap kita sudah berbuat lalai atau berbuat dosa, segera akhiri dengan taubat. Setidak-tidaknya dengan istigfar.
Kunci
ketiga adalah selalu menolong sesama. Orang yang selalu menolong
kesulitan orang lain, maka akan ditolong oleh Allah. Siapa saja yang membukakan
kesulitan sesama muslim, maka Allah akan menghilangkan kesulitannya pada hari
Kiamat. Dengan mendapat pertolongan orang lain, hati kita menjadi senang? Maka
itu pula yang dialami orang lain saat ditolong oleh kita. Maka mulai dari
sekarang, perbanyaklah membantu orang lain. Niscaya kita akan mendapat
pertolongan Allah. Rasulullah saw bersabda :
مَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ، كَانَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي حَاجَتِهِ،
وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً، فَرَّجَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَنْهُ بِهَا
كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ .
“Siapa saja yang menolong kebutuhan saudaranya, maka Allah akan menolong kebutuhannya. Siapa saja yang membukakan kesulitan sesama muslim, maka Allah akan membukakan satu kesulitannya pada hari Kiamat.” (HR. Ahmad).
Hadirin
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Dalam kesempatan yang mulia ini, marilah kita selalu berusaha meningkatkan ketakwaan kepada Allah swt, dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Sebab, takwa merupakan sebaik-baiknya bekal dalam menjalani hidup di dunia dan bekal keselamatan menuju akhirat kelak.
Ma’asyiral
Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Pelaksanaan takwa itu tidak hanya ibadah saja, seperti shalat, puasa, zakat dan lainnya. Tetapi harus terwujud dalam keseharian kita, mulai dari cara kita berbicara, bersikap, dan memperlakukan orang lain. Orang Muslim yang bertakwa bukanlah mereka yang hanya rajin beribadah saja, tetapi juga yang kehadirannya membawa ketenangan dan kenyamanan bagi orang lain disekitarnya. Lantas, bagaimana cara kita menjadi muslim yang menenangkan dan tidak meresahkan? Ada beberapa cara yang dapat kita praktikkan dalam kehidupan kita sehari-hari.
Pertama, dengan
senantiasa menjaga lisan agar ucapan-ucapan yang keluar tidak menyakiti orang
lain. Sebab lisan adalah bagian kecil dari anggota tubuh yang memiliki dampak
sangat besar. Dengan lisan, kita bisa menyejukkan dan menenangkan hati orang
lain, tetapi dengan lisan pula kita bisa melukai perasaan mereka, bisa memecah
belah persaudaraan, bahkan menghancurkan rumah tangga. Rasulullah saw bersabda:
اَلْمُسْلِمُ
مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
“Seorang muslim sejati adalah orang yang muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Kedua, senantiasa
berusaha menjadi muslim yang penyayang. Caranya adalah dengan menjadi pribadi
yang mudah memaafkan, ringan tangan untuk menolong, serta peduli terhadap
keadaan orang lain. Sehingga dengan senantiasa melakukan perbuatan mulia
tersebut, kita tidak akan senang melihat orang lain menderita, apalagi menjadi
penyebab penderitaan orang lain. Rasulullah saw. Bersabda :
الرَّاحِمُونَ
يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ! اِرْحَمُوْا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي
السَّمَاءِ
“Orang-orang yang penyayang akan disayang oleh Allah Yang Maha Pengasih! Sayangilah siapa saja yang ada di bumi, niscaya penduduk langit akan menyayangi kalian.” (HR. At-Tirmidzi).
Ketiga, senantiasa
berusaha menahan amarah dan memperbanyak bersabar. Ini sangat penting untuk
kita perhatikan bersama, karena marah dapat menjadi penyebab munculnya
tindakan-tindakan meresahkan. Misalnya, seseorang ketika marah akan mudah
kehilangan kendali, mengucapkan kata-kata kotor, hingga melakukan tindakan yang
akan disesali di kemudian hari. Maka menjadi manusia yang menenangkan berarti
kita harus mampu mengendalikan emosi, menahan amarah, serta menyikapi setiap
persoalan dengan kepala dingin dan penuh kesabaran. Rasulullah saw bersabda:
لَيْسَ
الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ
الْغَضَبِ
“Orang kuat bukanlah mereka yang pandai bergulat, tetapi ia yang mampu menahan dirinya saat marah.” (HR. Bukhari & Muslim).
Ma’asyiral
Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah